Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Mei 2018

My Hippocratic Oath


Long time no poooost. Udah berapa bulan ya ngga nge-blog. Kemarin, -lebih tepatnya dari akhir tahun kemarin- saya fokus nyelesain sekolah (Koas). Bisa dilihat dari tough life nya Koas di salah satu tulisan di blog saya beberapa waktu yang lalu. Iya, dari Desember sudah ngga Koas lagi alias ngga ngerjain pasien lagi dan hanya persiapan ujian akhir yang ada beberapa tahap. Nanti akan saya ceritakan sedikit tahapannya ya, walaupun buat pembaca mungkin ngga penting hehehe.
Alhamdulillaaaah, setelah beberapa waktu vakum dari dunia per-blog-an (oke maaf, rada alay) akhirnya sekarang bisa ngatur waktu free buat nulis di sela – sela waktu ngga kerja. And finally, kerja juga sekarang. Ngga jadi mahasiswa lagi. Bisa beli keperluan pake uang gaji, one of my important points. Karena jujur yaa, selama ini rasanya kayak beban banget beli ini itu yang dimau tapi masih pake uang orangtua. Walaupun ngga selalu, dan kadang nabung atau nyari uang sendiri dengan jualan ini itu, pokoknya gimana caranya biar minta uang ke orangtua itu dijadikan pilihan terakhir. Tapi berbeda rasanya ketika saya beli keperluan atau memenuhi kebutuhan pake uang hasil keringat sendiri.
Oke, perjalanan saya beberapa bulan terakhir ini akan saya ceritakan dari sini....


Awal bulan Desember sudah mulai dibuka verifikasi ujian akhir untuk mahasiswa profesi KG. Untuk bisa ikut ujian akhir kita harus verifikasi berkas yang antara lain seluruh laporan kasus, nilai – nilai ujian harian, nilai – nilai diskusi, dan catatan follow up seluruh requirement pasien selama koas. Lengkap. Seluruh modul. Jadi, tiap hari kerjaannya ya kudu nyelesain keperluan dan pritilan buat verifikasi tutup modul akhir. Setelah selesai verifikasi, barulah diumumkan nama – nama mahasiswa yang bisa ikut ujian Komprehensif yang diadakan oleh Fakultas masing – masing universitas. Ujian komprehensif ini adalah ujian awal menuju ujian nasional yang diadakan Kementerian. Untuk ujian komprehensif, pada angkatan kelulusan saya diadakan sistem baru yaitu dengan mempresentasikan dua kasus terpilih dari pasien Komprehensif selama Koas. Ngga bisa dibilang mudah, walaupun di sistem baru kita ngga perlu lagi cari pasien cabut atau tambal untuk ujian, karena dengan sistem baru kasusnya jadi lebih luas tergantung dosen mau pilih kasus mana yang mereka anggap “menarik dan menantang”. Singkat cerita (langsung aja ya biar ngga kepanjangan), saya lulus ujian Komprehensif tahap awal dan bersiap menuju ujian yang sebenarnya. Hahaha.

Gini nih suasana ujian Komprehensifnya.. 


Ujian Kompetensi Nasional (UKMP2DG) diadakan pada akhir Januari. Sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan tersebut, kami yang berhasil lolos untuk ujian kompetensi diwajibkan mengikuti mentoring dan persiapan dari dosen setiap hari. Berasa throwback SMA banget ikut jam tambahan sebelum UN. Dari pagi jam 8 sudah mentoring nonstop sampai jam 4 sore, kadang sampai magrib juga, trus dilanjutin belajar bareng bahas contoh – contoh soal sama temen – temen sampai jam 10-11 malam, pulang ke kos masih baca – baca materi lagi sebelum tidur. Begitu terus setiap hari selama hampir satu bulan. Badan udah kayak zombie asa melayang gitu, tapi tetep dipaksain ngga boleh jatuh sakit sampai paling ngga selesai ujian kompetensi. Ujian diadakan selama dua hari, yaitu hari pertama ujian teori berbasis komputer (CBT) , dan hari kedua ujian OSCE (praktek atau simulasi tindakan). Sehari sebelum hari H ujian OSCE atau ujian hari terakhir, tidur cuma paling setengah jam. Semalaman bener – bener melek buat pelajarin materi yang seabrek – abrek, lalu berlanjut ujian pada pagi harinya jam 8. Sehingga selesai ujian baru tepar, tidur di ruang isolasi ujian sampai ngga sadar waktu. Hahaha. Lumayan lah bisa istirahat sembari menunggu giliran kloter yang lain selesai ujian, karena kita ngga dibolehkan pulang sebelum semua peserta selesai ujian. Dan peserta ujian dibagi men jadi 3 kloter, masing – masing kloter punya waktu 120 menit. 
Belajar sambil didoain dan diceramahin ala LQ, ujung - ujungnya nangis 😢

Fyi, OSCE adalah ujian paling menyeramkan untuk kami, gimana ngga? Pada ujian OSCE kita (masing – masing peserta ujian) akan berhadapan dengan penguji satu orang dengan jarak yang hanya dibatasi meja penguji, harus menjelaskan diagnosa dan mensimulasikan tahapan – tahapan pekerjaan dengan kasus yang kita ketahui saat itu juga hanya dalam waktu 10 menit secara sempurna. Ya, sempurna. Karena para penguji sudah memiliki kunci jawaban sendiri untuk dicocokkan dengan jawaban kita. Kalau diagnosa yang kita jelaskan salah dan tahapan perawatan berbeda atau tidak sesuai urutan dengan kunci jawaban, habislah kita dengan nilai NOL. Dan lagi kita harus melewati 10 stase dalam ujian OSCE, artinya ada 10 kasus berbeda yang harus dijelaskan setiap 10 menit sekali. Could you imagine? 120 menit (10 stase ujian dan 2 stase selama masing – masing 10 menit adalah stase istirahat) di dalam ruang ujian hanya dengan penguji yang hanya mendengarkan jawaban kita dan tidak boleh bersuara, adalah 120 menit yang berasa 120 jam!

Ini ujian CBT hari pertama UKMP2DG
Dan ketegangan saat OSCE keliatan banget dr CCTV. Hayo tebak saya yang mana? hahaha.



Pengumuman ujian kompetensi baru diketahui pada pertengahan bulan Februari atau kurang lebih 2-3 minggu setelah ujian diadakan dan diumumkan secara serempak seluruh Indonesia. Bayangin dong ngga bisa tidurnya nungguin pengumuman. Oh ya, peserta ujian yang tidak lulus harus mengulang ujian pada gelombang berikutnya yaitu tiga bulan yang akan datang, karena ujian kompetensi diadakan setiap tiga bulan sekali. Jadi ngga ada yang namanya remed. Dan itu semakin bikin ngga bisa tidur. Tapiii, alhamdulillah sekali saat hari pengumuman nama saya dinyatakan LULUS.
Setelah pengumuman lulus, saya disibukkan dengan persiapan yudisium dan sumpah profesi. Ah akhirnya, bisa disumpah juga. Setiap kali lihat temen sumpah selalu bertanya di dalam hati, kapan ya aku bisa sumpah juga? Tapi ternyata Allah SWT baik sekali, beliau menjawab semua doa pada waktu yang tepat. Menuju hari sumpah, pusingnyaaa MasyaAllah. Semua persiapan sumpah kita sendiri yang atur dengan waktu yang singkat, ngga sampai satu bulan. Mulai dari booking gedung, katering, dokumentasi, nyiapin kostum, dekor, undangan, souvenir sampai menghubungi pengisi acara. Udah kayak mau nikahan aja. Besok – besok kayaknya bisa bikin EO/WO sendiri deh. Setiap hari bolak – balik ketemu dan ngubungin vendor, memastikan yang mereka siapkan sesuai dengan yang kita inginkan. Di samping itu kita juga masih harus menyelipkan waktu untuk mengurus keperluan yudisium profesi yang hanya berjarak ngga sampai 2 minggu dari hari sumpah dokternya.
Daaaan hari sumpah pun tiba, 7 Maret 2018. Didampingi kedua orangtua dan orang – orang terdekat kami tentunya, kami bisa mengucapkan sumpah profesi dokter gigi. Terharunyaaa luar biasa, sampai meneteskan airmata. Sangat khidmat dan sakral. Bukan main, tujuh tahun lebih berjuang di bidang yang saya pilih ini, melewati segala suka duka terbayar dengan bahagia luar biasa ketika bisa bersumpah untuk mengemban amanah baru di hadapan dosen dan orang – orang tercinta. Moment yang tidak terlupakan seumur hidup!!


Deg degan parah sih ini..

Dan inilah moment moment yang terekam bersama mereka yang saya cintai....
 






And here, I am.

Rabu, 10 Januari 2018

Jogja - Kuningan..



Hai, sepertinya sudah lama ngga cerita pengalaman ya. Jadi kali ini saya akan cerita salah satu pengalaman tak terlupakan yang baru terjadi beberapa hari yang lalu, mumpung masih segar dalam ingatan. Cerita ini tentang perjalanan ‘panjang’ yang kami (read: saya dan rombongan) alami sewaktu menghadiri pernikahan salah satu kerabat di luar kota. Perjalanan kami dipenuhi dengan ketidakberuntungan yang membuat cerita ini menjadi salah satu moment tak terlupakan. Siapkan cemilan, tissue, dan teman yang bisa dipukul karena kamu akan terlalu bersemangat untuk menertawakan kami. Hehehe.

Pasangan yang akan menikah waktu itu adalah Mas Eka dan Mba Tami. Siapa Mas Eka? Dia adalah pemilik toko buku online tempat pasangan saya bekerja. Saya kenal Mas Eka sekitar awal tahun 2016 saat pasangan saya mulai bekerja dengan beliau. Jarak umur yang tidak terlalu jauh dan sikapnya yang supel membuat saya cukup dekat dan menghormati beliau layaknya adik ke kakak. Beberapa waktu yang lalu Mas Eka memutuskan untuk meminang kekasih hatinya Mba Tami, gadis asal Kuningan Jawa Barat. Singkat cerita, setelah merencanakan sejak beberapa waktu sebelumnya sepakatlah kami akan menghadiri pernikahan mereka di Kuningan menggunakan mobil.

4 Januari 2018, tiba – tiba handphone saya berbunyi menandakan sebuat pesan whatsapp masuk. Saat itu saya sedang berada di tempat makan bersama pasangan. Info dari sebuah grup, Sabtu tgl 6 Januari pkl 15.00 dijadwalkan ujian ulangan CBT Kompre untuk saya. Mendadak hilang nafsu makan saya. Bagaimana tidak, kami merencanakan untuk berangkat ke Kuningan pada tgl 5 Januari malam. Akhirnya saya putuskan, lebih baik saya tidak berangkat saja. Namun setelah obrolan dan pertimbangan panjang lebar dengan rombongan dan Mas Eka, disepakatilah keberangkatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama yaitu Mas Eka, Tiyo, Rijen dan Arab berangkat pada hari Jumat (5 Januari) malam. Kloter kedua yaitu Saya, pasangan saya, Ratih, Kang Oleh, Kang Cep dan Mas Anwar berangkat pada Sabtu (6 Januari) sore setelah saya selesai ujian.

6 Januari 2018, pukul 16.30 saya dengan tergesa – gesa pulang setelah ujian untuk bersiap – siap berangkat ke Kuningan. Pukul 17.00 kami berangkat dan sepanjang perjalanan hingga makan malam sehabis magrib semuanya masih berjalan lancar. Hingga kami harus melewati jalanan yang ‘cukup menantang’, Mas Anwar sebagai supir cukup kewalahan menghindari lubang – lubang dan genangan air sepanjang perjalanan. Lampu mobil yang seperti petromaks akhirnya memaksa mobil untuk terhenti sesaat setelah Mas Anwar tanpa sengaja mengarahkan mobil ke lubang yang cukup besar di tengah jalan. Setelah hening untuk beberapa saat perjalanan dilanjutkan dengan kondisi stir mobil yang ‘menurut pengakuan supir’ agak rewel setelah menabrak lubang. Waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam ketika kami berhenti di sebuah bengkel di daerah Gombong. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam untuk memperbaiki mobil, perjalanan kami lanjutkan dengan supir diganti pasangan saya dan stir mobil yang sudah lebih mendingan dari sebelumnya (walaupun belum sepenuhnya pulih). Pukul setengah 5 pagi kami memutuskan untuk berhenti sebentar di mesjid untuk sholat subuh dan istirahat. Namun musibah datang lagi. Saat menepikan mobil di mesjid di Ciamis, stir blong yang artinya mobil tidak bisa dikendarai. Kelelahan dan kelaparan menghampiri. Sedikit panik juga mengingat akad nikah Mas Eka tinggal hitungan jam dan kita masih belum sampai Kuningan. Beruntungnya ada seorang warga yang berniat membantu kita mencarikan bengkel atau montir di subuh hari menuju pagi itu. Namanya Bapak Fendi, warga asli Ciamis. Beliau bahkan menawarkan kami untuk beristirahat sejenak di rumahnya sembari beliau dan pasangan saya mencari jalan keluar. Setelah berkeliling mencari bengkel dan montir, kami juga berupaya mencari rental mobil di daerah Ciamis (yang sayangnya tidak ada yang kosong), akhirnya kami diantar oleh kakak ipar Bapak Fendi menuju pasar Ciamis untuk naik bus menuju Cirebon dan mobil ditinggal di halaman mesjid tempat kami berhenti tadi. Sesampai di pasar, setelah menunggu beberapa waktu dan membuat kesepakatan dengan supir bus untuk mengantarkan kami ke Kuningan, akhirnya kami naik bus yang berbau solar, berbunyi berisik dan setiap jalan berkelok kami harus merasakan goyangan seperti saat sedang bermain bombom-car, dan membuat mabuk darat. Keapesan kami berlanjut ketika kami diturunkan di pasar dan dioper ke bus lain menuju Kuningan. Padahal kesepakatan sebelumnya dengan supir, kami akan diantarkan langsung ke Kuningan. Jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi saat kami terpaksa pindah bus dan meminta supir untuk segera mengantarkan kami karena waktu yang sudah semakin mendesak. Tapi kesepakatan hanya tinggal kesepakatan, supir masih saja terus terusan berhenti menarik penumpang meskipun kami sudah protes ingin segera diantarkan dan terburu – buru. Pukul 9 pagi kami tiba di hotel saat rombongan lain di kloter sebelumnya sudah berada di gedung pernikahan bersiap – siap untuk akad nikah. Apes tak hanya sampai disitu, karena ketika terburu – buru untuk mandi, air di kamar mandi hotel mati.

Kami baru bisa sampai di gedung acara dengan naik angkot pukul setengah sebelas siang dan melewati momen istimewa akad nikah, dikarenakan berbagai keapesan bertubi – tubi sepanjang perjalanan. Saat kami tiba, pasangan pengantin sudah SAH dan tersenyum bahagia di pelaminan. Senyum sumringah Mas Eka dan Mba Tami membuat kami pada akhirnya hanya menertawakan berbagai kesialan kami untuk bisa sampai ke Kuningan ini. Pengantin bahagia, kami pun ikut bahagia mengikuti acara.

Kekesalan dan kelelahan sepanjang perjalanan terasa hilang saat berkumpul bersama sore harinya di hotel tempat kami menginap (Oh ya, akhirnya kami pindah hotel karena air di hotel pertama yang mati tadi). Tentu saja obrolan yang dibahas hanya seputar bagaimana serunya perjalanan yang kami tempuh sekitar 16 jam dari Jogja – Kuningan. Pengalaman pertama ke Kuningan yang membuat cerita ini tentu akan tetap seru untuk diceritakan lagi bahkan ketika nanti pasangan pengantin baru ini sudah mempunyai cucu.  

Dan akhirnya bisa ketawa lepas sama pengantin. 😄💕
Selamat menikah Mas Eka dan Mba Tami. Berbahagialah, selamanya.

Rabu, 08 November 2017

Dilarang Sakit.. Dilarang Menyerah..



Kalimat yang sering saya dengar akhir – akhir ini di lingkungan ‘lengkung AMC’ –daerah kekuasaan mahasiswa profesi tingkat akhir di AMC karena kita udah hampir ngga pernah masuk bangsal lagi– adalah “DILARANG SAKIT!” dan “DILARANG MENYERAH!”.
Berangkat pagi disaat pegawai pun belum datang (kadang jam tujuh pagi udah nangkring di lengkung) pulang sore kadang malam, dari yang wajah masih segar sampai wajah sudah kucel, lari kesana kesini mengejar dosen, revisi laporan bolak balik ke fotocopyan, menu makan tiap hari di kantin sama, plus bonus pulang kehujanan karena Jogja belakangan ini sering hujan deras dan awet, kita tetap dilarang keras untuk jatuh sakit disaat – saat seperti ini. Pemandangan ketiduran di lengkung, laptop jejeran kayak costumer service, rebutan DOPS buat minta nilai, misuh – misuh saat ditolak ujian atau diskusi lagi dengan dosen, dan heboh ketika lihat dosen yang lagi dicari tiba – tiba jalan santai di bangsal udah jadi makanan sehari – hari. Terkadang kita saling curhat sampai pengen nangis, mau lulus kok gini amat ya, tapi selaluu aja ada yang nyemangatin dengan teriak keras “Jangan nyerah sih, dikit lagi”. Atau kalau ada yang mulai bilang “Aku udah capek ni kok ngga kelar – kelar ya?” selalu aja ada yang bilang “Ngga boleh capek, ngga boleh sakit. Mau lulus kapan klo dikit – dikit capek, dikit – dikit sakit?” Saling gantian menyemangati, karena kita semua tahu kondisi kita sama. Terlebih kita semua tahu tujuan kita saat ini sama, LULUS SECEPATNYA.
Saya, sudah dua minggu lebih ini batuk ngga sembuh – sembuh. Kalau pulang kehujanan, batuknya semakin menjadi – jadi, ditambah bersin – bersin pula. Tapi kalau sudah berada di lingkungan lengkung dengan ‘teman – teman seperjuangan’ yang orangnya setiap hari itu – itu aja, jadi lupa kalau saya sakit dan seharusnya banyak istirahat. Minum obat tetap jalan, tapi revisian dan ujian diatas segala – galanya. Pulang ke kost langsung tepar, dan baru terasa lelah selelah lelahnya. Ingin tidur yang panjang, tapi setiap mau tidur kepikiran laporan lagi laporan lagi ujung – ujungnya ngga bisa tidur dan yaa begitulah setiap hari. Aturan nomor satu tetap; DILARANG SAKIT.
Kemarin saya mendengar sebuah lagu baru dari salah satu grup band favorit saya, Noah, judulnya Jalani Mimpi. Entah karena memang saya orangnya hiperbola, baperan, atau memang saya sedang dalam fase sensitif, liriknya yang sebenarnya biasa aja bisa bikin saya menangis ngga berhenti.  
Teruslah kau mencari.. Waktu akan selalu mengobati.. Temukan semua yang terhenti dalam hidupmu.. Tak perlu kau sesali.. Hidup kan membuatmu memahami.. Coba untuk tetap berdiri jalani mimpi..
Biasa aja kan? But I felt complicated. Di tengah – tengah masa berjuang seperti ini, saya ingat kembali tujuan saya disini untuk memberikan kebanggan ke orang – orang yang menyayangi saya terutama kedua orangtua saya. Sesulit apapun perjuangan saya, tentu tidak sebanding dengan perjuangan yang sudah mereka lakukan agar saya bisa tetap berdiri. At that point, down banget dan kadang ngerasa kecewa sama diri sendiri. Kenapa untuk menjalankan kewajiban yang seperti ini aja saya ngerasa berat dan sering mengeluh? Kenapa usaha saya ngga sebesar apa yang sudah orang – orang terdekat saya harapkan kepada saya? Tapi saya sadar, mau kecewa mau nangis pun kalau semua ngga dilanjutkan dan diselesaikan dengan baik ya ngga akan ada gunanya. Jadi aturan nomor dua; DILARANG MENYERAH itu memang manjur banget untuk menjaga semangat di saat seperti ini.
Sedikit lagi. Bertahan sedikit lagi. Untuk mereka; kedua orangtua, adik dan pasangan saya yang selalu berada di belakang saya mendorong saya untuk terus berjalan meraih mimpi. Sedikit lagi. Dan akan saya bayar semua yang sudah mereka berikan untuk saya selama ini. Saya tidak akan sakit dan tidak akan menyerah.

Rabu, 25 Januari 2017

Perihal Mencintai..


Allahumma jurnii fi mushibati wakhuflii khoiron minha. (Ya Allah berikanlah pahala dalam musibahku ini dan berikanlah ganti kepadaku yang lebih baik darinya)...
Suatu siang ibu saya mengirimkan sms yang berisi sepenggal doa diatas. Ketika saya tanya kenapa, beliau hanya menjawab “Dibaca saja”. Saya termasuk orang yang memiliki sisi emosional yang cukup sensitif untuk hal – hal seperti di atas. Bagaimana saya memahami makna dibalik kejadian singkat tersebut sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu untuk anaknya, membuat airmata saya tanpa disadari menetes.
Saya sadar, setiap orang memiliki cara mencintai yang berbeda. Dan saya sadar pula, meskipun memiliki cara yang berbeda setiap orang memiliki tujuan yang sama; membuat orang yang dicintai berbahagia.
Ibu. Saya tidak menjelaskan secara rinci masalah yang sedang saya hadapi, tentu salah satu alasannya karena saya tidak ingin membuat beliau khawatir dan cemas. Dan beliau tanpa perlu ‘menuntut’ cerita panjang lebar mengirimkan sebuah doa yang beliau harapkan bisa membuat saya tenang. Ibu saya, setelah memarahi saya karena sikap saya yang begitu keras kepala langsung menangis di dalam kamar. Ibu saya, menelfon hingga belasan kali jika malam hari saya tak ada kabar. Ibu saya, setiap malam mengingatkan untuk tidak lupa mengunci pintu kamar sebelum tidur. Dan bentuk ketulusan cintanya yang lain.
Bapak. Saya selalu bingung mengungkapkan bagaimana bentuk cinta seorang Bapak. Mungkin sama seperti Bapak lain pada umumnya yang ada di dunia. Beliau adalah sosok yang jarang bertanya dan bercerita, entah apa alasannya. Pertanyaan wajib ketika Bapak menelfon saya hanya ada dua: Teteh sehat? dan Sudah sholat? Selebihnya terkadang waktu ditelfon hanya dihabiskan untuk saling diam. Namun yang saya ketahui di balik diam Bapak, beliau adalah sosok yang setiap hari selalu bangun tengah malam hanya untuk mendoakan saya. Bapak saya, adalah sosok yang langsung buru – buru menutup telfon ketika tahu saya mengangkat telfon dalam keadaan tidur atau sedang berada di jalan. Bapak saya, adalah sosok yang hanya memperlihatkan mata berkaca – kaca ketika melihat foto wisuda saya. Dan entah berapa banyak lagi beban yang beliau pikul karena mencintai saya.
Adek. Teman tumbuh besar bersama, meski di awal hubungan kami tidak sebaik sekarang. Saya tahu seberapa banyak kami saling tidak menyukai sewaktu masih kecil. Dan kini saya tahu seberapa banyak kami saling mencintai. Dia yang tidak pernah mengeluh ketika saya hubungi hanya jika saya sedang ada masalah. Dia yang hanya diam mendengarkan isak tangis saya lalu saya tutup telfon ketika tangis saya mereda. Dia yang hanya berkata “You always be mentioned in my prayer” ketika saya meminta ‘doain teteh’. Dia yang selalu berusaha menahan airmata setiap kali mengantarkan saya kembali ke tanah rantau. Lalu saya tidak menyadari dia tumbuh sedewasa itu dalam mencintai.
Dari mereka saya belajar bagaimana tulusnya mencintai. Saya sering salah memahami bahwa mencintai ternyata bukan hanya sekedar mengatakan ‘saya cinta kamu’ atau ‘I love you’. Bahwa mencintai bukan sekedar berusaha untuk selalu bersama setiap waktu. Beberapa waktu yang lalu, obrolan ringan dengan salah seorang teman di warung soto membuat saya sadar bahwa selama ini saya seringkali mencintai dengan cara yang salah.
“Gigih, apakah kamu benar – benar mencintai atau hanya berambisi memiliki?” Untuk beberapa saat saya diam hingga saya menjawab “Saya mencintai,”. Lalu teman saya itu melanjutkan kalimatnya “Kalau kamu mencintai seseorang, maka kamu akan mendoakan dia untuk selalu bahagia.”
Ya, bahwa selama ini saya hanya sibuk mempertahankan orang yang saya cintai untuk selalu berada di samping saya. Bahwa selama ini saya hanya memastikan orang yang saya cintai untuk tidak meninggalkan saya. Bahwa selama ini saya lupa bagaimana cara mencintai dengan ketulusan. Bahwa selama ini saya salah memilih cara mencintai. Bahwa selama ini saya menutup mata untuk menyadari mencintai tak selalu harus memiliki.
Ibu, bapak, adek, tentu mereka tahu bahwa saya tak selamanya akan berada di samping mereka. Mereka paling tahu bahwa suatu saat saya akan pergi (meski hati dan jiwa saya tidak pernah meninggalkan mereka), namun mereka tidak pernah berhenti mencintai. Mereka tidak pernah berhenti mendoakan. Mereka tidak pernah membenci. Dan mereka selalu menghargai.
Saya lupa bahwa dari semuanya, hanya Allah SWT lah yang maha memiliki. Maka akan menjadi sangat tidak tahu diri jika saya selalu berambisi untuk memiliki, tapi tidak meminta kepadaNya. Saya, harus banyak belajar bagaimana caranya selalu menyisipkan ketulusan dalam mencintai. Dan iya, saya harus banyak mendalami bahwa cara mencintai terbaik adalah selalu mendoakan yang terbaik pula untuk orang yang kita cintai.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog