Rabu, 11 Januari 2017

Menggenggam Pasir..

Pelajaran hari ini:
"Semakin erat kau menggenggam pasir, semakin banyak pasir yang akan gugur berjatuhan. Sampai akhirnya kau akan menyadari, yang kau genggam hanya debu dan angin."

Selasa, 20 Desember 2016

Sekelumit Duka Anak Koas...



Sudah hampir dua tahun saya mengikuti program profesi kedokteran gigi, atau lebih terdengar familiar dengan kata “Koas’. Program profesi ini adalah program setelah lulus sarjana. Banyak yang bertanya “kuliah di kedokteran lama ya? Berapa tahun? 6 tahun? 7 Tahun”. Iya, saya harus bilang cukup lama atau lebih lama daripada jurusan lainnya. Kalau untuk mendapat gelar sarjana saja, saya kira kuliah di jurusan kedokteran atau jurusan lainnya sama saja. Kurang lebih 3,5 – 4 tahun, rata ratanya. Bedanya hanya jurusan kedokteran ngga hanya sampai disitu saja kalau setelahnya ingin menjadi tenaga profesional atau untuk bisa praktek dan merawat pasien. Kita wajib dan harus menjalani dan menyelesaikan program profesi terlebih dahulu untuk bisa dapat surat izin merawat pasien. Dan itu lamanya ngga bisa diprediksi, mulai dari dua tahun bahkan bisa lebih.
Berbicara soal pasien, sebenarnya sudah lama saya ingin menulis berbagai karakter pasien yang pernah saya temui selama saya koas. Waktu yang ngga bisa dibilang sebentar selama koas membuat saya bertemu beragam tipe pasien dari yang paling kooperatif sampai yang paling menyebalkan.
Beberapa waktu terakhir ini saya (harus) sering berhubungan dengan pasien yang menurut saya cukup (amat) menyebalkan. Kenapa menyebalkan? Karena pertama, perawatan giginya yang cukup complicated (memakan waktu dan uang yang ngga sedikit) dimana pasien ingin perawatan yang gratis – berarti saya yang bayarin. Its okay, pasien yang perawatannya saya bayarin memang bukan satu ini aja. Fakta lain yang banyak orang ngga tahu adalah bahwa koas KG itu harus mengeluarkan uang lebih banyak dibanding mahasiswa lain untuk membayar biaya perawatan pasien. Bingung kan? Yang ngerawat yang bayarin. Tapi memang begitulah keadaannya. Untuk menarik pasien sebanyak dan secepat mungkin, demi memenuhi requirement (perawatan yang harus dilakukan mahasiswa  selama koas) yang berarti demi cepet lulus koas, kita harus membuat strategi yaitu dengan menggratiskan perawatan untuk pasien (kenyataannya yang bayar ke pihak rumah sakit ya kita yang koas). Siapa sih yang ngga mau gratisan? Dan siapa juga yang hari gini masih mau ngasih gratisan? Alhasil semenjak koas rasanya mau belanja ini itu jadi puasa banget karena uangnya akan disisihin buat bayarin pasien.
Kembali ke permasalahan. Tadi yang pertama, ini yang kedua. Di awal perawatan pasien ini cukup kooperatif tapi semakin lama semakin seenaknya. Pasien ngaret dari waktu janjian kunjungan, itu sudah biasa banget. Hal yang sangat lumrah di kalangan anak koas KG. Seenaknya yang saya maksud disini adalah pasien ini yang notabene mahasiswa juga mintanya selalu diantar jemput setiap kali perawatan. Disini mungkin saya sudah bertransformasi jadi tukang ojek juga. Cuma, di satu waktu ada yang membuat saya sangat tidak respect karena kurang etisnya pernyataan pasien satu ini. Di sore hari saat hujan deras melanda Jogjakarta, setengah jam lewat dari jam janjian tiba – tiba hp saya bunyi tanda chat masuk yang isinya: Mba, bisa jemput? Disini hujan deras soalnya hehehe. Let’s think normally, saya disini kemana – mana naiknya motor bukan mobil. Kalau hujan deras dan saya disuruh jemput pasien bukannya itu berarti saya juga akan kehujanan? Ya, masih dengan sabar saya balas bahwa di tempat saya juga hujan dan saya ngga punya mobil untuk jemput biar ngga kehujanan. Mentok - mentoknya ya sama - sama nunggu hujan reda. Setelah itu pasien ngga balas chat lagi. Oke.
Yang ketiga. Masih dengan pasien yang sama, pasien saya janjikan periksa gigi jam 4 sore. Sekitar pukul setengah 4 saya hubungi lagi untuk konfirmasi jadwal dan dijawab pasien: bisa mba, tapi agak telat karena ini masih jalan sama temen. Lalu sekitar pukul setengah 5 pasien tersebut menghubungi saya dan bilang: Mba, aku udah nyampe kos mau mandi dulu. Nanti mba jemput bisa kan? Jederrr! Saya harus mengurut dada (lagi).
Yang terakhir yang menjadi puncak kekesalan adalah ketika sore hari menjelang magrib saya dichat berkali – kali dikarenakan mahkota jaket sementara pasien lepas. Pasien beralasan ingin pulang kampung dan takut dimarahi ayahnya dengan kondisi gigi yang sudah dipreparasi mahkota jaket. (FYI, gigi pasien dengan keadaan yang sudah dipreparasi tidak akan terasa linu karena kondisi pulpa yang non vital) Kebetulan yang sangat sekali, besok harinya jadwal saya penuh dengan diskusi dan ujian klinis sehingga waktu yang kosong hanya setelah magrib. Sehingga saya ambil keputusan untuk mendatangkan pasien tersebut setelah magrib dan untuk biaya pemasangan (sementasi) MJ sementaranya saya bebankan ke pasien karena bahan yang akan digunakan sudah dibeli secara terpisah (tidak masuk dalam inputan mahkota jaket dari rumah sakit lagi). Tahukah kalian respon seperti apa yang saya terima? Semacam kalimat “Mahkota jaketnya kan lepas karena mba kemarin ngasih semennya cuma sedikit? Apa itu jadi tanggungjawab saya kalau lepas? Kenapa saya yang harus bayar? Niat saya diawal kan cuma bantuin mba, kenapa saya malah disuruh bayar?”
Apakah kalimat seperti itu yang sebaiknya saya terima dari pasien yang sudah saya rawat dan saya layani sepenuh hati? Bukan mencari pembelaan dengan mengatakan bahwa saya paling benar. Mungkin saya juga melakukan kesalahan yang tanpa saya sadari membuat orang lain tidak nyaman. Karena tipe pasien seperti ini membuat kita yang ikhlas dari awal berniat untuk sama – sama saling membantu (ya, dia membantu saya untuk memenuhi requirement koas dan saya membantu dia merawat giginya yang memang perlu dirawat) menjadi tidak nyaman untuk sekedar menyelesaikan perawatan karena sudah ada ganjalan di hati.
Saya, sangat antusias untuk mengapresiasi pasien yang bisa menghargai orang lain. Kesehatan kita (termasuk kesehatan gigi) adalah tanggungjawab diri kita masing – masing. Bahkan anak SD pun tahu agar tidak sakit yang perlu mereka lakukan adalah menjaga kesehatan. Bukankah mencegah jauh lebih mudah daripada memperbaiki? Bukankah mencegah jauh lebih murah daripada memperbaiki? Lantas jika sudah rusak, apakah tanggungjawab menjaganya berpindah ke orang lain (dalam hal ini tentu saja dokter)? Yang saya tidak habis pikir, dengan keadaan gigi pasien (hampir seluruh gigi berlubang) tersebut setelah saya edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi pun belum muncul kesadaran pada pasien tersebut. Baiklah, saya masih bisa memaklumi jika keadaran mencegah masih sangat rendah di masyarakat. Namun saya anggap dengan statusnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi tentu saja bisa berpikir lebih cerdas untuk bisa mengetahui apa yang seharusnya dilakukan sekarang setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai keadaan gigi geliginya. Lantas jika kasus seperti diatas terjadi, misalnya mahkota jaket sementara pasien copot setelah dipasang beberapa hari, apakah sepenuhnya menjadi tanggungjawab dokter gigi? Apakah pasien tidak memiliki tanggungjawab untuk berhati – hati dan menjaga giginya yang sudah dirawat?
Untuk urusan membantu, tentu saja saya juga berniat membantu pasien melihat keadaan gigi geliginya yang banyak rusak. Bukan semata – mata memanfaatkan pasien untuk urusan koas saya saja. Jadi dengan alasan pasien yang hanya ingin membantu saya lantas tidak mau kebagian urusan ribet mulai dari biaya hingga transportasi, hmmm kasarnya saya harus bilang pasien lain yang jauh lebih kooperatif dari ini banyak. Masalah biaya bisa saya usahakan, masalah transportasi seletih apapun masih saya usahakan, masalah waktu sesibuk apapun juga masih saya sempatkan, asalkan pasien bisa menghargai satu sama lain. Saya membutuhkan mereka dan mereka juga membutuhkan saya. Apakah sesusah itu menanamkan rasa menghargai orang lain?
Satu hal yang sebenarnya ingin saya tanamkan untuk pasien – pasien tipe ini: Jika ingin segalanya mudah dan murah kuncinya hanya di kalian. Jagalah gigi kalian agar kalian tidak perlu bertemu dengan koas seperti kita, jagalah gigi kalian agar tidak perlu dirawat dengan koas seperti kita. Jika terlanjur sudah bertemu dengan koas seperti kita, hargailah usaha kami untuk menyenangkan hati orangtua kami. Yang membuat kami bisa sabar dan bertahan menghadapi semuanya hanya senyum orangtua di ujung jalan. Maka, jika tidak bisa menghargai kami, hargailah paling tidak orangtua kami dirumah sana.

Selasa, 13 Desember 2016

Come Back!!



Lama sekali saya istirahat menulis di blog. Postingan terakhir saya di tahun 2014. Berarti sudah dua tahun. Yap, dua tahun. Selama dua tahun saya hanya menyimpan tulisan – tulisan saya di file laptop saja. Jadi bukan berarti selama dua tahun saya berhenti menulis. Karena dengan menulis saya bisa meluapkan berbagai emosi yang saya rasakan. (Berdasarkan pengakuan salah seorang teman dekat saya, saya cukup introvert untuk bercerita tentang perasaan dengan orang lain) Menulis merupakan salah satu media untuk saya bisa bercerita. Apapun. Saya bisa menangis tersedu – sedu bahkan tertawa terbahak – bahak ketika sedang menulis.
Kemarin -setelah tulisan terakhir saya di blog- saya cukup sibuk dengan kegiatan persiapan masuk koas. Dan setelah koas saya cukup terlena dengan rutinitas baru sebagai mahasiswa profesi setiap hari, sehingga lebih sering lupa daripada ingat untuk memposting tulisan. Dan lupa yang bertambah parah adalah lupa password untuk account login -_-! Tapi, seperti yang Bapak saya pernah bilang “lupa itu adalah salah satu nikmat Allah SWT” maka saya menikmati ‘lupa’ tersebut. Mungkin saya harus membuat account blog baru lagi. Mungkin tulisan saya lebih baik tidak dipublish saja. Mungkin inilah.. Mungkin itulah..
Hinggaaaa... ketika saya hanya mengamati media sosial untuk mengikuti kabar terbaru dimana saja (kebetulan tv saya untuk kesekian kalinya rusak lagi), saya sangat amat risih dan tidak nyaman dengan banyaknya tulisan (atau curhat?) di kolom status yang berbau provokasi. Well, itu memang hak berpendapat setiap orang. Siapa saja boleh berbicara tidak terkecuali. Namun banyak yang lupa terkadang konteks tulisan yang mereka bicarakan kurang tepat apabila dijadikan konsumsi publik via media sosial. Ah sudahlah, sebenarnya itu bukan urusan saya.
Oke kembali lagi ke tujuan saya di awal untuk menulis blog lagi, saya hanya ingin kembali ‘ berbicara’ apa saja tanpa mengganggu kenyamanan orang lain sesama pengguna media sosial. Setelah cukup dipusingkan dengan mencari cara agar blog saya bisa kembali, akhirnya tercapai juga keinginan saya kembali aktif di blog. Dan ini debut pertama saya setelah vakum dari dunia per-blog-an. Hehehe. Yeeey, finally!!

Selasa, 01 Juli 2014

Curhatan Seseorang..

Seseorang berkata..

Aku hanya diberikan Tuhan satu hati, dan saat ini sudah tersakiti dan dibuat hancur oleh seseorang.
Lalu aku meminta Tuhan memberikanku satu hati lagi, saat satu hatiku tersakiti aku masih punya hati kedua. Hati kedua akan kuberikan untuk dia yang telah menyakitiku.
Ketika hati keduaku disakiti lagi olehnya, aku meminta Tuhan memberikanku satu hati lagi. Hati ketiga tetap kuberikan untuk dia lagi. 
Jika hati ketiga ku disakiti, aku meminta Tuhan memberikanku satu hati lagi, karena hati keempat akan kuberikan lagi untuk dia.
Ya begitu seterusnya, aku akan meminta hati kelima, keenam, ketujuh dan seterusnya. Yang kulakukan juga tetap sama, memberikan dia hatiku lagi dan lagi. Mengumpulkan setiap kepingan hati yang telah rusak dan hancur sebelumnya. Tak peduli bagaimana rasa sakitnya.
Akan begitu seterusnya, sampai Tuhan bosan memberikanku hati baru dan sampai dia juga bosan menyakiti atau menghancurkan hatiku.
Aku takkan bergeming, takkan berubah.

Minggu, 29 Juni 2014

Tentang Datang dan Pergi

Hujan Sekelebat.

Sore itu, di penghujung bulan saat musim kemarau. Tanah di taman tampak gersang, kering. Tanaman mulai memudar. Terik matahari seakan mendukung taman terlihat seperti kota mati, tak tersentuh siapapun.
Lalu, tanpa kode apapun dari alam tiba - tiba hujan turun. Tidak begitu deras, tidak pula hanya gerimis. Hanya cukup untuk membasahi taman. Satu per satu bunga mulai basah, tanah mengeluarkan bau khasnya ketika disentuh hujan. Namun, tak begitu lama hujan berhenti. Matahari kembali tersenyum senang karena dia datang kembali. Tak tampak pelangi, entah kenapa hujan tersebut ternyata belum mampu membentuk pelangi.
Kering, taman kembali kering. Terik, membuat siapapun yang ingin berkunjung jadi tak tertarik.
Hujan hanya datang sekelebat.

**

Ayah Pulang.

"Elia, Ayah pulanggg"
"Ayaaaaaah. Akhirnya Ayah pulang juga. Elia udah kangen sama Ayah."
"Iya sayang, maaf ya Ayah banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Makanya baru bisa pulang sekarang."
"Gapapa Yah, yang penting Ayah pulang. Ayah ga akan pergi - pergi lagi kan?"
"Maaf Elia, Ayah hanya pulang sebentar. Setelah ini Ayah harus pergi lagi."
... hanya dijawab dengan airmata ...

**

Mencari Sinyal.

Lulu berlari kecil ke halaman depan rumah dan berdiri di atas sebuah batu besar. Sambil memegang hp, diangkatnya tangan tinggi seperti sedang menggapai sesuatu. Aisyah yang dari tadi memperhatikan cukup merasa keheranan. Tidak biasanya Lulu seperti itu. Aisyah lalu menghampiri Lulu.
"Kenapa sih Lu?"
"Nyari sinyal." Dijawab singkat oleh Lulu. Kembali dia menggapai gapai mencari sinyal hp dengan mata tak berkedip memandangi layar hp.
Tiba - tiba mata Lulu berbinar ketika dilihatnya muncul dua garis pada lambang sinyal di hp nya. Dengan segera dia menelpon seseorang. Koneksi tersambung, seseorang mengangkat panggilan di ujung telfon.
"Halo" suara seseorang di seberang. Lalu tiba tiba koneksi terputus. Belum sempat dijawab lagi. Sinyal hilang lagi.
Lulu terduduk lemas.
"Tunggu saja terus Lu, siapa tahu nanti sinyalnya datang lagi. Hihihi" goda Aisyah lalu pergi meninggalkan Lulu.

**

Jumat, 20 Juni 2014

Prom Night Dentistry UMY

14 Juni 2014
18.30 wib
Ballrom Grand Aston Hotel Yogyakarta.

Ini pesta kita. Bukan pesta perpisahan layaknya anak kelas 3 SMA yang baru saja lulus ujian nasional. Tapi ini pesta perayaan tentang bagaimana hubungan persahabatan dan kekeluargaan itu terjalin setelah empat tahun terakhir ini bersama hampir setiap hari.

Bersyukur, esensinya hanya untuk bersyukur karena kita telah berjalan sejauh ini kawan. Merangkai dunia yang baru saat kita dengan latar belakang masing - masing bertemu empat tahun lalu. Apapun alasan yang ada di baliknya, yang kita ketahui hanya lah tujuan yang ada di depan kita. Kita adalah orang - orang dengan cita dan tujuan yang sama. Dan saat ini tujuan itu (mungkin) sedikit lagi kita capai.

Gaun cantik dan mewah, jas gagah dan mahal, semua beradu saling mencuri perhatian. Tak apa kawan, karena mencuri perhatian orang - orang hebat itu sebuah kewajaran. Dan disinilah tempat berkumpul orang - orĂ ng hebat.

Hari ini, boleh jadi merupakan salah satu hari tak terlupakan untuk kita semua. 100 orang untuk satu malam berkumpul meninggalkan segala keluh kesah di belakang. Mengukir kenangan indah bersama atas nama 'keluarga'.

Ya, kita keluarga. Keluarga Kedokteran Gigi UMY 2010. Karena itu,, Ingatlah Hari Ini, Kawan. Kita Untuk Selamanya.



They are my princesses (ki-ka: Fika, me, Idha, Sisil, Damel)
(ki-ka: Bagus, Idha, me, Dian, Dimas)


Gank Skills Lab ceria haha hihi
(ki-ka: Ria, mba Ami, Nada, Mamet, Vera, me, Mitha)

 
Everybody was happy!
(ki-ka: Mamet, Mamad, Vera, Nada, me, Mitha) 



(ki-ka: Cynthia, Dian, Poppy, me, Idha)



Ini sedikit cuplikan keseruan dan kebersamaan yang kita buat kawan :)

Senin, 12 Mei 2014

I love this poem..

Tadi sore di sebuah toko buku yang berada pada salah satu mall terbesar di Jogjakarta, sembari menunggu seorang teman saya iseng melihat - lihat rak yang tertera tulisan 'novel indonesia'. Mata saya tertuju pada salah satu novel berjudul 'Jika Hujan Permah Bertanya'. Pada tumpukan kedua novel tersebut saya menemukan buku dengan judul yang sama tetapi dengan kondisi sudah tidak diplastik lagi. Dengan bebas saya bisa sedikit menelusuri bagian dalam buku tersebut. Pada halaman awal saya menemukan sebuah puisi yang menurut saya cukup indah dan mampu menyentuh saya dengan keadaan hati yang sedang saya rasakan saat ini.

Inilah kata yang mampu menari di pikiran saya sore tadi. Untuk mas Robin Wijaya yang telah mampu menulis beberapa kalimat indah tersebut saya ucapkan teimakasih.

Pulanglah malam ini, jika tak ada rumah untuk kembali.
Ke hatiku saja.
Bernyanyilah untukku saat ini, jika tak ada suara sekalipun.
Aku mendengarmu.
Duduklah disini, jika kau lelah dan payah.
Disampingku saja.
Kau boleh menangis seperti apapun yang kau mau, jika kau sedih.
Aku memelukmu.
Tertawalah, saat kau bahagia atas kemenanganmu.
Aku akan melompat senang, bersamamu.
Taruh lenganmu di pundakku, mungkin tak ada orang yang mau menopangmu.
Tapi tidak denganku. Aku mau.
Katakan. Katakan saja apa gundahmu.
Ceritakan. Ceritakan setiap apa yang kau simpan di hatimu.
Aku tak akan mengeluh.
Aku belum merasa lelah.
Aku belum mau meninggalkanmu.
Karena hanya aku, yang paling setia.
Tinggalah disini lebih lama lagi.
Bersamaku saja.
Berbagi kesetiaan.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog