Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Mei 2018

Yang terluka.. Bom Surabaya 2018

Indonesia berduka. Teror bom melanda kota Surabaya beberapa hari terakhir. Seluruh televisi dan media berita online dipenuhi kabar duka akibat aksi teror bom bunuh diri ini. Dari sekian banyak berita mengenai terorisme yang terjadi di Surabaya beberapa hari terakhir, ada satu berita yang ntah mengapa menjadi yang paling memilukan bagi saya. Nanti akan saya bahas.
Tentu semua tahu berita mengenai teror bom yang meledak di tiga gereja yang ada di Surabaya. Berita ini viral dimana - mana. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Seluruh media membahas hal yang sama. Seluruh rakyat memasang tagar yang sama: #PrayforSurabaya #lawanterorisme #kamitidaktakut. Pelaku melibatkan seluruh anggota keluarganya, termasuk anak mereka yang masih kecil dan belum mengerti apa - apa.
Kemarin, berita mengenai salah satu korban bernama Bayu (seorang petugas keamanan gereja) yang menjadi korban martir di salah satu gereja lokasi pengeboman mencuat. Semua orang berduka. Semua orang menaruh hormat kepada sikap heroik Almarhum yang rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan banyak jemaat gereja. Lalu, profil almarhum diulas. Almarhum meninggalkan dua orang anak yang masih balita. Sedihnya luar biasa, mengenai bagaimana anak sekecil itu ditinggalkan ayahnya yang menjadi korban teror bom. Sedih membayangkan bagaimana anak sekecil itu harus tumbuh tanpa ayah, dan harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menjadi orang yang mengorbankan hidupnya untuk berjuang melindungi saudara - saudaranya yang lain. Sedih memikirkan bagaimana anak sekecil itu kelak tumbuh dewasa dengan latar belakang masa lalu yang pahit seperti ini. Meskipun semua orang mengatakan 'Nak, suatu saat kamu akan bangga mengatakan Ayahmu di Surga karena menjadi martir di gereja'.
Hari ini, pengeboman kembali terjadi. Kali ini bukan di gereja, namun di kantor polisi. Masih dengan skenario yang sama. Pelaku mengikutsertakan keluarga dalam melakukan aksi keji ini, termasuk anak anak mereka yang masih belum mengerti. Lalu, sebuah berita dan video mencuat lagi. Bukan, kali ini bukan tentang sosok pemberani yang mengorbankan hidup mereka. Tapi tentang bagaimana Allah SWT melindungi seorang gadis kecil anak pelaku teror bom itu sendiri. Video yang tersebar memperlihatkan seorang anak perempuan kecil yang selamat dari ledakan bom. Dengan sedikit kebingungan dan kesakitan anak tersebut berdiri di lokasi peledakan lalu segera diamankan pihak kepolisian untuk segera dirawat di rumah sakit.
Saya menangis pilu. Anak kecil tak berdosa itu menjadi korban paling menyedihkan. Dia terluka seperti korban lainnya. Dia juga kehilangan seluruh keluarganya, di depan mata. Seluruh keluarganya yang telah pergi dikecam habis habisan oleh seluruh orang. Dan kini dia harus bertahan sendirian. Pilu rasanya membayangkan dia akan tumbuh dewasa tanpa orangtua dan saudara, dan menerima kenyataan bahwa orangtuanya adalah pelaku bom bunuh diri itu sendiri. Pilu rasanya membayangkan bahwa dia akan tumbuh dewasa dengan kisah bahwa ia pernah terlibat dalam aksi keji itu karena tidak punya pilihan dan belum mengerti apa apa. Anak sekecil itu akan menanggung luka yang cukup dalam karena perbuatan orangtuanya.
Saya, bisa memahami kesedihan istri, orangtua atau saudara para korban yang ditinggalkan. Saya pun ikut bersedih dan berduka. Diluar itu, saya amat sangat bersedih melihat anak - anak yang ditinggalkan orangtua mereka. Terlebih anak pelaku teror bom tersebut. Mereka adalah korban paling tersakiti menurut saya. Anak anaklah korban paling tersakiti menurut saya, meskipun dia dilibatkan sebagai pelaku. Maka saya tidak habis pikir dengan berbagai komentar buruk dan kasar yang bahkan tega mengatakan "Seharusnya dia mati dan ikut ke neraka bersama orangtuanya!" Atau "Hati - hati dengan anak itu, dia bibit teroris di masa depan". What the f**k with your mind Sis!! Mereka -anak anak- itu patut dilindungi dan dibimbing. Dan itu tugas kita, bersama. Manusiawilah sebagai manusia. Memiliki hati nuranilah sebagai sesama manusia. Bagaimana bisa seorang dewasa menghakimi seorang anak kecil seperti itu. Mengapa selalu menyalahkan orang lain? Mengapa selalu mencari kambing hitam daripada berangkulan dan berbenah?
Saya sedih, amat sedih. Bahkan tidak bisa berkata - kata. "Adik adikku, lanjutkan hidupmu! Allah SWT tidak pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan umatNya. Kami selalu bersamamu." 😭😭
Ada anak kecil yang dilibatkan jadi pelaku. Anak kecil lainnya menjadi korban. Seharusnya mereka bertemu di taman bermain. Mandi bola atau bermain perosotan bersama. Lalu saling bertukar cerita tentang cita - cita mereka saat besar nanti. (Arie Kriting)

Minggu, 06 Mei 2018

My Hippocratic Oath


Long time no poooost. Udah berapa bulan ya ngga nge-blog. Kemarin, -lebih tepatnya dari akhir tahun kemarin- saya fokus nyelesain sekolah (Koas). Bisa dilihat dari tough life nya Koas di salah satu tulisan di blog saya beberapa waktu yang lalu. Iya, dari Desember sudah ngga Koas lagi alias ngga ngerjain pasien lagi dan hanya persiapan ujian akhir yang ada beberapa tahap. Nanti akan saya ceritakan sedikit tahapannya ya, walaupun buat pembaca mungkin ngga penting hehehe.
Alhamdulillaaaah, setelah beberapa waktu vakum dari dunia per-blog-an (oke maaf, rada alay) akhirnya sekarang bisa ngatur waktu free buat nulis di sela – sela waktu ngga kerja. And finally, kerja juga sekarang. Ngga jadi mahasiswa lagi. Bisa beli keperluan pake uang gaji, one of my important points. Karena jujur yaa, selama ini rasanya kayak beban banget beli ini itu yang dimau tapi masih pake uang orangtua. Walaupun ngga selalu, dan kadang nabung atau nyari uang sendiri dengan jualan ini itu, pokoknya gimana caranya biar minta uang ke orangtua itu dijadikan pilihan terakhir. Tapi berbeda rasanya ketika saya beli keperluan atau memenuhi kebutuhan pake uang hasil keringat sendiri.
Oke, perjalanan saya beberapa bulan terakhir ini akan saya ceritakan dari sini....


Awal bulan Desember sudah mulai dibuka verifikasi ujian akhir untuk mahasiswa profesi KG. Untuk bisa ikut ujian akhir kita harus verifikasi berkas yang antara lain seluruh laporan kasus, nilai – nilai ujian harian, nilai – nilai diskusi, dan catatan follow up seluruh requirement pasien selama koas. Lengkap. Seluruh modul. Jadi, tiap hari kerjaannya ya kudu nyelesain keperluan dan pritilan buat verifikasi tutup modul akhir. Setelah selesai verifikasi, barulah diumumkan nama – nama mahasiswa yang bisa ikut ujian Komprehensif yang diadakan oleh Fakultas masing – masing universitas. Ujian komprehensif ini adalah ujian awal menuju ujian nasional yang diadakan Kementerian. Untuk ujian komprehensif, pada angkatan kelulusan saya diadakan sistem baru yaitu dengan mempresentasikan dua kasus terpilih dari pasien Komprehensif selama Koas. Ngga bisa dibilang mudah, walaupun di sistem baru kita ngga perlu lagi cari pasien cabut atau tambal untuk ujian, karena dengan sistem baru kasusnya jadi lebih luas tergantung dosen mau pilih kasus mana yang mereka anggap “menarik dan menantang”. Singkat cerita (langsung aja ya biar ngga kepanjangan), saya lulus ujian Komprehensif tahap awal dan bersiap menuju ujian yang sebenarnya. Hahaha.

Gini nih suasana ujian Komprehensifnya.. 


Ujian Kompetensi Nasional (UKMP2DG) diadakan pada akhir Januari. Sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan tersebut, kami yang berhasil lolos untuk ujian kompetensi diwajibkan mengikuti mentoring dan persiapan dari dosen setiap hari. Berasa throwback SMA banget ikut jam tambahan sebelum UN. Dari pagi jam 8 sudah mentoring nonstop sampai jam 4 sore, kadang sampai magrib juga, trus dilanjutin belajar bareng bahas contoh – contoh soal sama temen – temen sampai jam 10-11 malam, pulang ke kos masih baca – baca materi lagi sebelum tidur. Begitu terus setiap hari selama hampir satu bulan. Badan udah kayak zombie asa melayang gitu, tapi tetep dipaksain ngga boleh jatuh sakit sampai paling ngga selesai ujian kompetensi. Ujian diadakan selama dua hari, yaitu hari pertama ujian teori berbasis komputer (CBT) , dan hari kedua ujian OSCE (praktek atau simulasi tindakan). Sehari sebelum hari H ujian OSCE atau ujian hari terakhir, tidur cuma paling setengah jam. Semalaman bener – bener melek buat pelajarin materi yang seabrek – abrek, lalu berlanjut ujian pada pagi harinya jam 8. Sehingga selesai ujian baru tepar, tidur di ruang isolasi ujian sampai ngga sadar waktu. Hahaha. Lumayan lah bisa istirahat sembari menunggu giliran kloter yang lain selesai ujian, karena kita ngga dibolehkan pulang sebelum semua peserta selesai ujian. Dan peserta ujian dibagi men jadi 3 kloter, masing – masing kloter punya waktu 120 menit. 
Belajar sambil didoain dan diceramahin ala LQ, ujung - ujungnya nangis 😢

Fyi, OSCE adalah ujian paling menyeramkan untuk kami, gimana ngga? Pada ujian OSCE kita (masing – masing peserta ujian) akan berhadapan dengan penguji satu orang dengan jarak yang hanya dibatasi meja penguji, harus menjelaskan diagnosa dan mensimulasikan tahapan – tahapan pekerjaan dengan kasus yang kita ketahui saat itu juga hanya dalam waktu 10 menit secara sempurna. Ya, sempurna. Karena para penguji sudah memiliki kunci jawaban sendiri untuk dicocokkan dengan jawaban kita. Kalau diagnosa yang kita jelaskan salah dan tahapan perawatan berbeda atau tidak sesuai urutan dengan kunci jawaban, habislah kita dengan nilai NOL. Dan lagi kita harus melewati 10 stase dalam ujian OSCE, artinya ada 10 kasus berbeda yang harus dijelaskan setiap 10 menit sekali. Could you imagine? 120 menit (10 stase ujian dan 2 stase selama masing – masing 10 menit adalah stase istirahat) di dalam ruang ujian hanya dengan penguji yang hanya mendengarkan jawaban kita dan tidak boleh bersuara, adalah 120 menit yang berasa 120 jam!

Ini ujian CBT hari pertama UKMP2DG
Dan ketegangan saat OSCE keliatan banget dr CCTV. Hayo tebak saya yang mana? hahaha.



Pengumuman ujian kompetensi baru diketahui pada pertengahan bulan Februari atau kurang lebih 2-3 minggu setelah ujian diadakan dan diumumkan secara serempak seluruh Indonesia. Bayangin dong ngga bisa tidurnya nungguin pengumuman. Oh ya, peserta ujian yang tidak lulus harus mengulang ujian pada gelombang berikutnya yaitu tiga bulan yang akan datang, karena ujian kompetensi diadakan setiap tiga bulan sekali. Jadi ngga ada yang namanya remed. Dan itu semakin bikin ngga bisa tidur. Tapiii, alhamdulillah sekali saat hari pengumuman nama saya dinyatakan LULUS.
Setelah pengumuman lulus, saya disibukkan dengan persiapan yudisium dan sumpah profesi. Ah akhirnya, bisa disumpah juga. Setiap kali lihat temen sumpah selalu bertanya di dalam hati, kapan ya aku bisa sumpah juga? Tapi ternyata Allah SWT baik sekali, beliau menjawab semua doa pada waktu yang tepat. Menuju hari sumpah, pusingnyaaa MasyaAllah. Semua persiapan sumpah kita sendiri yang atur dengan waktu yang singkat, ngga sampai satu bulan. Mulai dari booking gedung, katering, dokumentasi, nyiapin kostum, dekor, undangan, souvenir sampai menghubungi pengisi acara. Udah kayak mau nikahan aja. Besok – besok kayaknya bisa bikin EO/WO sendiri deh. Setiap hari bolak – balik ketemu dan ngubungin vendor, memastikan yang mereka siapkan sesuai dengan yang kita inginkan. Di samping itu kita juga masih harus menyelipkan waktu untuk mengurus keperluan yudisium profesi yang hanya berjarak ngga sampai 2 minggu dari hari sumpah dokternya.
Daaaan hari sumpah pun tiba, 7 Maret 2018. Didampingi kedua orangtua dan orang – orang terdekat kami tentunya, kami bisa mengucapkan sumpah profesi dokter gigi. Terharunyaaa luar biasa, sampai meneteskan airmata. Sangat khidmat dan sakral. Bukan main, tujuh tahun lebih berjuang di bidang yang saya pilih ini, melewati segala suka duka terbayar dengan bahagia luar biasa ketika bisa bersumpah untuk mengemban amanah baru di hadapan dosen dan orang – orang tercinta. Moment yang tidak terlupakan seumur hidup!!


Deg degan parah sih ini..

Dan inilah moment moment yang terekam bersama mereka yang saya cintai....
 






And here, I am.

Rabu, 10 Januari 2018

Jogja - Kuningan..



Hai, sepertinya sudah lama ngga cerita pengalaman ya. Jadi kali ini saya akan cerita salah satu pengalaman tak terlupakan yang baru terjadi beberapa hari yang lalu, mumpung masih segar dalam ingatan. Cerita ini tentang perjalanan ‘panjang’ yang kami (read: saya dan rombongan) alami sewaktu menghadiri pernikahan salah satu kerabat di luar kota. Perjalanan kami dipenuhi dengan ketidakberuntungan yang membuat cerita ini menjadi salah satu moment tak terlupakan. Siapkan cemilan, tissue, dan teman yang bisa dipukul karena kamu akan terlalu bersemangat untuk menertawakan kami. Hehehe.

Pasangan yang akan menikah waktu itu adalah Mas Eka dan Mba Tami. Siapa Mas Eka? Dia adalah pemilik toko buku online tempat pasangan saya bekerja. Saya kenal Mas Eka sekitar awal tahun 2016 saat pasangan saya mulai bekerja dengan beliau. Jarak umur yang tidak terlalu jauh dan sikapnya yang supel membuat saya cukup dekat dan menghormati beliau layaknya adik ke kakak. Beberapa waktu yang lalu Mas Eka memutuskan untuk meminang kekasih hatinya Mba Tami, gadis asal Kuningan Jawa Barat. Singkat cerita, setelah merencanakan sejak beberapa waktu sebelumnya sepakatlah kami akan menghadiri pernikahan mereka di Kuningan menggunakan mobil.

4 Januari 2018, tiba – tiba handphone saya berbunyi menandakan sebuat pesan whatsapp masuk. Saat itu saya sedang berada di tempat makan bersama pasangan. Info dari sebuah grup, Sabtu tgl 6 Januari pkl 15.00 dijadwalkan ujian ulangan CBT Kompre untuk saya. Mendadak hilang nafsu makan saya. Bagaimana tidak, kami merencanakan untuk berangkat ke Kuningan pada tgl 5 Januari malam. Akhirnya saya putuskan, lebih baik saya tidak berangkat saja. Namun setelah obrolan dan pertimbangan panjang lebar dengan rombongan dan Mas Eka, disepakatilah keberangkatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama yaitu Mas Eka, Tiyo, Rijen dan Arab berangkat pada hari Jumat (5 Januari) malam. Kloter kedua yaitu Saya, pasangan saya, Ratih, Kang Oleh, Kang Cep dan Mas Anwar berangkat pada Sabtu (6 Januari) sore setelah saya selesai ujian.

6 Januari 2018, pukul 16.30 saya dengan tergesa – gesa pulang setelah ujian untuk bersiap – siap berangkat ke Kuningan. Pukul 17.00 kami berangkat dan sepanjang perjalanan hingga makan malam sehabis magrib semuanya masih berjalan lancar. Hingga kami harus melewati jalanan yang ‘cukup menantang’, Mas Anwar sebagai supir cukup kewalahan menghindari lubang – lubang dan genangan air sepanjang perjalanan. Lampu mobil yang seperti petromaks akhirnya memaksa mobil untuk terhenti sesaat setelah Mas Anwar tanpa sengaja mengarahkan mobil ke lubang yang cukup besar di tengah jalan. Setelah hening untuk beberapa saat perjalanan dilanjutkan dengan kondisi stir mobil yang ‘menurut pengakuan supir’ agak rewel setelah menabrak lubang. Waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam ketika kami berhenti di sebuah bengkel di daerah Gombong. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam untuk memperbaiki mobil, perjalanan kami lanjutkan dengan supir diganti pasangan saya dan stir mobil yang sudah lebih mendingan dari sebelumnya (walaupun belum sepenuhnya pulih). Pukul setengah 5 pagi kami memutuskan untuk berhenti sebentar di mesjid untuk sholat subuh dan istirahat. Namun musibah datang lagi. Saat menepikan mobil di mesjid di Ciamis, stir blong yang artinya mobil tidak bisa dikendarai. Kelelahan dan kelaparan menghampiri. Sedikit panik juga mengingat akad nikah Mas Eka tinggal hitungan jam dan kita masih belum sampai Kuningan. Beruntungnya ada seorang warga yang berniat membantu kita mencarikan bengkel atau montir di subuh hari menuju pagi itu. Namanya Bapak Fendi, warga asli Ciamis. Beliau bahkan menawarkan kami untuk beristirahat sejenak di rumahnya sembari beliau dan pasangan saya mencari jalan keluar. Setelah berkeliling mencari bengkel dan montir, kami juga berupaya mencari rental mobil di daerah Ciamis (yang sayangnya tidak ada yang kosong), akhirnya kami diantar oleh kakak ipar Bapak Fendi menuju pasar Ciamis untuk naik bus menuju Cirebon dan mobil ditinggal di halaman mesjid tempat kami berhenti tadi. Sesampai di pasar, setelah menunggu beberapa waktu dan membuat kesepakatan dengan supir bus untuk mengantarkan kami ke Kuningan, akhirnya kami naik bus yang berbau solar, berbunyi berisik dan setiap jalan berkelok kami harus merasakan goyangan seperti saat sedang bermain bombom-car, dan membuat mabuk darat. Keapesan kami berlanjut ketika kami diturunkan di pasar dan dioper ke bus lain menuju Kuningan. Padahal kesepakatan sebelumnya dengan supir, kami akan diantarkan langsung ke Kuningan. Jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi saat kami terpaksa pindah bus dan meminta supir untuk segera mengantarkan kami karena waktu yang sudah semakin mendesak. Tapi kesepakatan hanya tinggal kesepakatan, supir masih saja terus terusan berhenti menarik penumpang meskipun kami sudah protes ingin segera diantarkan dan terburu – buru. Pukul 9 pagi kami tiba di hotel saat rombongan lain di kloter sebelumnya sudah berada di gedung pernikahan bersiap – siap untuk akad nikah. Apes tak hanya sampai disitu, karena ketika terburu – buru untuk mandi, air di kamar mandi hotel mati.

Kami baru bisa sampai di gedung acara dengan naik angkot pukul setengah sebelas siang dan melewati momen istimewa akad nikah, dikarenakan berbagai keapesan bertubi – tubi sepanjang perjalanan. Saat kami tiba, pasangan pengantin sudah SAH dan tersenyum bahagia di pelaminan. Senyum sumringah Mas Eka dan Mba Tami membuat kami pada akhirnya hanya menertawakan berbagai kesialan kami untuk bisa sampai ke Kuningan ini. Pengantin bahagia, kami pun ikut bahagia mengikuti acara.

Kekesalan dan kelelahan sepanjang perjalanan terasa hilang saat berkumpul bersama sore harinya di hotel tempat kami menginap (Oh ya, akhirnya kami pindah hotel karena air di hotel pertama yang mati tadi). Tentu saja obrolan yang dibahas hanya seputar bagaimana serunya perjalanan yang kami tempuh sekitar 16 jam dari Jogja – Kuningan. Pengalaman pertama ke Kuningan yang membuat cerita ini tentu akan tetap seru untuk diceritakan lagi bahkan ketika nanti pasangan pengantin baru ini sudah mempunyai cucu.  

Dan akhirnya bisa ketawa lepas sama pengantin. 😄💕
Selamat menikah Mas Eka dan Mba Tami. Berbahagialah, selamanya.

Jumat, 25 April 2014

16 April untuk kita..

16 April 22 tahun yang lalu, seorang wanita berjuang hidup dan mati untuk membantu sebuah nyawa lahir ke dunia ini. 16 April 22 tahun yang lalu, seorang lelaki menangis terharu saat untuk pertama kali mengadzankan di telinga seorang bayi kecil. 16 April 22 tahun yang lalu, sepasang suami istri tak lagi hanya sepasang suami istri, tetapi menjadi orangtua. 16 April 22 tahun yang lalu, saya menyeruak dengan tangisan kecil mencoba memberi kebahagian di tengah - tengah keluarga kecil nan sederhana itu.

Ahh, saya tak ingat lagi bagaimana moment itu terjadi. Saya bahkan tak tahu bagaimana moment itu terjadi. Yang saya tahu moment itu masih membekas dan berharga untuk lelaki dan wanita itu, terlebih untuk saya. Ya, lelaki dan wanita itu adalah Ibu dan Bapak saya. Malaikat hidup saya yang hingga detik ini tak pernah pudar cinta saya untuk mereka.

Kini, tepat ditanggal yang sama seperti 22 tahun yang lalu, 16 April, saya kembali memiliki moment yang tak terlupakan. Ketika tepat jam 12 malam saya mendengar suara dari kejauhan di ujung telpon berucap "SELAMAT ULANG TAHUN, SAYANG". Suara yang amat sangat saya rindukan. Suara yang selalu memberikan keteduhan dan ketenangan. Suara yang sudah sering terdengar bahkan ketika saya belum bisa bernafas bebas di dunia yang sebenarnya. Suara Ibu dan Bapak.

Tuhan, tak tergambarkan betapa bahagia saya telah melewati 22 tahun yang tidak mudah dengan mereka. Tak tergambarkan betapa bahagia saya berjalan sejauh ini dengan didampingi mereka. Tak tergambarkan betapa bahagia saya selalu diselipkan dalam setiap doa mereka. Tak tergambarkan bagaimana bahagia saya memiliki mereka. Tak terungkap bagaimana saya bersyukur masih diberi kesempatan hingga 22 tahun untuk bisa bersama mereka, merasakan pahit manis hidup bersama.

Tuhan, saya masih ingin merasakan 16 April yang ke 23, 24, 25 dan seterusnya bersama mereka. Saya masih ingin menikmati moment indah setiap tanggal 16 April bersama mereka.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang indah dalam hidup saya.

Selasa, 04 Februari 2014

Everything's change

            Hampir 30 menit saya duduk manis di depan laptop mencari berbagai sumber bacaan dari internet yang loadingnya sudah mulai melambat karena quota pemakaian yang sudah hampir habis. Saya mencari sumber bacaan yang membahas mengenai ibu Inggit Garnasih. Iya, Bu Inggit mantan istri orang nomor satu di Indonesia ketika Indonesia merdeka dulu yaitu Soekarno alias Bung Karno.
            Kenapa saya penasaran dengan sosok Bu Inggit? Tadi sore saya berbincang cukup lama dengan salah seorang sahabat saya di tengah cafe anak muda yang lumayan booming di Jogjakarta dan diiringi suara riuh titik hujan yang cukup deras yang sahut menyahut dengan suara petir menggelegar. Perbincangan saya dan sahabat (sebut saja dia Rizki) dibuka dengan sebuah kata tanya keramat saat Rizki datang: KENAPA?
Saat itu saya hanya membalas pertanyaan Rizki dengan kalimat pertanyaan juga, yang mungkin terdengar agak cengeng di mata orang – orang. “Apakah wanita dilarang meminta perhatian lebih dari laki – laki yang menjadi pasangannya?”
            Iya, mungkin bisa dibilang saya memiliki permasalahan yang tidak tahu bisa dibilang masalah kecil atau besar dengan pasangan. Ketika beban yang menumpuk sudah terasa semakin berat, yang bisa kita lakukan salah satunya adalah berusaha membagi beban tersebut dengan orang lain. Bukan, bukan bermaksud menambah beban orang lain. Hanya berupaya membuat beban tersebut terasa sedikit lebih ringan. Dan itulah yang ingin saya lakukan ketika saya memiliki partner yang bisa dipercaya yaitu pasangan saya, terlebih dia sudah menemani hari saya cukup lama kurang lebih 5 tahun. Hal apapun yang saya lakukan hampir bisa dipastikan semuanya saya share dengan dia. Namun justru disitulah permasalahan timbul. Saat partner yang dipercaya tersebut tidak mempunyai kesempatan dan waktu untuk saya berbagi, saya mulai merasa kecewa. Mulai timbul dibenak saya pertanyaan ‘mengapa?’
            Entahlah, tekanan dari beban yang menumpuk ditambah dengan kelelahan membuat emosi kadang menjadi kurang stabil. Saya marah, kecewa dan sedih. Otak saya kembali dipenuhi pertanyaan. Kenapa tidak bisa? Kenapa begitu sulit? Bukankah selama ini semuanya berjalan dengan baik baik saja? Lantas kenapa sekarang jadi begitu sulit?
Jawabannya hanya satu: Everything’s change.

           Saya adalah orang yang selalu bisa diluangkan waktu sesempit apapun itu untuk dia. Saya adalah orang yang selalu menemani dia kapanpun dia membutuhkan teman. Saya adalah orang yang slalu menghabiskan pulsanya hanya untuk bercerita lewat telepon genggam. Saya adalah orang pertama yang slalu dikabari saat dia mendapat berita bahagia. Saya adalah orang yang paling dikhawatirkan ketika smsnya lama saya balas. Saya adalah orang yang bisa membuat dia cemburu ketika saya dekat dengan laki – laki lain. Saya adalah orang yang slalu memberikan semangat setiap hari untuk dia mengejar citanya. Dan saya adalah orang yang sudah mengenal dia lama, bahkan sebelum dia berpikir akan jadi apa besok.
Tapi itu dulu. Sekarang, everything’s change.
Saya adalah orang yang mungkin tidak diingat lagi untuk sekedar disapa ‘hai, apa kabar?’. Dan muncullah pertanyaan dari Rizki (sahabat saya tadi): Apa yang membuat kamu memilih dia kemarin? Saya jawab: Karena dia adalah dia, bukan orang lain. Mungkin itu salah satu kekeliruan saya, ketika saya berpikir dia adalah dia, saya tidak pernah berpikir dia akan jadi orang lain. Dan ketika dia yang saya rasa bukan lagi dia, saya merasa cukup berat. Tapi itu tadi, everything’s change. Saya belum terlalu bijak menyikapi perubahan itu.
            Sakit, sangat sakit. Pilu, sangat pilu. Kecewa, sudah tidak terbendung. Bukan, bukan hanya kecewa dengan perubahan saja. Kecewa karena saya ternyata tidak sekuat itu menghadapi perubahan. Banyak perubahan yang terjadi selama hidup, tapi entahlah mungkin saya belum banyak belajar.   Saya menangis sejadinya, saya menjerit sejadinya, tapi tak keluar semuanya. Tertahan di hati.
            Saya disuruh belajar. Iya, Rizki bilang saya harus banyak belajar. Salah satunya dari Bu Inggit. Hubungannya apa? Jauh, jauh sekali hubungan saya dan Bu Inggit. Saya bukan siapa – siapa, dan Bu Inggit adalah salah satu sosok wanita hebat (selain Ibu saya) dalam kisah hidupnya yang ternyata jauh lebih pilu dari saya. Saya merasa amat sakit saat tidak lagi bisa bersama berjuang mewujudkan apa yang saya bahkan kami impikan. Hampir di ujung jalan menuju mimpi ketika semuanya harus berhenti tiba – tiba. Namun ternyata (mungkin) tidak sesakit yang diterima Bu Inggit ketika harus ditinggalkan Bung Karno. Tidak sesakit Bu Inggit yang harus menerima kenyataan bahwa seseorang yang telah dibela mati matian, ditemani berjuang, dikasihi sepenuh hati atas nama cinta meninggalkan beliau demi wanita lain dengan alasan ‘ingin punya keturunan’.
            Sesaat mungkin saya akan berpikir dunia berhenti berputar jika saya adalah orang yang sama dengan Bu Inggit. Tapi itulah bedanya saya dengan beliau. Beliau saya akui mempunyai hati yang sungguh besar untuk mundur ke belakang meskipun dengan hati yang mungkin retak beribu keping. Dan saya harus belajar. Entah bagaimana caranya saya harus belajar, itu yang diinginkan banyak orang di sekililing saya. 
Kembali ke percakapan saya dengan Rizki, dia bilang tidak selamanya saya harus selalu mengikuti hati. Iya, mungkin hati terlalu banyak menciptakan hal yang tidak rasional. Saya bingung. Saya berpikir, sangat keras. Yang mana yang harus saya ikuti? Hati atau pikiran? Entahlah, yang pasti semua nanti akan berubah lagi. Iya, everything will be change (again). Dan maafkan saya alam, saya harus menguraikan airmata lagi untuk mengakui hal ini.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog