Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peristiwa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Belajar Menikmati Profesi

Saat yang lain sudah beralih ke vlog, saya masih setia dengan blog. Hahaha. Pertama, saya nggak punya kamera bagus seperti yang para vlogger itu punya atau pakai untuk nge-vlog. Kedua, saya tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera di tempat umum sambil bicara pula. Ketiga, saya tidak terlalu berambisi untuk eksis dan jadi pusat perhatian banyak orang. Menulis di blog pun, bukan karena berharap banyak orang bisa membaca tulisan saya lalu saya bisa menjadi blogger terkenal. Menulis di blog, murni karena keinginan saya untuk menyalurkan emosi saya tentang berbagai cerita, pikiran atau isi hati. Agar suatu hari ketika saya membaca kembali tulisan – tulisan saya di blog, saya masih bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah saya lalui di hari – hari sebelumnya.
            Seperti kali ini, saya ingin blog ini menjadi wahana pengingat untuk masa yang akan datang bahwa saya pernah tidak sengaja terlibat dalam kampanye politik dengan kedok Baksos. Hahaha. Tolong digarisbawahi, TIDAK SENGAJA, agar nanti saya tidak malu pada diri sendiri.
            Beberapa hari yang lalu, seorang teman sejawat (TS) menghubungi saya dan menawarkan saya untuk turut serta dalam kegiatan baksos. Acaranya memang pada akhir minggu, tapi masih dalam hari kerja saya di Puskesmas dan diluar kota pula walaupun hanya kota sebelah – Sungailiat. Berhubung sudah tiga bulan gaji saya bekerja di Puskesmas belum cair juga, dan isi dompet sudah meraung – raung, saya putuskan untuk menerima tawaran TS tersebut. Demi menambah penghasilan tambahan untuk sementara waktu, dan saya pikir saya bekerja sesuai dengan profesi saya. Saya bekerja untuk melayani dan membantu masyarakat berdasarkan ilmu yang saya miliki dan pelajari. Lalu tidak ada salahnya, kan?
Namun ternyata pada hari H begitu hampir tiba di lokasi acara, kami (saya dan dua TS dokter gigi lainnya) baru tahu kalau baksos tersebut merupakan acara partai dalam rangka kampanye salah satu caleg DPR RI. Dari dulu, saya anti dengan politik. Walaupun Bapak saya pernah terseret arus politik, atau teman – teman saya juga berkecimpung di dunia politik, tetapi saya enggan berurusan dengan hal semacam itu. Meskipun porsi saya hanya sebatas anggota tim medis yang bertugas dan membantu mendukung jalannya kegiatan saat acara kampanye, tetapi sebuah tiba – tiba ketika wajah saya didokumentasikan oleh panitia tim sukses bersama si Bapak Caleg ini membuat saya rasanya harus menutup muka.
            Tapi baiklah, fokus kali ini bukan pada kampanye politiknya. Tetapi pada acara baksosnya. Saya bekerja sebagai tim medis yang melayani masyarakat, bukan tim sukses suatu partai politik.
            Hari H tanggal 9 Maret 2019, acara dimulai pukul delapan pagi, jadi pada pukul tujuh saya sudah berangkat dari rumah. Titik kumpul awal berada pada Klinik Alfatih Pangkalpinang, setelah semua tim berkumpul kita berangkat menggunakan mobil ke lokasi acara. Kebetulan khusus tim dokter gigi diangkut menggunakan satu mobil, tentu dengan supir yang sudah disiapkan dari panitia. Berasa spesial ya diperlakukan seperti itu, sebelum negara api menyerang dan kita berakhir kelelahan >.<
Tiba di lokasi sudah banyak orang yang datang, mulai dari panitia hingga peserta baksos. Kami langsung menuju tempat bekerja kami di bagian pelayanan pemeriksaan gigi untuk membantu mempersiapkan alat dan bahan. Disana sudah ada empat dokter gigi lainnya yang ternyata didatangkan dari Jakarta. Saya tidak tahu pertimbangannya apa mendatangkan dokter gigi dari daerah lain ketika sebenarnya di daerah sendiri masih banyak dokter gigi yang dapat diajak bekerjasama untuk kegiatan semacam ini.
Satu per satu pasien datang. Kami terbagi menjadi dua tim; tiga orang dokter gigi melayani penambalan, tiga orang dokter gigi melayani pencabutan dan satu orang dokter gigi melakukan screening awal pasien. Saya dan dua TS dari Pangkalpinang memilih tim tambal gigi. Saat itu kami berpikir akan banyak datang pasien yang ingin mencabut giginya. Beberapa bulan bekerja di Puskesmas (kebetulan dua orang TS saya yang lainnya juga bekerja di Puskesmas) sedikit banyak membuat kami tahu kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat disini. Tapi ternyataaa, kami salah! Pasien yang datang hari itu lebih banyak ingin menambal gigi daripada mencabut giginya. Sehingga kami sebenarnya cukup kewalahan dan kecapaian melayani pasien yang antri cukup banyak hingga pukul tiga sore. Itupun, jika pendaftaran pasien tidak kami minta untuk dihentikan mungkin masih akan banyak antri pasien. Bayangkan, dari pukul delapan pagi hingga tiga sore kami hanya punya waktu istirahat ketika makan siang dan sholat. Itu pun bergantian.
            Jangan tanyakan bagaimana rasanya tubuh kami. Empat pasien di puskesmas saja sudah lumayan menguras tenaga, apalagi baksos kali ini yang total keseluruhan pasien gigi ada sekitar 70an dengan tujuh orang dokter gigi. Mandi keringat di ruangan non ac yang cukup ramai orang dengan cuaca hari itu yang cerah bersinar. Terlalu banyak duduk dan menunduk karena kursi pasien yang terlalu rendah sedangkan kursi duduk kami agak tinggi dan keras serta kondisi headlamp yang lebih banyak tidak berguna daripada membantu membuat kami merasa pegal – pegal di lengan, pinggang hingga betis. Dan penambalan, membutuhkan waktu hampir dua bahkan tiga kali lipat daripada cabut gigi. Alhasil, keesokan harinya kondisi tubuh saya menurun dan jatuh sakit. Hahahaha, saya memang payah.
            Dari acara baksos pertama yang saya ikuti setelah pindah bekerja di Bangka, saya dapat menganalisa satu hal. Karakter masyarakat disini adalah masyarakat dengan ability to pay tinggi namun willingness to pay rendah. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tingkat pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan gigi mereka rendah, karena buktinya pada acara baksos seperti ini yang tidak dipungut biaya, mereka berbondong – bondong datang meminta gigi mereka dirawat. Namun akan berbeda situasi jika mereka datang sendiri ke dokter gigi atau puskesmas, mereka akan lebih memilih untuk mencabut gigi mereka hanya karena satu alasan utama: tarif menambal gigi lebih tinggi daripada tarif mencabut gigi.
            Saya sedikit gemas dan kesal ketika merawat seorang pasien di acara baksos kemarin. Pasien saya adalah gadis muda yang memiliki wajah cukup mulus dan cantik. Dia datang ingin meminta dua giginya ditambal, yang saya tahu kondisi giginya belum berlubang dan baru ada bayangan kehitaman. Bukan, bukan karena dia cantik atau giginya yang tidak berlubang ingin ditambal yang membuat saya kesal. Tapi karena kondisi rongga mulutnya yang sangat kotor. Karang gigi dimana – mana dan sudah cukup tebal. Yang saya herankan adalah pasien tersebut belum pernah ke dokter gigi sama sekali sebelumnya untuk memeriksakan kondisi tersebut. Ketika saya menjelaskan mengenai kondisi giginya yang tidak berlubang namun akan ditambal, pasien paham bahwa tindakan tersebut adalah tindakan pencegahan sebelum giginya rusak lebih parah. Lalu ketika saya menjelaskan bahwa kondisi terburuk dan tindakan utama yang seharusnya dilakukan terkait rongga mulutnya adalah melakukan pembersihan karang gigi (yang sayangnya tidak dilayani dalam baksos tersebut), respon pertama pasien saat itu adalah pertanyaan “Mahal nggak, Dok?”. Disitulah kekesalan saya muncul.
            Kenapa biaya atau harga selalu jadi hambatan utama? Bukan karena sok kaya, atau karena saya berada pada posisi sebagai dokter. Tapi bukankah ada istilah ‘Sehat itu mahal’? Jika mampu menyisihkan uang untuk membeli alat make-up atau melakukan perawatan wajah, seharusnya juga mampu menyisihkan uang untuk melakukan pengobatan atau memeriksakan kesehatan giginya. Setidaknya melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi hanya butuh enam bulan sekali jika dibandingkan perawatan wajah semacam facial atau perawatan rambut seperti creambath yang biasanya dilakukan rutin sebulan sekali. Mengapa kesehatan gigi dan mulut diabaikan atau dianggap bukan hal penting? Padahal semua tahu, menjaga gigi dan mulut juga termasuk dalam menjaga kesehatan.
            Menjadi PR besar bagi saya dan TS lainnya untuk memperbaiki pola pikiran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tubuh dari kepala sampai kaki adalah satu keseluruhan sistem. Maka tak ada satu bagian atau organ tubuh yang jauh lebih penting daripada bagian atau organ tubuh lainnya. Semua sama pentingnya untuk dijaga keutuhan dan kesehatannya, tak terkecuali gigi dan mulut. Karena semua memiliki fungsi dan cara kerja masing – masing.
            Selalu ada kelegaan dalam hati saya setiap kali saya selesai memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Apalagi jika pasien atau masyarakat mengangguk – anggukkan kepala setiap saya selesai bicara. Rasanya ada hal kecil berguna yang dapat saya bagikan untuk banyak orang terutama masyarakat. Setidaknya jika mereka belum paham, kini mereka tahu. Bukankah sebelum memahami kita harus mengetahui terlebih dahulu? Kondisi masyarakat di tempat tinggal saya dengan mayoritas latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di kota besar. Hal itu menjadi tantangan untuk diri saya sendiri dalam mengedukasi dan meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan bagian tubuh lainnya khususnya gigi dan mulut. Harapan saya dahulu bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat kecil kembali mengudara. Paling tidak jika saya belum mampu memberikan apa – apa, saya mulai berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya.
            Jangan, jangan sembunyikan kemampuan dan pengetahuanmu untuk mereka yang belum atau tidak tahu. Semakin banyak yang kita bagi, semakin banyak pula yang kita dapatkan terutama tentang ilmu. Dan sesuai sumpah profesi yang pernah saya ikrarkan, saya akan terus membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan. Insyaallah.

Note:
Hanya ini satu satunya foto yang saya punya dari acara kemarin. Kursi yang saya gunakan untuk memeriksa dan merawat pasien. Serba apa adanya, tapi ternyata cukup menyiksa raga. 😌😌

Senin, 25 Juni 2018

Tentang Hidup


Selalu ada fase dimana kamu harus berhadapan dengan pilihan yang akan menentukan bagaimana kehidupanmu nanti untuk rentang waktu yang panjang. Seperti saat ini. Saya pikir saya sudah cukup melewati itu kemarin, tapi ternyata belum selesai.
Setelah lulus, yang dilakukan hampir semua orang adalah mencari kerja. Tidak terkecuali saya. Beberapa bulan yang lalu, saya cukup kebingungan menentukan mau cari kerja dimana setelah lulus? Masih mau stay di Jogja, pulang ke kampung halaman atau justru mencari pengalaman baru pindah ke kota lainnya. Dari sebelum lulus, saya sudah mencari – cari info mengenai lowongan pekerjaan di banyak tempat. Tanya saudara, tanya teman yang sudah lulus juga, tanya kerabat teman, tanya di internet dan masih banyak lagi. Kenyataannya sampai waktunya tiba saya masih bingung juga.
Dua hari pasca ujian akhir UKMP2DG, saya dihubungi salah seorang teman untuk bisa menggantikan dia praktek di salah satu klinik gigi di Jogja. Kebetulan saat itu dia akan cuti melahirkan, jadi butuh dokter gigi pengganti di klinik. Tawaran teman saya langsung saya terima, tanpa memikirkan seberapa besar gaji yang akan saya dapatkan dan seberapa jauh lokasinya dari tempat tinggal saya. Saat itu saya berpikir, daripada menganggur menunggu pengumuman dan sumpah tidak ada salahnya saya terima tawaran ini untuk mengisi waktu dan mencari kenalan baru. Syukur – syukur bisa menambah penghasilan untuk uang jajan. Maka seminggu setelah ujian akhir saya langsung bekerja. Padahal dulu saya berkeinginan ketika lulus saya mau liburan dulu, istirahat sebentar sebelum mulai kerja keras cari uang. Tapi beban dan tanggungjawab ke orangtua mematahkan keinginan untuk bersantai – santai buang waktu. Saya merasa saya justru dikejar – kejar waktu. Bagaimana menunjukkan ke orangtua bahwa inilah hasil kerja keras kalian selama ini, saya sampai pada titik ini dan kini kalian tidak perlu khawatir dan bekerja lebih keras lagi. Sudah saatnya giliran saya yang bekerja keras untuk kalian, untuk masa – masa tua kalian.
Saya bekerja dengan penghasilan yang tidak bisa dibilang besar, pas pasan. Pas untuk isi bensin dan saat itu pas untuk mengurus administrasi pendaftaran Serkom, STR dan tetek bengek lainnya. Iya, saya masih membebankan orangtua untuk keperluan biaya hidup sehari – hari. Padahal saya bekerja.
Sejak itu saya berencana menyusun strategi baru. Mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Paling tidak pekerjaan yang membuat saya tidak perlu membebankan orangtua lagi dan syukur – syukur bisa menabung juga. Dengan banyak pertimbangan dan pemikiran pada saat itu, maka saya putuskan mencari lowongan pekerjaan lain dan menetap di Jogja untuk waktu yang belum bisa ditentukan seberapa lamanya. Setelah apply lamaran kesana kesini akhirnya saya menerima panggilan. Singkat cerita saya diterima di sebuah klinik gigi yang sudah cukup mempunyai nama di Jogja.
Namun seperti yang terjadi pada fresh graduate lainnya, tentu saya juga tidak bisa berharap atau mempunyai ekspektasi tinggi ketika bekerja di sebuah tempat. Bahwa kehidupan menjanjikan kemudahan dan keberlimpahan. Apalagi pengalaman kerja saya masih dibilang baru. Penghasilan saya di tempat kerja baru cukup untuk sendiri, memang lebih baik dari sebelumnya. Tapi beberapa masalah muncul, mungkin masalah yang tidak terpikirkan sebelumnya ketika saya memutuskan untuk tetap bekerja di Jogja. Sehingga beberapa tawaran pekerjaan di luar sana terlihat begitu mengundang.
Bukan, bukan semata – mata karena faktor ekonomi meskipun pada akhirnya pertimbangan ekonomi jadi salah satu yang tak bisa dihindari. Ada beberapa hal lain yang membuat saya akhirnya mau tidak mau harus mempertimbangkan tawaran lainnya untuk pindah. Meskipun harus diakui bahwa banyak dari tawaran tersebut tidak sejalan dengan keinginan dan harapan saya. Terkadang, yang kehidupan tawarkan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan bukan? Ya, kurang lebih seperti itulah.
Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa saja masalah yang akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk keputusan berat seperti saat ini. Pada akhirnya saya kembali ke titik ini. Berada di persimpangan untuk memutuskan dengan sangat hati – hati sekali, merencanakan dengan sangat matang sekali, menyiapkan cadangan jika lagi – lagi kehidupan tidak berjalan sesuai yang diharapkan atau direncanakan. Hidup memberikan kita pilihan; jalani atau tinggalkan. Namun tidak memberikan kita pilihan; yang kita sukai dan tidak kita sukai.
Hingga pada satu waktu saya bertanya pada diri sendiri “Apa yang saya cari dalam hidup ini?”. Lalu saya jawab “Bahagia.” Jawaban klasik. Tapi bahagia dalam bentuk seperti apa saya tidak pernah tahu. Saya pernah berpikir bahwa bahagia hanya tentang diri saya sendiri. Jujur terhadap diri sendiri tentang apa yang saya inginkan, tidak perlu mempertimbangkan orang lain apalagi berusaha menjadi orang lain. Saya tidak perlu memikirkan berapa sisa uang di dompet hari ini, bukan karena hidup saya yang serba berkecukupan, tapi karena saya percaya hidup bukan hanya melulu tentang materi. Saya tidak perlu memikirkan bagaimana orang lain berpikir atau berpendapat tentang saya, karena saya yang paling tahu apa yang saya pikirkan dan rasakan sendiri. Saya tidak perlu memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya, karena saya punya ekspektasi sendiri mengenai hidup yang akan saya jalani. Meskipun semuanya harus dibayar dengan cap ‘egois’.
Nyatanya, kehidupan tak melulu seperti itu. Kamu harus memikirkan berapa sisa uang di dompet agar bisa makan dan tidak mati. Kamu harus memikirkan kehidupan orang lain juga yang mungkin berpengaruh atas kehadiran atau ketidakhadiranmu. Hidup mengharuskan kamu mempertimbangkan itu semua walau sebenarnya kamu berusaha untuk tidak peduli. Maka saya kembali berada pada titik ini, fase ini. Memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal untuk mengambil keputusan dalam hidup saya yang mungkin saja berlaku untuk jangka panjang, seumur hidup mungkin. Realistis kata orang, tapi bagi saya mengenyampingkan hati kecil. Dan saya tidak tahu mana yang benar yang harus saya lakukan.
Kalau kamu? Pernahkah berada pada fase seperti ini? Apa yang kamu lakukan? Hidup realistis atau tetap mengikuti keinginan hati kecil?

Selasa, 15 Mei 2018

Yang terluka.. Bom Surabaya 2018

Indonesia berduka. Teror bom melanda kota Surabaya beberapa hari terakhir. Seluruh televisi dan media berita online dipenuhi kabar duka akibat aksi teror bom bunuh diri ini. Dari sekian banyak berita mengenai terorisme yang terjadi di Surabaya beberapa hari terakhir, ada satu berita yang ntah mengapa menjadi yang paling memilukan bagi saya. Nanti akan saya bahas.
Tentu semua tahu berita mengenai teror bom yang meledak di tiga gereja yang ada di Surabaya. Berita ini viral dimana - mana. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Seluruh media membahas hal yang sama. Seluruh rakyat memasang tagar yang sama: #PrayforSurabaya #lawanterorisme #kamitidaktakut. Pelaku melibatkan seluruh anggota keluarganya, termasuk anak mereka yang masih kecil dan belum mengerti apa - apa.
Kemarin, berita mengenai salah satu korban bernama Bayu (seorang petugas keamanan gereja) yang menjadi korban martir di salah satu gereja lokasi pengeboman mencuat. Semua orang berduka. Semua orang menaruh hormat kepada sikap heroik Almarhum yang rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan banyak jemaat gereja. Lalu, profil almarhum diulas. Almarhum meninggalkan dua orang anak yang masih balita. Sedihnya luar biasa, mengenai bagaimana anak sekecil itu ditinggalkan ayahnya yang menjadi korban teror bom. Sedih membayangkan bagaimana anak sekecil itu harus tumbuh tanpa ayah, dan harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menjadi orang yang mengorbankan hidupnya untuk berjuang melindungi saudara - saudaranya yang lain. Sedih memikirkan bagaimana anak sekecil itu kelak tumbuh dewasa dengan latar belakang masa lalu yang pahit seperti ini. Meskipun semua orang mengatakan 'Nak, suatu saat kamu akan bangga mengatakan Ayahmu di Surga karena menjadi martir di gereja'.
Hari ini, pengeboman kembali terjadi. Kali ini bukan di gereja, namun di kantor polisi. Masih dengan skenario yang sama. Pelaku mengikutsertakan keluarga dalam melakukan aksi keji ini, termasuk anak anak mereka yang masih belum mengerti. Lalu, sebuah berita dan video mencuat lagi. Bukan, kali ini bukan tentang sosok pemberani yang mengorbankan hidup mereka. Tapi tentang bagaimana Allah SWT melindungi seorang gadis kecil anak pelaku teror bom itu sendiri. Video yang tersebar memperlihatkan seorang anak perempuan kecil yang selamat dari ledakan bom. Dengan sedikit kebingungan dan kesakitan anak tersebut berdiri di lokasi peledakan lalu segera diamankan pihak kepolisian untuk segera dirawat di rumah sakit.
Saya menangis pilu. Anak kecil tak berdosa itu menjadi korban paling menyedihkan. Dia terluka seperti korban lainnya. Dia juga kehilangan seluruh keluarganya, di depan mata. Seluruh keluarganya yang telah pergi dikecam habis habisan oleh seluruh orang. Dan kini dia harus bertahan sendirian. Pilu rasanya membayangkan dia akan tumbuh dewasa tanpa orangtua dan saudara, dan menerima kenyataan bahwa orangtuanya adalah pelaku bom bunuh diri itu sendiri. Pilu rasanya membayangkan bahwa dia akan tumbuh dewasa dengan kisah bahwa ia pernah terlibat dalam aksi keji itu karena tidak punya pilihan dan belum mengerti apa apa. Anak sekecil itu akan menanggung luka yang cukup dalam karena perbuatan orangtuanya.
Saya, bisa memahami kesedihan istri, orangtua atau saudara para korban yang ditinggalkan. Saya pun ikut bersedih dan berduka. Diluar itu, saya amat sangat bersedih melihat anak - anak yang ditinggalkan orangtua mereka. Terlebih anak pelaku teror bom tersebut. Mereka adalah korban paling tersakiti menurut saya. Anak anaklah korban paling tersakiti menurut saya, meskipun dia dilibatkan sebagai pelaku. Maka saya tidak habis pikir dengan berbagai komentar buruk dan kasar yang bahkan tega mengatakan "Seharusnya dia mati dan ikut ke neraka bersama orangtuanya!" Atau "Hati - hati dengan anak itu, dia bibit teroris di masa depan". What the f**k with your mind Sis!! Mereka -anak anak- itu patut dilindungi dan dibimbing. Dan itu tugas kita, bersama. Manusiawilah sebagai manusia. Memiliki hati nuranilah sebagai sesama manusia. Bagaimana bisa seorang dewasa menghakimi seorang anak kecil seperti itu. Mengapa selalu menyalahkan orang lain? Mengapa selalu mencari kambing hitam daripada berangkulan dan berbenah?
Saya sedih, amat sedih. Bahkan tidak bisa berkata - kata. "Adik adikku, lanjutkan hidupmu! Allah SWT tidak pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan umatNya. Kami selalu bersamamu." 😭😭
Ada anak kecil yang dilibatkan jadi pelaku. Anak kecil lainnya menjadi korban. Seharusnya mereka bertemu di taman bermain. Mandi bola atau bermain perosotan bersama. Lalu saling bertukar cerita tentang cita - cita mereka saat besar nanti. (Arie Kriting)

Minggu, 06 Mei 2018

My Hippocratic Oath


Long time no poooost. Udah berapa bulan ya ngga nge-blog. Kemarin, -lebih tepatnya dari akhir tahun kemarin- saya fokus nyelesain sekolah (Koas). Bisa dilihat dari tough life nya Koas di salah satu tulisan di blog saya beberapa waktu yang lalu. Iya, dari Desember sudah ngga Koas lagi alias ngga ngerjain pasien lagi dan hanya persiapan ujian akhir yang ada beberapa tahap. Nanti akan saya ceritakan sedikit tahapannya ya, walaupun buat pembaca mungkin ngga penting hehehe.
Alhamdulillaaaah, setelah beberapa waktu vakum dari dunia per-blog-an (oke maaf, rada alay) akhirnya sekarang bisa ngatur waktu free buat nulis di sela – sela waktu ngga kerja. And finally, kerja juga sekarang. Ngga jadi mahasiswa lagi. Bisa beli keperluan pake uang gaji, one of my important points. Karena jujur yaa, selama ini rasanya kayak beban banget beli ini itu yang dimau tapi masih pake uang orangtua. Walaupun ngga selalu, dan kadang nabung atau nyari uang sendiri dengan jualan ini itu, pokoknya gimana caranya biar minta uang ke orangtua itu dijadikan pilihan terakhir. Tapi berbeda rasanya ketika saya beli keperluan atau memenuhi kebutuhan pake uang hasil keringat sendiri.
Oke, perjalanan saya beberapa bulan terakhir ini akan saya ceritakan dari sini....


Awal bulan Desember sudah mulai dibuka verifikasi ujian akhir untuk mahasiswa profesi KG. Untuk bisa ikut ujian akhir kita harus verifikasi berkas yang antara lain seluruh laporan kasus, nilai – nilai ujian harian, nilai – nilai diskusi, dan catatan follow up seluruh requirement pasien selama koas. Lengkap. Seluruh modul. Jadi, tiap hari kerjaannya ya kudu nyelesain keperluan dan pritilan buat verifikasi tutup modul akhir. Setelah selesai verifikasi, barulah diumumkan nama – nama mahasiswa yang bisa ikut ujian Komprehensif yang diadakan oleh Fakultas masing – masing universitas. Ujian komprehensif ini adalah ujian awal menuju ujian nasional yang diadakan Kementerian. Untuk ujian komprehensif, pada angkatan kelulusan saya diadakan sistem baru yaitu dengan mempresentasikan dua kasus terpilih dari pasien Komprehensif selama Koas. Ngga bisa dibilang mudah, walaupun di sistem baru kita ngga perlu lagi cari pasien cabut atau tambal untuk ujian, karena dengan sistem baru kasusnya jadi lebih luas tergantung dosen mau pilih kasus mana yang mereka anggap “menarik dan menantang”. Singkat cerita (langsung aja ya biar ngga kepanjangan), saya lulus ujian Komprehensif tahap awal dan bersiap menuju ujian yang sebenarnya. Hahaha.

Gini nih suasana ujian Komprehensifnya.. 


Ujian Kompetensi Nasional (UKMP2DG) diadakan pada akhir Januari. Sehingga dalam waktu kurang dari satu bulan tersebut, kami yang berhasil lolos untuk ujian kompetensi diwajibkan mengikuti mentoring dan persiapan dari dosen setiap hari. Berasa throwback SMA banget ikut jam tambahan sebelum UN. Dari pagi jam 8 sudah mentoring nonstop sampai jam 4 sore, kadang sampai magrib juga, trus dilanjutin belajar bareng bahas contoh – contoh soal sama temen – temen sampai jam 10-11 malam, pulang ke kos masih baca – baca materi lagi sebelum tidur. Begitu terus setiap hari selama hampir satu bulan. Badan udah kayak zombie asa melayang gitu, tapi tetep dipaksain ngga boleh jatuh sakit sampai paling ngga selesai ujian kompetensi. Ujian diadakan selama dua hari, yaitu hari pertama ujian teori berbasis komputer (CBT) , dan hari kedua ujian OSCE (praktek atau simulasi tindakan). Sehari sebelum hari H ujian OSCE atau ujian hari terakhir, tidur cuma paling setengah jam. Semalaman bener – bener melek buat pelajarin materi yang seabrek – abrek, lalu berlanjut ujian pada pagi harinya jam 8. Sehingga selesai ujian baru tepar, tidur di ruang isolasi ujian sampai ngga sadar waktu. Hahaha. Lumayan lah bisa istirahat sembari menunggu giliran kloter yang lain selesai ujian, karena kita ngga dibolehkan pulang sebelum semua peserta selesai ujian. Dan peserta ujian dibagi men jadi 3 kloter, masing – masing kloter punya waktu 120 menit. 
Belajar sambil didoain dan diceramahin ala LQ, ujung - ujungnya nangis 😢

Fyi, OSCE adalah ujian paling menyeramkan untuk kami, gimana ngga? Pada ujian OSCE kita (masing – masing peserta ujian) akan berhadapan dengan penguji satu orang dengan jarak yang hanya dibatasi meja penguji, harus menjelaskan diagnosa dan mensimulasikan tahapan – tahapan pekerjaan dengan kasus yang kita ketahui saat itu juga hanya dalam waktu 10 menit secara sempurna. Ya, sempurna. Karena para penguji sudah memiliki kunci jawaban sendiri untuk dicocokkan dengan jawaban kita. Kalau diagnosa yang kita jelaskan salah dan tahapan perawatan berbeda atau tidak sesuai urutan dengan kunci jawaban, habislah kita dengan nilai NOL. Dan lagi kita harus melewati 10 stase dalam ujian OSCE, artinya ada 10 kasus berbeda yang harus dijelaskan setiap 10 menit sekali. Could you imagine? 120 menit (10 stase ujian dan 2 stase selama masing – masing 10 menit adalah stase istirahat) di dalam ruang ujian hanya dengan penguji yang hanya mendengarkan jawaban kita dan tidak boleh bersuara, adalah 120 menit yang berasa 120 jam!

Ini ujian CBT hari pertama UKMP2DG
Dan ketegangan saat OSCE keliatan banget dr CCTV. Hayo tebak saya yang mana? hahaha.



Pengumuman ujian kompetensi baru diketahui pada pertengahan bulan Februari atau kurang lebih 2-3 minggu setelah ujian diadakan dan diumumkan secara serempak seluruh Indonesia. Bayangin dong ngga bisa tidurnya nungguin pengumuman. Oh ya, peserta ujian yang tidak lulus harus mengulang ujian pada gelombang berikutnya yaitu tiga bulan yang akan datang, karena ujian kompetensi diadakan setiap tiga bulan sekali. Jadi ngga ada yang namanya remed. Dan itu semakin bikin ngga bisa tidur. Tapiii, alhamdulillah sekali saat hari pengumuman nama saya dinyatakan LULUS.
Setelah pengumuman lulus, saya disibukkan dengan persiapan yudisium dan sumpah profesi. Ah akhirnya, bisa disumpah juga. Setiap kali lihat temen sumpah selalu bertanya di dalam hati, kapan ya aku bisa sumpah juga? Tapi ternyata Allah SWT baik sekali, beliau menjawab semua doa pada waktu yang tepat. Menuju hari sumpah, pusingnyaaa MasyaAllah. Semua persiapan sumpah kita sendiri yang atur dengan waktu yang singkat, ngga sampai satu bulan. Mulai dari booking gedung, katering, dokumentasi, nyiapin kostum, dekor, undangan, souvenir sampai menghubungi pengisi acara. Udah kayak mau nikahan aja. Besok – besok kayaknya bisa bikin EO/WO sendiri deh. Setiap hari bolak – balik ketemu dan ngubungin vendor, memastikan yang mereka siapkan sesuai dengan yang kita inginkan. Di samping itu kita juga masih harus menyelipkan waktu untuk mengurus keperluan yudisium profesi yang hanya berjarak ngga sampai 2 minggu dari hari sumpah dokternya.
Daaaan hari sumpah pun tiba, 7 Maret 2018. Didampingi kedua orangtua dan orang – orang terdekat kami tentunya, kami bisa mengucapkan sumpah profesi dokter gigi. Terharunyaaa luar biasa, sampai meneteskan airmata. Sangat khidmat dan sakral. Bukan main, tujuh tahun lebih berjuang di bidang yang saya pilih ini, melewati segala suka duka terbayar dengan bahagia luar biasa ketika bisa bersumpah untuk mengemban amanah baru di hadapan dosen dan orang – orang tercinta. Moment yang tidak terlupakan seumur hidup!!


Deg degan parah sih ini..

Dan inilah moment moment yang terekam bersama mereka yang saya cintai....
 






And here, I am.

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog