Tampilkan postingan dengan label dentistry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dentistry. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Belajar Menikmati Profesi

Saat yang lain sudah beralih ke vlog, saya masih setia dengan blog. Hahaha. Pertama, saya nggak punya kamera bagus seperti yang para vlogger itu punya atau pakai untuk nge-vlog. Kedua, saya tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera di tempat umum sambil bicara pula. Ketiga, saya tidak terlalu berambisi untuk eksis dan jadi pusat perhatian banyak orang. Menulis di blog pun, bukan karena berharap banyak orang bisa membaca tulisan saya lalu saya bisa menjadi blogger terkenal. Menulis di blog, murni karena keinginan saya untuk menyalurkan emosi saya tentang berbagai cerita, pikiran atau isi hati. Agar suatu hari ketika saya membaca kembali tulisan – tulisan saya di blog, saya masih bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah saya lalui di hari – hari sebelumnya.
            Seperti kali ini, saya ingin blog ini menjadi wahana pengingat untuk masa yang akan datang bahwa saya pernah tidak sengaja terlibat dalam kampanye politik dengan kedok Baksos. Hahaha. Tolong digarisbawahi, TIDAK SENGAJA, agar nanti saya tidak malu pada diri sendiri.
            Beberapa hari yang lalu, seorang teman sejawat (TS) menghubungi saya dan menawarkan saya untuk turut serta dalam kegiatan baksos. Acaranya memang pada akhir minggu, tapi masih dalam hari kerja saya di Puskesmas dan diluar kota pula walaupun hanya kota sebelah – Sungailiat. Berhubung sudah tiga bulan gaji saya bekerja di Puskesmas belum cair juga, dan isi dompet sudah meraung – raung, saya putuskan untuk menerima tawaran TS tersebut. Demi menambah penghasilan tambahan untuk sementara waktu, dan saya pikir saya bekerja sesuai dengan profesi saya. Saya bekerja untuk melayani dan membantu masyarakat berdasarkan ilmu yang saya miliki dan pelajari. Lalu tidak ada salahnya, kan?
Namun ternyata pada hari H begitu hampir tiba di lokasi acara, kami (saya dan dua TS dokter gigi lainnya) baru tahu kalau baksos tersebut merupakan acara partai dalam rangka kampanye salah satu caleg DPR RI. Dari dulu, saya anti dengan politik. Walaupun Bapak saya pernah terseret arus politik, atau teman – teman saya juga berkecimpung di dunia politik, tetapi saya enggan berurusan dengan hal semacam itu. Meskipun porsi saya hanya sebatas anggota tim medis yang bertugas dan membantu mendukung jalannya kegiatan saat acara kampanye, tetapi sebuah tiba – tiba ketika wajah saya didokumentasikan oleh panitia tim sukses bersama si Bapak Caleg ini membuat saya rasanya harus menutup muka.
            Tapi baiklah, fokus kali ini bukan pada kampanye politiknya. Tetapi pada acara baksosnya. Saya bekerja sebagai tim medis yang melayani masyarakat, bukan tim sukses suatu partai politik.
            Hari H tanggal 9 Maret 2019, acara dimulai pukul delapan pagi, jadi pada pukul tujuh saya sudah berangkat dari rumah. Titik kumpul awal berada pada Klinik Alfatih Pangkalpinang, setelah semua tim berkumpul kita berangkat menggunakan mobil ke lokasi acara. Kebetulan khusus tim dokter gigi diangkut menggunakan satu mobil, tentu dengan supir yang sudah disiapkan dari panitia. Berasa spesial ya diperlakukan seperti itu, sebelum negara api menyerang dan kita berakhir kelelahan >.<
Tiba di lokasi sudah banyak orang yang datang, mulai dari panitia hingga peserta baksos. Kami langsung menuju tempat bekerja kami di bagian pelayanan pemeriksaan gigi untuk membantu mempersiapkan alat dan bahan. Disana sudah ada empat dokter gigi lainnya yang ternyata didatangkan dari Jakarta. Saya tidak tahu pertimbangannya apa mendatangkan dokter gigi dari daerah lain ketika sebenarnya di daerah sendiri masih banyak dokter gigi yang dapat diajak bekerjasama untuk kegiatan semacam ini.
Satu per satu pasien datang. Kami terbagi menjadi dua tim; tiga orang dokter gigi melayani penambalan, tiga orang dokter gigi melayani pencabutan dan satu orang dokter gigi melakukan screening awal pasien. Saya dan dua TS dari Pangkalpinang memilih tim tambal gigi. Saat itu kami berpikir akan banyak datang pasien yang ingin mencabut giginya. Beberapa bulan bekerja di Puskesmas (kebetulan dua orang TS saya yang lainnya juga bekerja di Puskesmas) sedikit banyak membuat kami tahu kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat disini. Tapi ternyataaa, kami salah! Pasien yang datang hari itu lebih banyak ingin menambal gigi daripada mencabut giginya. Sehingga kami sebenarnya cukup kewalahan dan kecapaian melayani pasien yang antri cukup banyak hingga pukul tiga sore. Itupun, jika pendaftaran pasien tidak kami minta untuk dihentikan mungkin masih akan banyak antri pasien. Bayangkan, dari pukul delapan pagi hingga tiga sore kami hanya punya waktu istirahat ketika makan siang dan sholat. Itu pun bergantian.
            Jangan tanyakan bagaimana rasanya tubuh kami. Empat pasien di puskesmas saja sudah lumayan menguras tenaga, apalagi baksos kali ini yang total keseluruhan pasien gigi ada sekitar 70an dengan tujuh orang dokter gigi. Mandi keringat di ruangan non ac yang cukup ramai orang dengan cuaca hari itu yang cerah bersinar. Terlalu banyak duduk dan menunduk karena kursi pasien yang terlalu rendah sedangkan kursi duduk kami agak tinggi dan keras serta kondisi headlamp yang lebih banyak tidak berguna daripada membantu membuat kami merasa pegal – pegal di lengan, pinggang hingga betis. Dan penambalan, membutuhkan waktu hampir dua bahkan tiga kali lipat daripada cabut gigi. Alhasil, keesokan harinya kondisi tubuh saya menurun dan jatuh sakit. Hahahaha, saya memang payah.
            Dari acara baksos pertama yang saya ikuti setelah pindah bekerja di Bangka, saya dapat menganalisa satu hal. Karakter masyarakat disini adalah masyarakat dengan ability to pay tinggi namun willingness to pay rendah. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tingkat pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan gigi mereka rendah, karena buktinya pada acara baksos seperti ini yang tidak dipungut biaya, mereka berbondong – bondong datang meminta gigi mereka dirawat. Namun akan berbeda situasi jika mereka datang sendiri ke dokter gigi atau puskesmas, mereka akan lebih memilih untuk mencabut gigi mereka hanya karena satu alasan utama: tarif menambal gigi lebih tinggi daripada tarif mencabut gigi.
            Saya sedikit gemas dan kesal ketika merawat seorang pasien di acara baksos kemarin. Pasien saya adalah gadis muda yang memiliki wajah cukup mulus dan cantik. Dia datang ingin meminta dua giginya ditambal, yang saya tahu kondisi giginya belum berlubang dan baru ada bayangan kehitaman. Bukan, bukan karena dia cantik atau giginya yang tidak berlubang ingin ditambal yang membuat saya kesal. Tapi karena kondisi rongga mulutnya yang sangat kotor. Karang gigi dimana – mana dan sudah cukup tebal. Yang saya herankan adalah pasien tersebut belum pernah ke dokter gigi sama sekali sebelumnya untuk memeriksakan kondisi tersebut. Ketika saya menjelaskan mengenai kondisi giginya yang tidak berlubang namun akan ditambal, pasien paham bahwa tindakan tersebut adalah tindakan pencegahan sebelum giginya rusak lebih parah. Lalu ketika saya menjelaskan bahwa kondisi terburuk dan tindakan utama yang seharusnya dilakukan terkait rongga mulutnya adalah melakukan pembersihan karang gigi (yang sayangnya tidak dilayani dalam baksos tersebut), respon pertama pasien saat itu adalah pertanyaan “Mahal nggak, Dok?”. Disitulah kekesalan saya muncul.
            Kenapa biaya atau harga selalu jadi hambatan utama? Bukan karena sok kaya, atau karena saya berada pada posisi sebagai dokter. Tapi bukankah ada istilah ‘Sehat itu mahal’? Jika mampu menyisihkan uang untuk membeli alat make-up atau melakukan perawatan wajah, seharusnya juga mampu menyisihkan uang untuk melakukan pengobatan atau memeriksakan kesehatan giginya. Setidaknya melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi hanya butuh enam bulan sekali jika dibandingkan perawatan wajah semacam facial atau perawatan rambut seperti creambath yang biasanya dilakukan rutin sebulan sekali. Mengapa kesehatan gigi dan mulut diabaikan atau dianggap bukan hal penting? Padahal semua tahu, menjaga gigi dan mulut juga termasuk dalam menjaga kesehatan.
            Menjadi PR besar bagi saya dan TS lainnya untuk memperbaiki pola pikiran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tubuh dari kepala sampai kaki adalah satu keseluruhan sistem. Maka tak ada satu bagian atau organ tubuh yang jauh lebih penting daripada bagian atau organ tubuh lainnya. Semua sama pentingnya untuk dijaga keutuhan dan kesehatannya, tak terkecuali gigi dan mulut. Karena semua memiliki fungsi dan cara kerja masing – masing.
            Selalu ada kelegaan dalam hati saya setiap kali saya selesai memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Apalagi jika pasien atau masyarakat mengangguk – anggukkan kepala setiap saya selesai bicara. Rasanya ada hal kecil berguna yang dapat saya bagikan untuk banyak orang terutama masyarakat. Setidaknya jika mereka belum paham, kini mereka tahu. Bukankah sebelum memahami kita harus mengetahui terlebih dahulu? Kondisi masyarakat di tempat tinggal saya dengan mayoritas latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di kota besar. Hal itu menjadi tantangan untuk diri saya sendiri dalam mengedukasi dan meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan bagian tubuh lainnya khususnya gigi dan mulut. Harapan saya dahulu bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat kecil kembali mengudara. Paling tidak jika saya belum mampu memberikan apa – apa, saya mulai berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya.
            Jangan, jangan sembunyikan kemampuan dan pengetahuanmu untuk mereka yang belum atau tidak tahu. Semakin banyak yang kita bagi, semakin banyak pula yang kita dapatkan terutama tentang ilmu. Dan sesuai sumpah profesi yang pernah saya ikrarkan, saya akan terus membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan. Insyaallah.

Note:
Hanya ini satu satunya foto yang saya punya dari acara kemarin. Kursi yang saya gunakan untuk memeriksa dan merawat pasien. Serba apa adanya, tapi ternyata cukup menyiksa raga. 😌😌

Minggu, 06 Mei 2018

My Hippocratic Oath


Long time no poooost. Udah berapa bulan ya ngga nge-blog. Kemarin, -lebih tepatnya dari akhir tahun kemarin- saya fokus nyelesain sekolah (Koas). Bisa dilihat dari tough life nya Koas di salah satu tulisan di blog saya beberapa waktu yang lalu. Iya, dari Desember sudah ngga Koas lagi alias ngga ngerjain pasien lagi dan hanya persiapan ujian akhir yang ada beberapa tahap. Nanti akan saya ceritakan sedikit tahapannya ya, walaupun buat pembaca mungkin ngga penting hehehe.
Alhamdulillaaaah, setelah beberapa waktu vakum dari dunia per-blog-an (oke maaf, rada alay) akhirnya sekarang bisa ngatur waktu free buat nulis di sela – sela waktu ngga kerja. And finally, kerja juga sekarang. Ngga jadi mahasiswa lagi. Bisa beli keperluan pake uang gaji, one of my important points. Karena jujur yaa, selama ini rasanya kayak beban banget beli ini itu yang dimau tapi masih pake uang orangtua. Walaupun ngga selalu, dan kadang nabung atau nyari uang sendiri dengan jualan ini itu, pokoknya gimana caranya biar minta uang ke orangtua itu dijadikan pilihan terakhir. Tapi berbeda rasanya ketika saya beli keperluan atau memenuhi kebutuhan pake uang hasil keringat sendiri.
Oke, perjalanan saya beberapa bulan terakhir ini akan saya ceritakan dari sini....


Awal bulan Desember sudah mulai dibuka verifikasi ujian akhir untuk mahasiswa profesi KG. Untuk bisa ikut ujian akhir kita harus verifikasi berkas yang antara lain seluruh laporan kasus, nilai – nilai ujian harian, nilai – nilai diskusi, dan catatan follow up seluruh requirement pasien selama koas. Lengkap. Seluruh modul. Jadi, tiap hari kerjaannya ya kudu nyelesain keperluan dan pritilan buat verifikasi tutup modul akhir. Setelah selesai verifikasi, barulah diumumkan nama – nama mahasiswa yang bisa ikut ujian Komprehensif yang diadakan oleh Fakultas masing – masing universitas. Ujian komprehensif ini adalah ujian awal menuju ujian nasional yang diadakan Kementerian. Untuk ujian komprehensif, pada angkatan kelulusan saya diadakan sistem baru yaitu dengan mempresentasikan dua kasus terpilih dari pasien Komprehensif selama Koas. Ngga bisa dibilang mudah, walaupun di sistem baru kita ngga perlu lagi cari pasien cabut atau tambal untuk ujian, karena dengan sistem baru kasusnya jadi lebih luas tergantung dosen mau pilih kasus mana yang mereka anggap “menarik dan menantang”. Singkat cerita (langsung aja ya biar ngga kepanjangan), saya lulus ujian Komprehensif tahap awal dan bersiap menuju ujian yang sebenarnya. Hahaha.

Gini nih suasana ujian Komprehensifnya.. 


Ujian Kompetensi Nasional (UKMP2DG) diadakan pada akhir Januari. Sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan tersebut, kami yang berhasil lolos untuk ujian kompetensi diwajibkan mengikuti mentoring dan persiapan dari dosen setiap hari. Berasa throwback SMA banget ikut jam tambahan sebelum UN. Dari pagi jam 8 sudah mentoring nonstop sampai jam 4 sore, kadang sampai magrib juga, trus dilanjutin belajar bareng bahas contoh – contoh soal sama temen – temen sampai jam 10-11 malam, pulang ke kos masih baca – baca materi lagi sebelum tidur. Begitu terus setiap hari selama hampir satu bulan. Badan udah kayak zombie asa melayang gitu, tapi tetep dipaksain ngga boleh jatuh sakit sampai paling ngga selesai ujian kompetensi. Ujian diadakan selama dua hari, yaitu hari pertama ujian teori berbasis komputer (CBT) , dan hari kedua ujian OSCE (praktek atau simulasi tindakan). Sehari sebelum hari H ujian OSCE atau ujian hari terakhir, tidur cuma paling setengah jam. Semalaman bener – bener melek buat pelajarin materi yang seabrek – abrek, lalu berlanjut ujian pada pagi harinya jam 8. Sehingga selesai ujian baru tepar, tidur di ruang isolasi ujian sampai ngga sadar waktu. Hahaha. Lumayan lah bisa istirahat sembari menunggu giliran kloter yang lain selesai ujian, karena kita ngga dibolehkan pulang sebelum semua peserta selesai ujian. Dan peserta ujian dibagi men jadi 3 kloter, masing – masing kloter punya waktu 120 menit. 
Belajar sambil didoain dan diceramahin ala LQ, ujung - ujungnya nangis 😢

Fyi, OSCE adalah ujian paling menyeramkan untuk kami, gimana ngga? Pada ujian OSCE kita (masing – masing peserta ujian) akan berhadapan dengan penguji satu orang dengan jarak yang hanya dibatasi meja penguji, harus menjelaskan diagnosa dan mensimulasikan tahapan – tahapan pekerjaan dengan kasus yang kita ketahui saat itu juga hanya dalam waktu 10 menit secara sempurna. Ya, sempurna. Karena para penguji sudah memiliki kunci jawaban sendiri untuk dicocokkan dengan jawaban kita. Kalau diagnosa yang kita jelaskan salah dan tahapan perawatan berbeda atau tidak sesuai urutan dengan kunci jawaban, habislah kita dengan nilai NOL. Dan lagi kita harus melewati 10 stase dalam ujian OSCE, artinya ada 10 kasus berbeda yang harus dijelaskan setiap 10 menit sekali. Could you imagine? 120 menit (10 stase ujian dan 2 stase selama masing – masing 10 menit adalah stase istirahat) di dalam ruang ujian hanya dengan penguji yang hanya mendengarkan jawaban kita dan tidak boleh bersuara, adalah 120 menit yang berasa 120 jam!

Ini ujian CBT hari pertama UKMP2DG
Dan ketegangan saat OSCE keliatan banget dr CCTV. Hayo tebak saya yang mana? hahaha.



Pengumuman ujian kompetensi baru diketahui pada pertengahan bulan Februari atau kurang lebih 2-3 minggu setelah ujian diadakan dan diumumkan secara serempak seluruh Indonesia. Bayangin dong ngga bisa tidurnya nungguin pengumuman. Oh ya, peserta ujian yang tidak lulus harus mengulang ujian pada gelombang berikutnya yaitu tiga bulan yang akan datang, karena ujian kompetensi diadakan setiap tiga bulan sekali. Jadi ngga ada yang namanya remed. Dan itu semakin bikin ngga bisa tidur. Tapiii, alhamdulillah sekali saat hari pengumuman nama saya dinyatakan LULUS.
Setelah pengumuman lulus, saya disibukkan dengan persiapan yudisium dan sumpah profesi. Ah akhirnya, bisa disumpah juga. Setiap kali lihat temen sumpah selalu bertanya di dalam hati, kapan ya aku bisa sumpah juga? Tapi ternyata Allah SWT baik sekali, beliau menjawab semua doa pada waktu yang tepat. Menuju hari sumpah, pusingnyaaa MasyaAllah. Semua persiapan sumpah kita sendiri yang atur dengan waktu yang singkat, ngga sampai satu bulan. Mulai dari booking gedung, katering, dokumentasi, nyiapin kostum, dekor, undangan, souvenir sampai menghubungi pengisi acara. Udah kayak mau nikahan aja. Besok – besok kayaknya bisa bikin EO/WO sendiri deh. Setiap hari bolak – balik ketemu dan ngubungin vendor, memastikan yang mereka siapkan sesuai dengan yang kita inginkan. Di samping itu kita juga masih harus menyelipkan waktu untuk mengurus keperluan yudisium profesi yang hanya berjarak ngga sampai 2 minggu dari hari sumpah dokternya.
Daaaan hari sumpah pun tiba, 7 Maret 2018. Didampingi kedua orangtua dan orang – orang terdekat kami tentunya, kami bisa mengucapkan sumpah profesi dokter gigi. Terharunyaaa luar biasa, sampai meneteskan airmata. Sangat khidmat dan sakral. Bukan main, tujuh tahun lebih berjuang di bidang yang saya pilih ini, melewati segala suka duka terbayar dengan bahagia luar biasa ketika bisa bersumpah untuk mengemban amanah baru di hadapan dosen dan orang – orang tercinta. Moment yang tidak terlupakan seumur hidup!!


Deg degan parah sih ini..

Dan inilah moment moment yang terekam bersama mereka yang saya cintai....
 






And here, I am.

Rabu, 08 November 2017

Dilarang Sakit.. Dilarang Menyerah..



Kalimat yang sering saya dengar akhir – akhir ini di lingkungan ‘lengkung AMC’ –daerah kekuasaan mahasiswa profesi tingkat akhir di AMC karena kita udah hampir ngga pernah masuk bangsal lagi– adalah “DILARANG SAKIT!” dan “DILARANG MENYERAH!”.
Berangkat pagi disaat pegawai pun belum datang (kadang jam tujuh pagi udah nangkring di lengkung) pulang sore kadang malam, dari yang wajah masih segar sampai wajah sudah kucel, lari kesana kesini mengejar dosen, revisi laporan bolak balik ke fotocopyan, menu makan tiap hari di kantin sama, plus bonus pulang kehujanan karena Jogja belakangan ini sering hujan deras dan awet, kita tetap dilarang keras untuk jatuh sakit disaat – saat seperti ini. Pemandangan ketiduran di lengkung, laptop jejeran kayak costumer service, rebutan DOPS buat minta nilai, misuh – misuh saat ditolak ujian atau diskusi lagi dengan dosen, dan heboh ketika lihat dosen yang lagi dicari tiba – tiba jalan santai di bangsal udah jadi makanan sehari – hari. Terkadang kita saling curhat sampai pengen nangis, mau lulus kok gini amat ya, tapi selaluu aja ada yang nyemangatin dengan teriak keras “Jangan nyerah sih, dikit lagi”. Atau kalau ada yang mulai bilang “Aku udah capek ni kok ngga kelar – kelar ya?” selalu aja ada yang bilang “Ngga boleh capek, ngga boleh sakit. Mau lulus kapan klo dikit – dikit capek, dikit – dikit sakit?” Saling gantian menyemangati, karena kita semua tahu kondisi kita sama. Terlebih kita semua tahu tujuan kita saat ini sama, LULUS SECEPATNYA.
Saya, sudah dua minggu lebih ini batuk ngga sembuh – sembuh. Kalau pulang kehujanan, batuknya semakin menjadi – jadi, ditambah bersin – bersin pula. Tapi kalau sudah berada di lingkungan lengkung dengan ‘teman – teman seperjuangan’ yang orangnya setiap hari itu – itu aja, jadi lupa kalau saya sakit dan seharusnya banyak istirahat. Minum obat tetap jalan, tapi revisian dan ujian diatas segala – galanya. Pulang ke kost langsung tepar, dan baru terasa lelah selelah lelahnya. Ingin tidur yang panjang, tapi setiap mau tidur kepikiran laporan lagi laporan lagi ujung – ujungnya ngga bisa tidur dan yaa begitulah setiap hari. Aturan nomor satu tetap; DILARANG SAKIT.
Kemarin saya mendengar sebuah lagu baru dari salah satu grup band favorit saya, Noah, judulnya Jalani Mimpi. Entah karena memang saya orangnya hiperbola, baperan, atau memang saya sedang dalam fase sensitif, liriknya yang sebenarnya biasa aja bisa bikin saya menangis ngga berhenti.  
Teruslah kau mencari.. Waktu akan selalu mengobati.. Temukan semua yang terhenti dalam hidupmu.. Tak perlu kau sesali.. Hidup kan membuatmu memahami.. Coba untuk tetap berdiri jalani mimpi..
Biasa aja kan? But I felt complicated. Di tengah – tengah masa berjuang seperti ini, saya ingat kembali tujuan saya disini untuk memberikan kebanggan ke orang – orang yang menyayangi saya terutama kedua orangtua saya. Sesulit apapun perjuangan saya, tentu tidak sebanding dengan perjuangan yang sudah mereka lakukan agar saya bisa tetap berdiri. At that point, down banget dan kadang ngerasa kecewa sama diri sendiri. Kenapa untuk menjalankan kewajiban yang seperti ini aja saya ngerasa berat dan sering mengeluh? Kenapa usaha saya ngga sebesar apa yang sudah orang – orang terdekat saya harapkan kepada saya? Tapi saya sadar, mau kecewa mau nangis pun kalau semua ngga dilanjutkan dan diselesaikan dengan baik ya ngga akan ada gunanya. Jadi aturan nomor dua; DILARANG MENYERAH itu memang manjur banget untuk menjaga semangat di saat seperti ini.
Sedikit lagi. Bertahan sedikit lagi. Untuk mereka; kedua orangtua, adik dan pasangan saya yang selalu berada di belakang saya mendorong saya untuk terus berjalan meraih mimpi. Sedikit lagi. Dan akan saya bayar semua yang sudah mereka berikan untuk saya selama ini. Saya tidak akan sakit dan tidak akan menyerah.

Selasa, 20 Desember 2016

Sekelumit Duka Anak Koas...



Sudah hampir dua tahun saya mengikuti program profesi kedokteran gigi, atau lebih terdengar familiar dengan kata “Koas’. Program profesi ini adalah program setelah lulus sarjana. Banyak yang bertanya “kuliah di kedokteran lama ya? Berapa tahun? 6 tahun? 7 Tahun”. Iya, saya harus bilang cukup lama atau lebih lama daripada jurusan lainnya. Kalau untuk mendapat gelar sarjana saja, saya kira kuliah di jurusan kedokteran atau jurusan lainnya sama saja. Kurang lebih 3,5 – 4 tahun, rata ratanya. Bedanya hanya jurusan kedokteran ngga hanya sampai disitu saja kalau setelahnya ingin menjadi tenaga profesional atau untuk bisa praktek dan merawat pasien. Kita wajib dan harus menjalani dan menyelesaikan program profesi terlebih dahulu untuk bisa dapat surat izin merawat pasien. Dan itu lamanya ngga bisa diprediksi, mulai dari dua tahun bahkan bisa lebih.
Berbicara soal pasien, sebenarnya sudah lama saya ingin menulis berbagai karakter pasien yang pernah saya temui selama saya koas. Waktu yang ngga bisa dibilang sebentar selama koas membuat saya bertemu beragam tipe pasien dari yang paling kooperatif sampai yang paling menyebalkan.
Beberapa waktu terakhir ini saya (harus) sering berhubungan dengan pasien yang menurut saya cukup (amat) menyebalkan. Kenapa menyebalkan? Karena pertama, perawatan giginya yang cukup complicated (memakan waktu dan uang yang ngga sedikit) dimana pasien ingin perawatan yang gratis – berarti saya yang bayarin. Its okay, pasien yang perawatannya saya bayarin memang bukan satu ini aja. Fakta lain yang banyak orang ngga tahu adalah bahwa koas KG itu harus mengeluarkan uang lebih banyak dibanding mahasiswa lain untuk membayar biaya perawatan pasien. Bingung kan? Yang ngerawat yang bayarin. Tapi memang begitulah keadaannya. Untuk menarik pasien sebanyak dan secepat mungkin, demi memenuhi requirement (perawatan yang harus dilakukan mahasiswa  selama koas) yang berarti demi cepet lulus koas, kita harus membuat strategi yaitu dengan menggratiskan perawatan untuk pasien (kenyataannya yang bayar ke pihak rumah sakit ya kita yang koas). Siapa sih yang ngga mau gratisan? Dan siapa juga yang hari gini masih mau ngasih gratisan? Alhasil semenjak koas rasanya mau belanja ini itu jadi puasa banget karena uangnya akan disisihin buat bayarin pasien.
Kembali ke permasalahan. Tadi yang pertama, ini yang kedua. Di awal perawatan pasien ini cukup kooperatif tapi semakin lama semakin seenaknya. Pasien ngaret dari waktu janjian kunjungan, itu sudah biasa banget. Hal yang sangat lumrah di kalangan anak koas KG. Seenaknya yang saya maksud disini adalah pasien ini yang notabene mahasiswa juga mintanya selalu diantar jemput setiap kali perawatan. Disini mungkin saya sudah bertransformasi jadi tukang ojek juga. Cuma, di satu waktu ada yang membuat saya sangat tidak respect karena kurang etisnya pernyataan pasien satu ini. Di sore hari saat hujan deras melanda Jogjakarta, setengah jam lewat dari jam janjian tiba – tiba hp saya bunyi tanda chat masuk yang isinya: Mba, bisa jemput? Disini hujan deras soalnya hehehe. Let’s think normally, saya disini kemana – mana naiknya motor bukan mobil. Kalau hujan deras dan saya disuruh jemput pasien bukannya itu berarti saya juga akan kehujanan? Ya, masih dengan sabar saya balas bahwa di tempat saya juga hujan dan saya ngga punya mobil untuk jemput biar ngga kehujanan. Mentok - mentoknya ya sama - sama nunggu hujan reda. Setelah itu pasien ngga balas chat lagi. Oke.
Yang ketiga. Masih dengan pasien yang sama, pasien saya janjikan periksa gigi jam 4 sore. Sekitar pukul setengah 4 saya hubungi lagi untuk konfirmasi jadwal dan dijawab pasien: bisa mba, tapi agak telat karena ini masih jalan sama temen. Lalu sekitar pukul setengah 5 pasien tersebut menghubungi saya dan bilang: Mba, aku udah nyampe kos mau mandi dulu. Nanti mba jemput bisa kan? Jederrr! Saya harus mengurut dada (lagi).
Yang terakhir yang menjadi puncak kekesalan adalah ketika sore hari menjelang magrib saya dichat berkali – kali dikarenakan mahkota jaket sementara pasien lepas. Pasien beralasan ingin pulang kampung dan takut dimarahi ayahnya dengan kondisi gigi yang sudah dipreparasi mahkota jaket. (FYI, gigi pasien dengan keadaan yang sudah dipreparasi tidak akan terasa linu karena kondisi pulpa yang non vital) Kebetulan yang sangat sekali, besok harinya jadwal saya penuh dengan diskusi dan ujian klinis sehingga waktu yang kosong hanya setelah magrib. Sehingga saya ambil keputusan untuk mendatangkan pasien tersebut setelah magrib dan untuk biaya pemasangan (sementasi) MJ sementaranya saya bebankan ke pasien karena bahan yang akan digunakan sudah dibeli secara terpisah (tidak masuk dalam inputan mahkota jaket dari rumah sakit lagi). Tahukah kalian respon seperti apa yang saya terima? Semacam kalimat “Mahkota jaketnya kan lepas karena mba kemarin ngasih semennya cuma sedikit? Apa itu jadi tanggungjawab saya kalau lepas? Kenapa saya yang harus bayar? Niat saya diawal kan cuma bantuin mba, kenapa saya malah disuruh bayar?”
Apakah kalimat seperti itu yang sebaiknya saya terima dari pasien yang sudah saya rawat dan saya layani sepenuh hati? Bukan mencari pembelaan dengan mengatakan bahwa saya paling benar. Mungkin saya juga melakukan kesalahan yang tanpa saya sadari membuat orang lain tidak nyaman. Karena tipe pasien seperti ini membuat kita yang ikhlas dari awal berniat untuk sama – sama saling membantu (ya, dia membantu saya untuk memenuhi requirement koas dan saya membantu dia merawat giginya yang memang perlu dirawat) menjadi tidak nyaman untuk sekedar menyelesaikan perawatan karena sudah ada ganjalan di hati.
Saya, sangat antusias untuk mengapresiasi pasien yang bisa menghargai orang lain. Kesehatan kita (termasuk kesehatan gigi) adalah tanggungjawab diri kita masing – masing. Bahkan anak SD pun tahu agar tidak sakit yang perlu mereka lakukan adalah menjaga kesehatan. Bukankah mencegah jauh lebih mudah daripada memperbaiki? Bukankah mencegah jauh lebih murah daripada memperbaiki? Lantas jika sudah rusak, apakah tanggungjawab menjaganya berpindah ke orang lain (dalam hal ini tentu saja dokter)? Yang saya tidak habis pikir, dengan keadaan gigi pasien (hampir seluruh gigi berlubang) tersebut setelah saya edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi pun belum muncul kesadaran pada pasien tersebut. Baiklah, saya masih bisa memaklumi jika keadaran mencegah masih sangat rendah di masyarakat. Namun saya anggap dengan statusnya sebagai mahasiswa perguruan tinggi tentu saja bisa berpikir lebih cerdas untuk bisa mengetahui apa yang seharusnya dilakukan sekarang setelah saya jelaskan panjang lebar mengenai keadaan gigi geliginya. Lantas jika kasus seperti diatas terjadi, misalnya mahkota jaket sementara pasien copot setelah dipasang beberapa hari, apakah sepenuhnya menjadi tanggungjawab dokter gigi? Apakah pasien tidak memiliki tanggungjawab untuk berhati – hati dan menjaga giginya yang sudah dirawat?
Untuk urusan membantu, tentu saja saya juga berniat membantu pasien melihat keadaan gigi geliginya yang banyak rusak. Bukan semata – mata memanfaatkan pasien untuk urusan koas saya saja. Jadi dengan alasan pasien yang hanya ingin membantu saya lantas tidak mau kebagian urusan ribet mulai dari biaya hingga transportasi, hmmm kasarnya saya harus bilang pasien lain yang jauh lebih kooperatif dari ini banyak. Masalah biaya bisa saya usahakan, masalah transportasi seletih apapun masih saya usahakan, masalah waktu sesibuk apapun juga masih saya sempatkan, asalkan pasien bisa menghargai satu sama lain. Saya membutuhkan mereka dan mereka juga membutuhkan saya. Apakah sesusah itu menanamkan rasa menghargai orang lain?
Satu hal yang sebenarnya ingin saya tanamkan untuk pasien – pasien tipe ini: Jika ingin segalanya mudah dan murah kuncinya hanya di kalian. Jagalah gigi kalian agar kalian tidak perlu bertemu dengan koas seperti kita, jagalah gigi kalian agar tidak perlu dirawat dengan koas seperti kita. Jika terlanjur sudah bertemu dengan koas seperti kita, hargailah usaha kami untuk menyenangkan hati orangtua kami. Yang membuat kami bisa sabar dan bertahan menghadapi semuanya hanya senyum orangtua di ujung jalan. Maka, jika tidak bisa menghargai kami, hargailah paling tidak orangtua kami dirumah sana.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog