Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2018

Tentang Hidup


Selalu ada fase dimana kamu harus berhadapan dengan pilihan yang akan menentukan bagaimana kehidupanmu nanti untuk rentang waktu yang panjang. Seperti saat ini. Saya pikir saya sudah cukup melewati itu kemarin, tapi ternyata belum selesai.
Setelah lulus, yang dilakukan hampir semua orang adalah mencari kerja. Tidak terkecuali saya. Beberapa bulan yang lalu, saya cukup kebingungan menentukan mau cari kerja dimana setelah lulus? Masih mau stay di Jogja, pulang ke kampung halaman atau justru mencari pengalaman baru pindah ke kota lainnya. Dari sebelum lulus, saya sudah mencari – cari info mengenai lowongan pekerjaan di banyak tempat. Tanya saudara, tanya teman yang sudah lulus juga, tanya kerabat teman, tanya di internet dan masih banyak lagi. Kenyataannya sampai waktunya tiba saya masih bingung juga.
Dua hari pasca ujian akhir UKMP2DG, saya dihubungi salah seorang teman untuk bisa menggantikan dia praktek di salah satu klinik gigi di Jogja. Kebetulan saat itu dia akan cuti melahirkan, jadi butuh dokter gigi pengganti di klinik. Tawaran teman saya langsung saya terima, tanpa memikirkan seberapa besar gaji yang akan saya dapatkan dan seberapa jauh lokasinya dari tempat tinggal saya. Saat itu saya berpikir, daripada menganggur menunggu pengumuman dan sumpah tidak ada salahnya saya terima tawaran ini untuk mengisi waktu dan mencari kenalan baru. Syukur – syukur bisa menambah penghasilan untuk uang jajan. Maka seminggu setelah ujian akhir saya langsung bekerja. Padahal dulu saya berkeinginan ketika lulus saya mau liburan dulu, istirahat sebentar sebelum mulai kerja keras cari uang. Tapi beban dan tanggungjawab ke orangtua mematahkan keinginan untuk bersantai – santai buang waktu. Saya merasa saya justru dikejar – kejar waktu. Bagaimana menunjukkan ke orangtua bahwa inilah hasil kerja keras kalian selama ini, saya sampai pada titik ini dan kini kalian tidak perlu khawatir dan bekerja lebih keras lagi. Sudah saatnya giliran saya yang bekerja keras untuk kalian, untuk masa – masa tua kalian.
Saya bekerja dengan penghasilan yang tidak bisa dibilang besar, pas pasan. Pas untuk isi bensin dan saat itu pas untuk mengurus administrasi pendaftaran Serkom, STR dan tetek bengek lainnya. Iya, saya masih membebankan orangtua untuk keperluan biaya hidup sehari – hari. Padahal saya bekerja.
Sejak itu saya berencana menyusun strategi baru. Mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Paling tidak pekerjaan yang membuat saya tidak perlu membebankan orangtua lagi dan syukur – syukur bisa menabung juga. Dengan banyak pertimbangan dan pemikiran pada saat itu, maka saya putuskan mencari lowongan pekerjaan lain dan menetap di Jogja untuk waktu yang belum bisa ditentukan seberapa lamanya. Setelah apply lamaran kesana kesini akhirnya saya menerima panggilan. Singkat cerita saya diterima di sebuah klinik gigi yang sudah cukup mempunyai nama di Jogja.
Namun seperti yang terjadi pada fresh graduate lainnya, tentu saya juga tidak bisa berharap atau mempunyai ekspektasi tinggi ketika bekerja di sebuah tempat. Bahwa kehidupan menjanjikan kemudahan dan keberlimpahan. Apalagi pengalaman kerja saya masih dibilang baru. Penghasilan saya di tempat kerja baru cukup untuk sendiri, memang lebih baik dari sebelumnya. Tapi beberapa masalah muncul, mungkin masalah yang tidak terpikirkan sebelumnya ketika saya memutuskan untuk tetap bekerja di Jogja. Sehingga beberapa tawaran pekerjaan di luar sana terlihat begitu mengundang.
Bukan, bukan semata – mata karena faktor ekonomi meskipun pada akhirnya pertimbangan ekonomi jadi salah satu yang tak bisa dihindari. Ada beberapa hal lain yang membuat saya akhirnya mau tidak mau harus mempertimbangkan tawaran lainnya untuk pindah. Meskipun harus diakui bahwa banyak dari tawaran tersebut tidak sejalan dengan keinginan dan harapan saya. Terkadang, yang kehidupan tawarkan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan bukan? Ya, kurang lebih seperti itulah.
Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa saja masalah yang akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk keputusan berat seperti saat ini. Pada akhirnya saya kembali ke titik ini. Berada di persimpangan untuk memutuskan dengan sangat hati – hati sekali, merencanakan dengan sangat matang sekali, menyiapkan cadangan jika lagi – lagi kehidupan tidak berjalan sesuai yang diharapkan atau direncanakan. Hidup memberikan kita pilihan; jalani atau tinggalkan. Namun tidak memberikan kita pilihan; yang kita sukai dan tidak kita sukai.
Hingga pada satu waktu saya bertanya pada diri sendiri “Apa yang saya cari dalam hidup ini?”. Lalu saya jawab “Bahagia.” Jawaban klasik. Tapi bahagia dalam bentuk seperti apa saya tidak pernah tahu. Saya pernah berpikir bahwa bahagia hanya tentang diri saya sendiri. Jujur terhadap diri sendiri tentang apa yang saya inginkan, tidak perlu mempertimbangkan orang lain apalagi berusaha menjadi orang lain. Saya tidak perlu memikirkan berapa sisa uang di dompet hari ini, bukan karena hidup saya yang serba berkecukupan, tapi karena saya percaya hidup bukan hanya melulu tentang materi. Saya tidak perlu memikirkan bagaimana orang lain berpikir atau berpendapat tentang saya, karena saya yang paling tahu apa yang saya pikirkan dan rasakan sendiri. Saya tidak perlu memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya, karena saya punya ekspektasi sendiri mengenai hidup yang akan saya jalani. Meskipun semuanya harus dibayar dengan cap ‘egois’.
Nyatanya, kehidupan tak melulu seperti itu. Kamu harus memikirkan berapa sisa uang di dompet agar bisa makan dan tidak mati. Kamu harus memikirkan kehidupan orang lain juga yang mungkin berpengaruh atas kehadiran atau ketidakhadiranmu. Hidup mengharuskan kamu mempertimbangkan itu semua walau sebenarnya kamu berusaha untuk tidak peduli. Maka saya kembali berada pada titik ini, fase ini. Memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal untuk mengambil keputusan dalam hidup saya yang mungkin saja berlaku untuk jangka panjang, seumur hidup mungkin. Realistis kata orang, tapi bagi saya mengenyampingkan hati kecil. Dan saya tidak tahu mana yang benar yang harus saya lakukan.
Kalau kamu? Pernahkah berada pada fase seperti ini? Apa yang kamu lakukan? Hidup realistis atau tetap mengikuti keinginan hati kecil?

Minggu, 06 Mei 2018

My Hippocratic Oath


Long time no poooost. Udah berapa bulan ya ngga nge-blog. Kemarin, -lebih tepatnya dari akhir tahun kemarin- saya fokus nyelesain sekolah (Koas). Bisa dilihat dari tough life nya Koas di salah satu tulisan di blog saya beberapa waktu yang lalu. Iya, dari Desember sudah ngga Koas lagi alias ngga ngerjain pasien lagi dan hanya persiapan ujian akhir yang ada beberapa tahap. Nanti akan saya ceritakan sedikit tahapannya ya, walaupun buat pembaca mungkin ngga penting hehehe.
Alhamdulillaaaah, setelah beberapa waktu vakum dari dunia per-blog-an (oke maaf, rada alay) akhirnya sekarang bisa ngatur waktu free buat nulis di sela – sela waktu ngga kerja. And finally, kerja juga sekarang. Ngga jadi mahasiswa lagi. Bisa beli keperluan pake uang gaji, one of my important points. Karena jujur yaa, selama ini rasanya kayak beban banget beli ini itu yang dimau tapi masih pake uang orangtua. Walaupun ngga selalu, dan kadang nabung atau nyari uang sendiri dengan jualan ini itu, pokoknya gimana caranya biar minta uang ke orangtua itu dijadikan pilihan terakhir. Tapi berbeda rasanya ketika saya beli keperluan atau memenuhi kebutuhan pake uang hasil keringat sendiri.
Oke, perjalanan saya beberapa bulan terakhir ini akan saya ceritakan dari sini....


Awal bulan Desember sudah mulai dibuka verifikasi ujian akhir untuk mahasiswa profesi KG. Untuk bisa ikut ujian akhir kita harus verifikasi berkas yang antara lain seluruh laporan kasus, nilai – nilai ujian harian, nilai – nilai diskusi, dan catatan follow up seluruh requirement pasien selama koas. Lengkap. Seluruh modul. Jadi, tiap hari kerjaannya ya kudu nyelesain keperluan dan pritilan buat verifikasi tutup modul akhir. Setelah selesai verifikasi, barulah diumumkan nama – nama mahasiswa yang bisa ikut ujian Komprehensif yang diadakan oleh Fakultas masing – masing universitas. Ujian komprehensif ini adalah ujian awal menuju ujian nasional yang diadakan Kementerian. Untuk ujian komprehensif, pada angkatan kelulusan saya diadakan sistem baru yaitu dengan mempresentasikan dua kasus terpilih dari pasien Komprehensif selama Koas. Ngga bisa dibilang mudah, walaupun di sistem baru kita ngga perlu lagi cari pasien cabut atau tambal untuk ujian, karena dengan sistem baru kasusnya jadi lebih luas tergantung dosen mau pilih kasus mana yang mereka anggap “menarik dan menantang”. Singkat cerita (langsung aja ya biar ngga kepanjangan), saya lulus ujian Komprehensif tahap awal dan bersiap menuju ujian yang sebenarnya. Hahaha.

Gini nih suasana ujian Komprehensifnya.. 


Ujian Kompetensi Nasional (UKMP2DG) diadakan pada akhir Januari. Sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan tersebut, kami yang berhasil lolos untuk ujian kompetensi diwajibkan mengikuti mentoring dan persiapan dari dosen setiap hari. Berasa throwback SMA banget ikut jam tambahan sebelum UN. Dari pagi jam 8 sudah mentoring nonstop sampai jam 4 sore, kadang sampai magrib juga, trus dilanjutin belajar bareng bahas contoh – contoh soal sama temen – temen sampai jam 10-11 malam, pulang ke kos masih baca – baca materi lagi sebelum tidur. Begitu terus setiap hari selama hampir satu bulan. Badan udah kayak zombie asa melayang gitu, tapi tetep dipaksain ngga boleh jatuh sakit sampai paling ngga selesai ujian kompetensi. Ujian diadakan selama dua hari, yaitu hari pertama ujian teori berbasis komputer (CBT) , dan hari kedua ujian OSCE (praktek atau simulasi tindakan). Sehari sebelum hari H ujian OSCE atau ujian hari terakhir, tidur cuma paling setengah jam. Semalaman bener – bener melek buat pelajarin materi yang seabrek – abrek, lalu berlanjut ujian pada pagi harinya jam 8. Sehingga selesai ujian baru tepar, tidur di ruang isolasi ujian sampai ngga sadar waktu. Hahaha. Lumayan lah bisa istirahat sembari menunggu giliran kloter yang lain selesai ujian, karena kita ngga dibolehkan pulang sebelum semua peserta selesai ujian. Dan peserta ujian dibagi men jadi 3 kloter, masing – masing kloter punya waktu 120 menit. 
Belajar sambil didoain dan diceramahin ala LQ, ujung - ujungnya nangis 😢

Fyi, OSCE adalah ujian paling menyeramkan untuk kami, gimana ngga? Pada ujian OSCE kita (masing – masing peserta ujian) akan berhadapan dengan penguji satu orang dengan jarak yang hanya dibatasi meja penguji, harus menjelaskan diagnosa dan mensimulasikan tahapan – tahapan pekerjaan dengan kasus yang kita ketahui saat itu juga hanya dalam waktu 10 menit secara sempurna. Ya, sempurna. Karena para penguji sudah memiliki kunci jawaban sendiri untuk dicocokkan dengan jawaban kita. Kalau diagnosa yang kita jelaskan salah dan tahapan perawatan berbeda atau tidak sesuai urutan dengan kunci jawaban, habislah kita dengan nilai NOL. Dan lagi kita harus melewati 10 stase dalam ujian OSCE, artinya ada 10 kasus berbeda yang harus dijelaskan setiap 10 menit sekali. Could you imagine? 120 menit (10 stase ujian dan 2 stase selama masing – masing 10 menit adalah stase istirahat) di dalam ruang ujian hanya dengan penguji yang hanya mendengarkan jawaban kita dan tidak boleh bersuara, adalah 120 menit yang berasa 120 jam!

Ini ujian CBT hari pertama UKMP2DG
Dan ketegangan saat OSCE keliatan banget dr CCTV. Hayo tebak saya yang mana? hahaha.



Pengumuman ujian kompetensi baru diketahui pada pertengahan bulan Februari atau kurang lebih 2-3 minggu setelah ujian diadakan dan diumumkan secara serempak seluruh Indonesia. Bayangin dong ngga bisa tidurnya nungguin pengumuman. Oh ya, peserta ujian yang tidak lulus harus mengulang ujian pada gelombang berikutnya yaitu tiga bulan yang akan datang, karena ujian kompetensi diadakan setiap tiga bulan sekali. Jadi ngga ada yang namanya remed. Dan itu semakin bikin ngga bisa tidur. Tapiii, alhamdulillah sekali saat hari pengumuman nama saya dinyatakan LULUS.
Setelah pengumuman lulus, saya disibukkan dengan persiapan yudisium dan sumpah profesi. Ah akhirnya, bisa disumpah juga. Setiap kali lihat temen sumpah selalu bertanya di dalam hati, kapan ya aku bisa sumpah juga? Tapi ternyata Allah SWT baik sekali, beliau menjawab semua doa pada waktu yang tepat. Menuju hari sumpah, pusingnyaaa MasyaAllah. Semua persiapan sumpah kita sendiri yang atur dengan waktu yang singkat, ngga sampai satu bulan. Mulai dari booking gedung, katering, dokumentasi, nyiapin kostum, dekor, undangan, souvenir sampai menghubungi pengisi acara. Udah kayak mau nikahan aja. Besok – besok kayaknya bisa bikin EO/WO sendiri deh. Setiap hari bolak – balik ketemu dan ngubungin vendor, memastikan yang mereka siapkan sesuai dengan yang kita inginkan. Di samping itu kita juga masih harus menyelipkan waktu untuk mengurus keperluan yudisium profesi yang hanya berjarak ngga sampai 2 minggu dari hari sumpah dokternya.
Daaaan hari sumpah pun tiba, 7 Maret 2018. Didampingi kedua orangtua dan orang – orang terdekat kami tentunya, kami bisa mengucapkan sumpah profesi dokter gigi. Terharunyaaa luar biasa, sampai meneteskan airmata. Sangat khidmat dan sakral. Bukan main, tujuh tahun lebih berjuang di bidang yang saya pilih ini, melewati segala suka duka terbayar dengan bahagia luar biasa ketika bisa bersumpah untuk mengemban amanah baru di hadapan dosen dan orang – orang tercinta. Moment yang tidak terlupakan seumur hidup!!


Deg degan parah sih ini..

Dan inilah moment moment yang terekam bersama mereka yang saya cintai....
 






And here, I am.

Rabu, 10 Januari 2018

Jogja - Kuningan..



Hai, sepertinya sudah lama ngga cerita pengalaman ya. Jadi kali ini saya akan cerita salah satu pengalaman tak terlupakan yang baru terjadi beberapa hari yang lalu, mumpung masih segar dalam ingatan. Cerita ini tentang perjalanan ‘panjang’ yang kami (read: saya dan rombongan) alami sewaktu menghadiri pernikahan salah satu kerabat di luar kota. Perjalanan kami dipenuhi dengan ketidakberuntungan yang membuat cerita ini menjadi salah satu moment tak terlupakan. Siapkan cemilan, tissue, dan teman yang bisa dipukul karena kamu akan terlalu bersemangat untuk menertawakan kami. Hehehe.

Pasangan yang akan menikah waktu itu adalah Mas Eka dan Mba Tami. Siapa Mas Eka? Dia adalah pemilik toko buku online tempat pasangan saya bekerja. Saya kenal Mas Eka sekitar awal tahun 2016 saat pasangan saya mulai bekerja dengan beliau. Jarak umur yang tidak terlalu jauh dan sikapnya yang supel membuat saya cukup dekat dan menghormati beliau layaknya adik ke kakak. Beberapa waktu yang lalu Mas Eka memutuskan untuk meminang kekasih hatinya Mba Tami, gadis asal Kuningan Jawa Barat. Singkat cerita, setelah merencanakan sejak beberapa waktu sebelumnya sepakatlah kami akan menghadiri pernikahan mereka di Kuningan menggunakan mobil.

4 Januari 2018, tiba – tiba handphone saya berbunyi menandakan sebuat pesan whatsapp masuk. Saat itu saya sedang berada di tempat makan bersama pasangan. Info dari sebuah grup, Sabtu tgl 6 Januari pkl 15.00 dijadwalkan ujian ulangan CBT Kompre untuk saya. Mendadak hilang nafsu makan saya. Bagaimana tidak, kami merencanakan untuk berangkat ke Kuningan pada tgl 5 Januari malam. Akhirnya saya putuskan, lebih baik saya tidak berangkat saja. Namun setelah obrolan dan pertimbangan panjang lebar dengan rombongan dan Mas Eka, disepakatilah keberangkatan dibagi menjadi dua kloter. Kloter pertama yaitu Mas Eka, Tiyo, Rijen dan Arab berangkat pada hari Jumat (5 Januari) malam. Kloter kedua yaitu Saya, pasangan saya, Ratih, Kang Oleh, Kang Cep dan Mas Anwar berangkat pada Sabtu (6 Januari) sore setelah saya selesai ujian.

6 Januari 2018, pukul 16.30 saya dengan tergesa – gesa pulang setelah ujian untuk bersiap – siap berangkat ke Kuningan. Pukul 17.00 kami berangkat dan sepanjang perjalanan hingga makan malam sehabis magrib semuanya masih berjalan lancar. Hingga kami harus melewati jalanan yang ‘cukup menantang’, Mas Anwar sebagai supir cukup kewalahan menghindari lubang – lubang dan genangan air sepanjang perjalanan. Lampu mobil yang seperti petromaks akhirnya memaksa mobil untuk terhenti sesaat setelah Mas Anwar tanpa sengaja mengarahkan mobil ke lubang yang cukup besar di tengah jalan. Setelah hening untuk beberapa saat perjalanan dilanjutkan dengan kondisi stir mobil yang ‘menurut pengakuan supir’ agak rewel setelah menabrak lubang. Waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam ketika kami berhenti di sebuah bengkel di daerah Gombong. Setelah menunggu sekitar satu setengah jam untuk memperbaiki mobil, perjalanan kami lanjutkan dengan supir diganti pasangan saya dan stir mobil yang sudah lebih mendingan dari sebelumnya (walaupun belum sepenuhnya pulih). Pukul setengah 5 pagi kami memutuskan untuk berhenti sebentar di mesjid untuk sholat subuh dan istirahat. Namun musibah datang lagi. Saat menepikan mobil di mesjid di Ciamis, stir blong yang artinya mobil tidak bisa dikendarai. Kelelahan dan kelaparan menghampiri. Sedikit panik juga mengingat akad nikah Mas Eka tinggal hitungan jam dan kita masih belum sampai Kuningan. Beruntungnya ada seorang warga yang berniat membantu kita mencarikan bengkel atau montir di subuh hari menuju pagi itu. Namanya Bapak Fendi, warga asli Ciamis. Beliau bahkan menawarkan kami untuk beristirahat sejenak di rumahnya sembari beliau dan pasangan saya mencari jalan keluar. Setelah berkeliling mencari bengkel dan montir, kami juga berupaya mencari rental mobil di daerah Ciamis (yang sayangnya tidak ada yang kosong), akhirnya kami diantar oleh kakak ipar Bapak Fendi menuju pasar Ciamis untuk naik bus menuju Cirebon dan mobil ditinggal di halaman mesjid tempat kami berhenti tadi. Sesampai di pasar, setelah menunggu beberapa waktu dan membuat kesepakatan dengan supir bus untuk mengantarkan kami ke Kuningan, akhirnya kami naik bus yang berbau solar, berbunyi berisik dan setiap jalan berkelok kami harus merasakan goyangan seperti saat sedang bermain bombom-car, dan membuat mabuk darat. Keapesan kami berlanjut ketika kami diturunkan di pasar dan dioper ke bus lain menuju Kuningan. Padahal kesepakatan sebelumnya dengan supir, kami akan diantarkan langsung ke Kuningan. Jam menunjukkan pukul setengah 8 pagi saat kami terpaksa pindah bus dan meminta supir untuk segera mengantarkan kami karena waktu yang sudah semakin mendesak. Tapi kesepakatan hanya tinggal kesepakatan, supir masih saja terus terusan berhenti menarik penumpang meskipun kami sudah protes ingin segera diantarkan dan terburu – buru. Pukul 9 pagi kami tiba di hotel saat rombongan lain di kloter sebelumnya sudah berada di gedung pernikahan bersiap – siap untuk akad nikah. Apes tak hanya sampai disitu, karena ketika terburu – buru untuk mandi, air di kamar mandi hotel mati.

Kami baru bisa sampai di gedung acara dengan naik angkot pukul setengah sebelas siang dan melewati momen istimewa akad nikah, dikarenakan berbagai keapesan bertubi – tubi sepanjang perjalanan. Saat kami tiba, pasangan pengantin sudah SAH dan tersenyum bahagia di pelaminan. Senyum sumringah Mas Eka dan Mba Tami membuat kami pada akhirnya hanya menertawakan berbagai kesialan kami untuk bisa sampai ke Kuningan ini. Pengantin bahagia, kami pun ikut bahagia mengikuti acara.

Kekesalan dan kelelahan sepanjang perjalanan terasa hilang saat berkumpul bersama sore harinya di hotel tempat kami menginap (Oh ya, akhirnya kami pindah hotel karena air di hotel pertama yang mati tadi). Tentu saja obrolan yang dibahas hanya seputar bagaimana serunya perjalanan yang kami tempuh sekitar 16 jam dari Jogja – Kuningan. Pengalaman pertama ke Kuningan yang membuat cerita ini tentu akan tetap seru untuk diceritakan lagi bahkan ketika nanti pasangan pengantin baru ini sudah mempunyai cucu.  

Dan akhirnya bisa ketawa lepas sama pengantin. 😄💕
Selamat menikah Mas Eka dan Mba Tami. Berbahagialah, selamanya.

Rabu, 08 November 2017

Dilarang Sakit.. Dilarang Menyerah..



Kalimat yang sering saya dengar akhir – akhir ini di lingkungan ‘lengkung AMC’ –daerah kekuasaan mahasiswa profesi tingkat akhir di AMC karena kita udah hampir ngga pernah masuk bangsal lagi– adalah “DILARANG SAKIT!” dan “DILARANG MENYERAH!”.
Berangkat pagi disaat pegawai pun belum datang (kadang jam tujuh pagi udah nangkring di lengkung) pulang sore kadang malam, dari yang wajah masih segar sampai wajah sudah kucel, lari kesana kesini mengejar dosen, revisi laporan bolak balik ke fotocopyan, menu makan tiap hari di kantin sama, plus bonus pulang kehujanan karena Jogja belakangan ini sering hujan deras dan awet, kita tetap dilarang keras untuk jatuh sakit disaat – saat seperti ini. Pemandangan ketiduran di lengkung, laptop jejeran kayak costumer service, rebutan DOPS buat minta nilai, misuh – misuh saat ditolak ujian atau diskusi lagi dengan dosen, dan heboh ketika lihat dosen yang lagi dicari tiba – tiba jalan santai di bangsal udah jadi makanan sehari – hari. Terkadang kita saling curhat sampai pengen nangis, mau lulus kok gini amat ya, tapi selaluu aja ada yang nyemangatin dengan teriak keras “Jangan nyerah sih, dikit lagi”. Atau kalau ada yang mulai bilang “Aku udah capek ni kok ngga kelar – kelar ya?” selalu aja ada yang bilang “Ngga boleh capek, ngga boleh sakit. Mau lulus kapan klo dikit – dikit capek, dikit – dikit sakit?” Saling gantian menyemangati, karena kita semua tahu kondisi kita sama. Terlebih kita semua tahu tujuan kita saat ini sama, LULUS SECEPATNYA.
Saya, sudah dua minggu lebih ini batuk ngga sembuh – sembuh. Kalau pulang kehujanan, batuknya semakin menjadi – jadi, ditambah bersin – bersin pula. Tapi kalau sudah berada di lingkungan lengkung dengan ‘teman – teman seperjuangan’ yang orangnya setiap hari itu – itu aja, jadi lupa kalau saya sakit dan seharusnya banyak istirahat. Minum obat tetap jalan, tapi revisian dan ujian diatas segala – galanya. Pulang ke kost langsung tepar, dan baru terasa lelah selelah lelahnya. Ingin tidur yang panjang, tapi setiap mau tidur kepikiran laporan lagi laporan lagi ujung – ujungnya ngga bisa tidur dan yaa begitulah setiap hari. Aturan nomor satu tetap; DILARANG SAKIT.
Kemarin saya mendengar sebuah lagu baru dari salah satu grup band favorit saya, Noah, judulnya Jalani Mimpi. Entah karena memang saya orangnya hiperbola, baperan, atau memang saya sedang dalam fase sensitif, liriknya yang sebenarnya biasa aja bisa bikin saya menangis ngga berhenti.  
Teruslah kau mencari.. Waktu akan selalu mengobati.. Temukan semua yang terhenti dalam hidupmu.. Tak perlu kau sesali.. Hidup kan membuatmu memahami.. Coba untuk tetap berdiri jalani mimpi..
Biasa aja kan? But I felt complicated. Di tengah – tengah masa berjuang seperti ini, saya ingat kembali tujuan saya disini untuk memberikan kebanggan ke orang – orang yang menyayangi saya terutama kedua orangtua saya. Sesulit apapun perjuangan saya, tentu tidak sebanding dengan perjuangan yang sudah mereka lakukan agar saya bisa tetap berdiri. At that point, down banget dan kadang ngerasa kecewa sama diri sendiri. Kenapa untuk menjalankan kewajiban yang seperti ini aja saya ngerasa berat dan sering mengeluh? Kenapa usaha saya ngga sebesar apa yang sudah orang – orang terdekat saya harapkan kepada saya? Tapi saya sadar, mau kecewa mau nangis pun kalau semua ngga dilanjutkan dan diselesaikan dengan baik ya ngga akan ada gunanya. Jadi aturan nomor dua; DILARANG MENYERAH itu memang manjur banget untuk menjaga semangat di saat seperti ini.
Sedikit lagi. Bertahan sedikit lagi. Untuk mereka; kedua orangtua, adik dan pasangan saya yang selalu berada di belakang saya mendorong saya untuk terus berjalan meraih mimpi. Sedikit lagi. Dan akan saya bayar semua yang sudah mereka berikan untuk saya selama ini. Saya tidak akan sakit dan tidak akan menyerah.

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog