Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Belajar Menikmati Profesi

Saat yang lain sudah beralih ke vlog, saya masih setia dengan blog. Hahaha. Pertama, saya nggak punya kamera bagus seperti yang para vlogger itu punya atau pakai untuk nge-vlog. Kedua, saya tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera di tempat umum sambil bicara pula. Ketiga, saya tidak terlalu berambisi untuk eksis dan jadi pusat perhatian banyak orang. Menulis di blog pun, bukan karena berharap banyak orang bisa membaca tulisan saya lalu saya bisa menjadi blogger terkenal. Menulis di blog, murni karena keinginan saya untuk menyalurkan emosi saya tentang berbagai cerita, pikiran atau isi hati. Agar suatu hari ketika saya membaca kembali tulisan – tulisan saya di blog, saya masih bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah saya lalui di hari – hari sebelumnya.
            Seperti kali ini, saya ingin blog ini menjadi wahana pengingat untuk masa yang akan datang bahwa saya pernah tidak sengaja terlibat dalam kampanye politik dengan kedok Baksos. Hahaha. Tolong digarisbawahi, TIDAK SENGAJA, agar nanti saya tidak malu pada diri sendiri.
            Beberapa hari yang lalu, seorang teman sejawat (TS) menghubungi saya dan menawarkan saya untuk turut serta dalam kegiatan baksos. Acaranya memang pada akhir minggu, tapi masih dalam hari kerja saya di Puskesmas dan diluar kota pula walaupun hanya kota sebelah – Sungailiat. Berhubung sudah tiga bulan gaji saya bekerja di Puskesmas belum cair juga, dan isi dompet sudah meraung – raung, saya putuskan untuk menerima tawaran TS tersebut. Demi menambah penghasilan tambahan untuk sementara waktu, dan saya pikir saya bekerja sesuai dengan profesi saya. Saya bekerja untuk melayani dan membantu masyarakat berdasarkan ilmu yang saya miliki dan pelajari. Lalu tidak ada salahnya, kan?
Namun ternyata pada hari H begitu hampir tiba di lokasi acara, kami (saya dan dua TS dokter gigi lainnya) baru tahu kalau baksos tersebut merupakan acara partai dalam rangka kampanye salah satu caleg DPR RI. Dari dulu, saya anti dengan politik. Walaupun Bapak saya pernah terseret arus politik, atau teman – teman saya juga berkecimpung di dunia politik, tetapi saya enggan berurusan dengan hal semacam itu. Meskipun porsi saya hanya sebatas anggota tim medis yang bertugas dan membantu mendukung jalannya kegiatan saat acara kampanye, tetapi sebuah tiba – tiba ketika wajah saya didokumentasikan oleh panitia tim sukses bersama si Bapak Caleg ini membuat saya rasanya harus menutup muka.
            Tapi baiklah, fokus kali ini bukan pada kampanye politiknya. Tetapi pada acara baksosnya. Saya bekerja sebagai tim medis yang melayani masyarakat, bukan tim sukses suatu partai politik.
            Hari H tanggal 9 Maret 2019, acara dimulai pukul delapan pagi, jadi pada pukul tujuh saya sudah berangkat dari rumah. Titik kumpul awal berada pada Klinik Alfatih Pangkalpinang, setelah semua tim berkumpul kita berangkat menggunakan mobil ke lokasi acara. Kebetulan khusus tim dokter gigi diangkut menggunakan satu mobil, tentu dengan supir yang sudah disiapkan dari panitia. Berasa spesial ya diperlakukan seperti itu, sebelum negara api menyerang dan kita berakhir kelelahan >.<
Tiba di lokasi sudah banyak orang yang datang, mulai dari panitia hingga peserta baksos. Kami langsung menuju tempat bekerja kami di bagian pelayanan pemeriksaan gigi untuk membantu mempersiapkan alat dan bahan. Disana sudah ada empat dokter gigi lainnya yang ternyata didatangkan dari Jakarta. Saya tidak tahu pertimbangannya apa mendatangkan dokter gigi dari daerah lain ketika sebenarnya di daerah sendiri masih banyak dokter gigi yang dapat diajak bekerjasama untuk kegiatan semacam ini.
Satu per satu pasien datang. Kami terbagi menjadi dua tim; tiga orang dokter gigi melayani penambalan, tiga orang dokter gigi melayani pencabutan dan satu orang dokter gigi melakukan screening awal pasien. Saya dan dua TS dari Pangkalpinang memilih tim tambal gigi. Saat itu kami berpikir akan banyak datang pasien yang ingin mencabut giginya. Beberapa bulan bekerja di Puskesmas (kebetulan dua orang TS saya yang lainnya juga bekerja di Puskesmas) sedikit banyak membuat kami tahu kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat disini. Tapi ternyataaa, kami salah! Pasien yang datang hari itu lebih banyak ingin menambal gigi daripada mencabut giginya. Sehingga kami sebenarnya cukup kewalahan dan kecapaian melayani pasien yang antri cukup banyak hingga pukul tiga sore. Itupun, jika pendaftaran pasien tidak kami minta untuk dihentikan mungkin masih akan banyak antri pasien. Bayangkan, dari pukul delapan pagi hingga tiga sore kami hanya punya waktu istirahat ketika makan siang dan sholat. Itu pun bergantian.
            Jangan tanyakan bagaimana rasanya tubuh kami. Empat pasien di puskesmas saja sudah lumayan menguras tenaga, apalagi baksos kali ini yang total keseluruhan pasien gigi ada sekitar 70an dengan tujuh orang dokter gigi. Mandi keringat di ruangan non ac yang cukup ramai orang dengan cuaca hari itu yang cerah bersinar. Terlalu banyak duduk dan menunduk karena kursi pasien yang terlalu rendah sedangkan kursi duduk kami agak tinggi dan keras serta kondisi headlamp yang lebih banyak tidak berguna daripada membantu membuat kami merasa pegal – pegal di lengan, pinggang hingga betis. Dan penambalan, membutuhkan waktu hampir dua bahkan tiga kali lipat daripada cabut gigi. Alhasil, keesokan harinya kondisi tubuh saya menurun dan jatuh sakit. Hahahaha, saya memang payah.
            Dari acara baksos pertama yang saya ikuti setelah pindah bekerja di Bangka, saya dapat menganalisa satu hal. Karakter masyarakat disini adalah masyarakat dengan ability to pay tinggi namun willingness to pay rendah. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tingkat pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan gigi mereka rendah, karena buktinya pada acara baksos seperti ini yang tidak dipungut biaya, mereka berbondong – bondong datang meminta gigi mereka dirawat. Namun akan berbeda situasi jika mereka datang sendiri ke dokter gigi atau puskesmas, mereka akan lebih memilih untuk mencabut gigi mereka hanya karena satu alasan utama: tarif menambal gigi lebih tinggi daripada tarif mencabut gigi.
            Saya sedikit gemas dan kesal ketika merawat seorang pasien di acara baksos kemarin. Pasien saya adalah gadis muda yang memiliki wajah cukup mulus dan cantik. Dia datang ingin meminta dua giginya ditambal, yang saya tahu kondisi giginya belum berlubang dan baru ada bayangan kehitaman. Bukan, bukan karena dia cantik atau giginya yang tidak berlubang ingin ditambal yang membuat saya kesal. Tapi karena kondisi rongga mulutnya yang sangat kotor. Karang gigi dimana – mana dan sudah cukup tebal. Yang saya herankan adalah pasien tersebut belum pernah ke dokter gigi sama sekali sebelumnya untuk memeriksakan kondisi tersebut. Ketika saya menjelaskan mengenai kondisi giginya yang tidak berlubang namun akan ditambal, pasien paham bahwa tindakan tersebut adalah tindakan pencegahan sebelum giginya rusak lebih parah. Lalu ketika saya menjelaskan bahwa kondisi terburuk dan tindakan utama yang seharusnya dilakukan terkait rongga mulutnya adalah melakukan pembersihan karang gigi (yang sayangnya tidak dilayani dalam baksos tersebut), respon pertama pasien saat itu adalah pertanyaan “Mahal nggak, Dok?”. Disitulah kekesalan saya muncul.
            Kenapa biaya atau harga selalu jadi hambatan utama? Bukan karena sok kaya, atau karena saya berada pada posisi sebagai dokter. Tapi bukankah ada istilah ‘Sehat itu mahal’? Jika mampu menyisihkan uang untuk membeli alat make-up atau melakukan perawatan wajah, seharusnya juga mampu menyisihkan uang untuk melakukan pengobatan atau memeriksakan kesehatan giginya. Setidaknya melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi hanya butuh enam bulan sekali jika dibandingkan perawatan wajah semacam facial atau perawatan rambut seperti creambath yang biasanya dilakukan rutin sebulan sekali. Mengapa kesehatan gigi dan mulut diabaikan atau dianggap bukan hal penting? Padahal semua tahu, menjaga gigi dan mulut juga termasuk dalam menjaga kesehatan.
            Menjadi PR besar bagi saya dan TS lainnya untuk memperbaiki pola pikiran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tubuh dari kepala sampai kaki adalah satu keseluruhan sistem. Maka tak ada satu bagian atau organ tubuh yang jauh lebih penting daripada bagian atau organ tubuh lainnya. Semua sama pentingnya untuk dijaga keutuhan dan kesehatannya, tak terkecuali gigi dan mulut. Karena semua memiliki fungsi dan cara kerja masing – masing.
            Selalu ada kelegaan dalam hati saya setiap kali saya selesai memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Apalagi jika pasien atau masyarakat mengangguk – anggukkan kepala setiap saya selesai bicara. Rasanya ada hal kecil berguna yang dapat saya bagikan untuk banyak orang terutama masyarakat. Setidaknya jika mereka belum paham, kini mereka tahu. Bukankah sebelum memahami kita harus mengetahui terlebih dahulu? Kondisi masyarakat di tempat tinggal saya dengan mayoritas latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di kota besar. Hal itu menjadi tantangan untuk diri saya sendiri dalam mengedukasi dan meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan bagian tubuh lainnya khususnya gigi dan mulut. Harapan saya dahulu bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat kecil kembali mengudara. Paling tidak jika saya belum mampu memberikan apa – apa, saya mulai berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya.
            Jangan, jangan sembunyikan kemampuan dan pengetahuanmu untuk mereka yang belum atau tidak tahu. Semakin banyak yang kita bagi, semakin banyak pula yang kita dapatkan terutama tentang ilmu. Dan sesuai sumpah profesi yang pernah saya ikrarkan, saya akan terus membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan. Insyaallah.

Note:
Hanya ini satu satunya foto yang saya punya dari acara kemarin. Kursi yang saya gunakan untuk memeriksa dan merawat pasien. Serba apa adanya, tapi ternyata cukup menyiksa raga. 😌😌

Selasa, 27 November 2018

A sweet escape to Mt. Prau 2565 mdpl

Holaa..
Saya datang dengan cerita baru lagi. Hahahaha. Suka duka naik gunung untuk pertama kali! 😂😂 Oke, langsung aja deh ga usah basa basi ya. Udah ga sabar pengen cerita.

Saya dan Vivin salah seorang sahabat saya yang sampai saat ini masih bertahan di Jogja sebenarnya sudah lama punya rencana ingin naik gunung. Kalau Vivin sih sebenarnya udah biasa ya naik turun gunung dan backpackeran. Kalau saya sih boro - boro backpackeran, liburan aja susah. Ga ada waktu + ga ada uang + ga ada yg mau nemenin = ga ada kesempatan. Padahal pengen banget sebenarnya.

Rencana awal mau naik gunung sejak habis lebaran Idul Fitri kemarin, berhubung si Vivin sibuk dengan thesis maka rencana kita undur sampai Vivin selesai ujian thesis. Ujian tak kunjung datang, kita juga tak kunjung berangkat. Hinggaaa, ya sedikit spoiler, saya memutuskan untuk pindah alias pulang kampung dalam waktu dekat. Setelah ngobrol2 mengenai kepindahan saya dengan Vivin, kita jadi sepakat untuk merealisasikan rencana naik gunung secepat mungkin. Karena kalau masih nungguin Vivin selesai ujian thesis akan lama, keburu saya pindah. Dan deal akhirnya keputusan berangkat naik gunung diambil tiga hari sebelum hari H.
Oh ya, awalnya rencana saya ngga dapet izin dari Ibu dan Bapak karena terlalu khawatir mengingat cuaca yang kurang bersahabat alias sering hujan. Tapi setelah dirayu rayu akhirnya boleh juga hehehe.

Untuk naik gunung pertama kali saya ini, Vivin memilih gunung Prau di Dieng Wonosobo sebagai destinasi. Dengan membawa tiga orang temannya yang lain. Satu cewek, Mei, saya sih memang sudah kenal sejak jaman koas karena Mei pasien saya juga hahaha. Dua cowok, Hasan dan Guntur, yang sudah malang melintang di dunia pendakian gunung Indonesia wkwkwk.

Hari H! Sabtu, 24 November 2018.
Pagi harinya saya masih kerja, sampai jam 5 sore. Sehingga waktu untuk belanja kebutuhan logistik naik gunung cuma dicuri sebentar di sela sela praktek.
Pulang praktek saya langsung berkemas dan siap - siap. Eng ing eng, saat mandi saya baru tahu kalau saya datang bulan! Datang bulan sist, hari pertama!
Agak sedikit panik awalnya, karena baca dan dengar sana sini katanya kalau lagi datang bulan sebaiknya ngga usah naik gunung dulu. Tapi gimana ya, udah terlanjur janjian dan udah se-prepare itu juga, nggak cuma saya tapi teman - teman yang lain. Setelah diskusi sebentar dengan Vivin akhirnya tetap diputuskan untuk berangkat, tapi tetep sih cari tahu tips2 atau apa aja yang harus disiapkan untuk cewek yang sedang datang bulan saat mendaki gunung. Termasuk obat - obatan yang nomor satu, mengingat baru aja dua minggu yang lalu fisik drop banget sampe pingsan. Kan waswas juga ya.

Sehabis magrib kita berangkat, setelah persiapan amunisi dengan makan dulu dan sedikit ngobrol, berangkat agak molor jadi jam setengah 8 dari Jogja. Sepanjang perjalanan masih aman - aman aja, hanya sekali nyasar, lampu motor Guntur yang nyala redup banget dan sesekali motor saya dan Vivin yang agak kurang kuat naik tanjakan didorong sama Guntur dari belakang 😂😂.

Hinggaaa, sekitar pukul 11 malam saat udah sedikit lagi sampe Prau, ban motor Vivin tiba-tiba bocor kena paku. Ya, ini kesialan pertama. Di tengah jalan yang sepi dan gelap banget bahkan ga ada lampu jalan. Kita mutusin untuk cari tambal ban dulu sembari Guntur ditinggal dorong motor.

Ketemu sih tambal ban, tapi sudah tutup. Ya iyalah sudah jam 11 malem. Di sebelah tambal ban ada bapak yang jualan semacam syal, topi dan sarung tangan buat mendaki. Jadi, kita cewek bertiga didrop dulu di basecamp yang memang sudah dekat, sementara Guntur dan Hasan ngurusin motor.
Ngga lama setelah itu mereka menyusul ke basecamp dengan kondisi motor Vivin yang dititipin di bengkel sama Bapak yang jualan syal tadi untuk diambil besok pas pulang aja.

Setelah istirahat sebentar dan packing ulang, kita mulai mendaki jam setengah dua malam. Bismillah. Awal pendakian saya masih semangat sekali, terlalu excited malah. Dan seketika saat mau mencapai pos 1, saya seperti kehabisan tenaga. Jadi istirahat sebentar di pinggir. Bukannya baikan, perut saya tiba - tiba mules banget. Kontraksi hari pertama, dan bener - bener bikin sampe keringat dingin dan pucat. Untung temen - temen baik semua, saya disuruh istirahat bahkan sampe tiduran berbantalkan tas keril di tanah saking mulesnya. Setiap pendaki yang lewat selalu nanyain kenapa dan rasanya sedikit malu sih. Hasan udah hampir bongkar peralatan masak buat masak air untuk kompres perut, Guntur udah bukain coklatnya buat dimakan biar ga lemes, Vivin udah bantuin mijet, tapi perut masih belum baikan. Mereka sempet bilang "Yaudah ga usah dilanjutin aja, kita turun ke basecamp istirahat. Pagi nanti jalan - jalan ke Dieng aja ya," tapi kok rasanya nggak tega. Masa iya udah sejauh ini trus ngga jadi naik hanya karena saya nyeri haid. And I still say NO. Kan Gigih keras kepala binti menyebalkan ya hehehe. Mereka sih nurutin aja, untungnya setelah setengah jam perut saya perlahan mulai baikan. Hingga bisa dipake buat jalan. Horeee!!
Pendakian dilanjutkan dengan syarat kalau ngga kuat jangan dipaksa, istirahat aja. Dan nggak lupa dzikir selama perjalanan. And you know what, ini mengingatkan saya dengan jurit malam sepuluh tahun yang lalu. Gelap gelapan tengah malem dengan cahaya dari satu sumber doang (yg sekarang pake senter sih), sama orang yang baru dikenal juga, lumayan takut sama suasana hutannya, beda di medannya aja sih yang sekarang kan agak ekstrim karna agak manjat manjat di tengah hutan. Berhubung semangat juang saya membara, dan rasa sakitnya yang ngga mau dirasain lagi, sampai juga ke puncak dengan penuh perjuangan. Setengah lima pagi, sunrise!! Begitu lihat pemandangan yang subhanallah, rasa sakit sepanjang perjalanan hilang seketika. Terbayar semuanya napas ngos ngosan, perut cekit - cekit dengan suasana puncak gunung pagi hari yang.. ah indah sekali ciptaan Tuhan.
Sampe puncak, cowok - cowok langsung nyiapin tenda, mungkin karena udah sering kesana kali ya jadi udah ngga excited pengen liat sunrise kayak kita lagi. Dan yang cewek sibuk liat sunrise sama foto-foto. Biasaaa.

Puas liat sunrise kita balik ke tenda yang udah siap. Bantuin Hasan dan Guntur yang lagi nyiapin sarapan. Tau masak apa? Masak nasi dengan lauk tempe goreng, telur ceplok dan sosis! Hahaha. Oh ya, ngga lupa Boncabe. Makannya bareng-bareng langsung dari satu tempat. Kita sebut ini 'sederhana tapi istimewa'.

Selesai sarapan kita berusaha untuk tidur, karena semaleman belum istirahat. Ditambah suhu di puncak yang dingin pake banget, tidur dempet dempetan berlima di dalem tenda dengan saling berbagi sleeping bag yang jadi selimut lumayan bikin hangat.
Setelah cukup istirahat sebentar, kita keluar lagi menikmati pemandangan dan suasana puncak. Foto-foto, ngobrol-ngobrol, menggalau (ups) karena ada dua orang yang naik gunung dengan misi dan keadaan yang hampir sama persis. Saya dan Guntur. Jadi ngobrol apa aja kita sukanya curcol, disambung sambungin trus sama masalah kita. Hahaha. Setelah itu masuk tenda lagi dan masak lagi. Kali ini menunya adalah menu sejuta umat; indomie.
Waktu itu sekitar pukul 11 lewat saat hujan diluar yang awalnya rintik - rintik lalu semakin deras. Berteduh di tenda sambil menikmati indomie rame-rame saat hujan deras diluar adalah sebuah konspirasi alam yang sempurna. Halah, lebay.

Hujan belum juga reda, perut mulai kenyang, mata mulai mengantuk. Saatnya tidur lagi sembari menunggu hujan reda dan kita bersiap turun gunung. Rencana awal sih sehabis makan siang mau langsung turun dan jalan ke Dieng. Apalah daya hujan lumayan deras, jadi lebih baik tidur saja walau tenda mulai sedikit netes air hujan karena ada yang bocor dan suhu semakin dingin. It's okay, itu urusan Hasan dan Guntur. Karena saya, Vivin dan Mei akan melanjutkan tidur. Hahaha. Berasa tuan putri banget ya.
Jam 3 hujan reda, dan kita bersiap untuk turun. Mungkin sekitar setengah 4 kita mulai turun dengan keadaan masih gerimis dan kabut tebal banget. Harus segera turun sih mumpung hujan reda. Tapi kesialan datang lagi. Baru aja turun, hujannya kembali deras. Bahkan lebih deras dari sebelumnya, dibarengi petir kilat pula. Padahal kita belum masuk hutan, masih di daerah yang lumayan terbuka dan banyak bebatuan. Saya dan Mei lumayan panik, karena baru pertama kali kan ketemu keadaan kayak gini. Untungnya ada pendaki profesional, mereka tetap bisa nenangin kita dan sigap banget nolongin saat mau turun. Tahulah ya gimana licinnya jalur turun ditambah aliran air dari atas yang deras banget. Berasa jalannya ngga kelihatan. Udah pake jas hujan pun masih kebasahan karena kita turunnya setengah merangkak. Kepleset berkali kali sampe warna celana udah kayak warna lumpur, tangan hampir kebal karena dingin dan yang pasti deg degannya itu. Hahaha.

Hasan, (me), Vivin, Guntur, Mei

Hujan derasnya ngga bertahan lama sih, sekitar setengah jam selesai, tapi becek sisa hujan masih menyulitkan sampai sepatu saya jebol hingga akhirnya pinjem sendal gunung Hasan dan Hasan cekeran. Ngga enak bangettt, tapi apalah daya. Untung dia strong, ter-strong dengan barang bawaan yang seabrek dan kaki ceker ayam nurunin gunung 💪

Tiba di basecamp sudah jam setengah 6 sore. Setelah mandi kita masih nyempetin masak mie, ngabisin stok biar ngga banyak lagi yang dibawa pulang. Jam setengah 8 kita mulai jalan pulang dari basecamp. Masih ingat kan kalau satu motor kita yang kemarin bannya bocor ditinggalin di bengkel? Yes. Untuk ngambil motor itu ke bengkel, Hasan, Mei dan Guntur bonceng tiga! Gokil. Dengan dua keril besar yang mereka bawa juga, ditambah Hasan yang boncengin pake sarung karena celana trainingnya dipake Mei yang ngga bawa celana luar ganti. Saya dan Vivin ngikutin di belakang dengan membawa sisa barang yang ngga bisa keangkut mereka dengan senter sebagai pengganti lampu motor Guntur yang sudah ngga nyala sama sekali.
Sampai di bengkel kita dapet kejutan kesialan yang bertubi-tubi, motornya terparkir dengan cantik di pinggir jalan dengan kondisi ban yang masih bocor alias belum ditambal. Bengkel tutup, begitu juga toko syal punya Bapak yang kita titipin kemarin. Untung banget masih ada motornya, karena ngga dikunci stang 😭
Alhasil, seperti malam sebelumnya kita nyari bengkel lagi dengan ninggalin Guntur yang dorong motor sendirian. Sumpah, ini udah ngerasa ngga enak dan kasian banget sih. Ya kali turun gunung capek-capek eh masih dorong motor. 😭😭

Setelah tanya sana sini kita sampai pada sebuah rumah dengan warung kecil pinggir jalan yang masih buka. Ngga jauh dari warung itu memang ada tambal ban tapi sudah tutup. Setelah tanya Bapak yang punya rumah, Bapaknya baik banget mau bantu ngubungin yang punya bengkel. Lalu kita yang cewek-cewek disuruh istirahat dulu sembari Hasan nyusul jemput Guntur yang masih dorong motor.
Karena udah capek banget dan belum cukup tidur, sebenernya saya sudah ngga begitu paham kondisi malam itu. Yang jelas kita disuruh tidur di dalam rumah Bapaknya di ruang keluarga, karena tidur diluar itu dingin banget. Seperti ngga tahu malu karena udah capek banget, saya Mei dan Vivin langsung tidur sambil rebutan selimut di depan tv. Tidurnya pules banget. Yang saya ingat saya bangun jam 12 malem saat Hasan dan Guntur akhirnya gabung sama kita ikut tidur juga di ruang keluarga. Dan mereka cuma bilang, "Udah tidur aja dulu, motor kita urus besok pagi." Tanpa babibu, kita tidur lagi kayak orang dihipnotis. Ngga urusan sama barang, ngga urusan sama hape (ya nggak ada sinyal juga sih), yang penting tidur aja.
Bangun pagi kita udah disiapin teh hangat dengan beberapa cemilan sama si empunya rumah. Ya allah, Bapaknya super duper baik (tapi aku lupa siapa namanya).
Setelah urusan perbaikan motor selesai, kita akhirnya pulang sekitar pukul 7 pagi. Sempat mampir sarapan soto di Wonosobo sebentar dan ada mencar sedikit karena Hasan dan Mei salah jalan, kita sampe Jogja dengan selamat sekitar pukul setengah 1 siang. Huft! Alhamdulillah.

Ini dokumentasi bersama Bapak yang baik banget udah ngasih kita tumpangan nginep semalem. 

Jadiiii, perjalanan yang awalnya cuma kita rencanakan singkat aja, jadi panjaaaang banget. Tapi kita bahagia sih walaupun capek nggak ketulungan. Karena begitu nyampe Jogja kita udah langsung sibuk dengan agenda masing-masing. Saya bahkan langsung berangkat kerja sampai malam hari.
Cuma ya seperti kata mereka, "Biar jadi cerita untuk anak cucu nanti."
Rasanya kalau nggak ada mereka, saya nggak tahu akan jadi apa saya kemarin. Butiran debu banget. Untung temen satu tim kompak dan baik banget, walaupun karakter mereka berbeda-beda.
Vivin, si bu Ketua yang strong dan cuek tapi kadang rese hahaha. Ngga usah diceritain lah ya, dia mah cewek setengah cowok. Tomboy banget. Klo resenya itu, temenan dari lama bikin level menyebalkan dia lebih kelihatan, tapi ku tetap sayang karena dibalik itu semua dia baik banget.
Mei, si amatiran sama kayak saya tapi jauh lebih kuat secara dia atlet dan paling berisik. Tukang foto dan rekam video kita juga, karena kamera hp nya baguss hahaha. Tukang nyemangatin selama naik gunung. "Ce, semangat! Teteh semangat!" Kalimatnya ngga pernah berhenti setiap beberapa langkah sekali.
Guntur, si pak Ketua galauers tapi care dan tanggap banget. Dibalik lambenya yang suka mentel, orangnya perhatian banget. Selalu mastiin kita semua baik-baik aja. Dan tipikal yang ngejaga banget, mau pipis kita dianterin, tiap ngelangkah turun gunung selalu yang diperhatiin sambil bilang "Awas, hati-hati. Pelan-pelan aja. Pegangan sini kalau takut,".
Hasan, si juru masak yang strong sekali dan ngga pernah marah walau kita rusuh ini itu. Beneran dia mah ngga banyak omong, manuuut aja, senyuum aja. Bapak peri gitulah yang stok sabar dan rajinnya penuh kayaknya. Badannya kurus tapi tenaganya jangan disepelein. Minta apa aja sama dia ngga pernah ditolak. Hahaha.

Ahhh, baru kenal mereka tapi kayak udah kenal lama. Bener sih yang beberapa orang bilang, di gunung kamu bisa tahu sifat asli seseorang. Dan sifat mereka yang beraneka ragam itu bikin saya bahagia dengan liburan yang melelahkan kali ini. Next, kita akan rencanakan liburan tak terlupakan lainnya. Tunggu ya!

Bonus foto:

Ini di perjalanan dari Jogja-Dieng saat istirhat sebentar di SPBU.
Pemandangan sunrise dari puncak Mt. Prau 2565 mdpl 😍😍



Hasan, Vivin, (me), Mei, Guntur





Bonus video:





Selasa, 04 September 2018

Surga dan Neraka

Aku menutup pintu kamar dengan sedikit keras. Kurebahkan tubuhku ke kasur tidak begitu empuk punyaku di kamar. Tubuhku lelah. Memejamkan mata saja tidak cukup untuk membuatku merasa lebih baik. Kepalaku terasa berat, seperti ada sebongkah batu yang bertengger di atasnya. Atau ada topeng yang menempel di seluruh permukaannya. Ah, topeng!
Aku tiba – tiba ingat perkataan Memes beberapa hari yang lalu. Seorang sahabatku yang berprofesi sebagai psikolog. Saat itu dia sedang mendengarkan curhatku, seperti biasa. Kupikir mungkin dia sudah bosan. Tapi bukankah itu memang sudah resiko pekerjaannya? Mendengarkan keluh kesah orang yang belum gila, sedikit gila sampai gila tingkat dewa.
“Mau sampai kapan kau bersembunyi di balik 'topeng'mu? Mungkin di depan mereka kau bisa terlihat baik – baik saja. Tapi di dalam hati tidak bisa dibohongi kan?” tanyanya waktu itu.
Aku menghela napas pelan.
“Apa aku memang harus seperti itu?”
“Cintai dan sayangi dirimu sendiri. Jangan lupakan ada dirimu yang berhak bahagia. Aku seperti ini karena aku sayang dan tidak mau kau terus terusan begini, Luh.”
Mataku panas. Sepertinya akan ada titik air yang jatuh dari sana. Aku sudah sering mendengar yang seperti ini. Tapi entah kenapa aku bebal sekali. Hatiku seperti kulit babi. Batu saja jika lama lama ditetesi air bisa pecah, hatiku lebih keras daripada itu. Kata temanku.
“Apa ada hal lain yang bisa kulakukan?” tawarku.
“Tidak ada, Luh.” Jawab Memes tegas.
Dan benar saja, titik air yang sudah menggelayut di sudut mataku tadi terjun dengan bebas. Membayangkannya saja sudah membuatku terluka, apalagi menjalaninya? Bagaimana Memes bisa menjawab dengan begitu entengnya? Apakah karena hidupnya terlihat selalu berjalan sesuai rencana? Sedangkan aku? Rencana yang sudah dipersiapkan matang hampir 80%, mungkin lebih, tiba – tiba gagal tengah jalan. Bagaimana bisa aku tidak mengenakan topeng kemana – mana setelahnya? Hanya untuk memastikan orang di sekitarku tahu aahwa Galuh wanita kuat yang baik – baik saja. Kalau saja orang – orang di sekitar bisa memahami bahwa tidak ada orang yang akan baik – baik saja ketika rencana yang sudah ia buat ditinggalkan dan dibiarkan berhenti begitu saja. Tidak ada orang yang suka ditatap dengan rasa kasihan yang berlebihan.
“Kalau aku gagal?”
“Kalau kau gagal, berarti kau akan terus – terusan seperti ini. Kau hanya perlu mencobanya lagi.”
Aku diam. Rasanya seperti tertusuk. Aku ingin sekali bisa seperti yang Memes sarankan. Tapi sebenarnya aku sudah mencobanya dan berkali kali pula gagal. Berhenti memikirkan seseorang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalau semudah itu, tidak akan ada kasus orang mati gantung diri karena putus cinta atau karena cinta ditolak.
Kalau cinta ditolak saja bisa membut seseorang depresi, bagaimana seperti aku? Yang ditinggal menikah oleh seseorang yang aku cintai saat kami juga sudah menyiapkan pernikahan? Mungkin bunuh diri masuk dalam salah satu solusi, jika tidak ingat keluarga dan Tuhan. Lalu berakhirlah aku yang hanya mengenakan 'topeng' kemana – mana kata Memes.
Sesekali aku tertawa, begitu lepas seakan lupa aku pernah menjadi orang yang malang. Sesekali aku melompat kegirangan seakan lupa aku sudah dewasa. Sesekali aku terpingkal seakan lupa kalau aku sedang berduka. Tapi sesekali itu juga kuharap tidak ada embel pura – pura di belakangnya. Sesekali itu kuharap selamanya. Sesekali itu kuharap hidupku yang sebenarnya.
Tok tok tok!!
Pintu kamarku berbunyi, ada yang mengetuk dari luar.
“Mbak Galuh?”
Suara ibu kosku memanggil.
“Ya, Bu?”
“Ada paket datang untuk Mbak Galuh,”
“Oh iya Bu, sebentar saya keluar.” Jawabku.
Begitu aku tiba di teras kosanku, seorang petugas pengantar paket menyambutku dengan senyuman dan sebuah bungkusan kecil di tangan kananya. Setelah menyerahkan bungkusan dan menerima tandatangan telah diterima dariku, petugas itu berlalu.
Aku kembali ke kamar, membuka bungkusan kecil yang baru saja kuterima. Sebuah jam tangan pria berwarna hitam yang kupesan dari sebuah toko di ibukota beberapa waktu lalu. Jam yang akan kuberikan untuk dia yang kucintai sebagai hadiah. Jam yang akan menjadi kenangan terakhir sebelum aku benar – benar berubah. Kuharap setelah ini aku tidak lagi mengenakan topeng. Kuharap setelah ini aku tidak lagi menjadi manusia bebal, atau justru manusia lemah? Kuharap.
Aku harus bisa berlari, setidaknya berdiri tanpa jatuh lagi. Hidup itu kejam kalau sudah menyangkut hati. Aku tidak pernah tahu bagaimana rupa neraka jahanam, atau surga firdaus. Tapi jika boleh mengandaikan dengan keterbatasan pemahamanku, neraka jahanam adalah hari – hari saat aku tidak bisa bersamamu. Dan surga firdaus adalah hari saat aku bertemu denganmu dan merangkai mimpi bersamamu. Hanya itu.

Kamis, 26 Juli 2018

Tentang Hari Ini


Holaaa. Yang sering mampir ke blog saya atau yang ngikutin blog saya sejak lama, mungkin nggak akan asing lagi dengan cerita saya tentang dua tokoh Kania dan Albert. Sudah lama sih nggak melanjutkan cerita tentang mereka. Tadinya kepikiran untuk ngelanjutin cerita mereka via wattpad, tapi sekarang belum memungkinkan. Jadi sementara post disini lagi aja. Yang bosen sama ceritanya yaudah gapapa, terimakasih sudah mau baca. Selamat pagi, siang, sore dan malam!


Segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya kemarin. Luka yang tak kunjung kering seperti tanah sehabis hujan masih berada di tempat yang sama, hati. Dan luka itu hanya bisa membuat si pemilik raga untuk menahan dan menanggung sekuat ia mampu. Kau tahu siapa si pemilik raga? Kania. Dan siapa si pembuat luka? Albert.
Tak ada yang salah dengan menunggu bukan? Seperti yang Kania selalu lakukan selama ini. Tapi terkadang apa yang ditunggu bukanlah sesuatu yang pada akhirnya akan datang. Ada banyak hal yang membuat menunggu menjadi sesuatu yang dianggap sia – sia. Tapi percayalah, tidak ada yang sia – sia. Itulah yang diyakini Kania, setiap saat. Bukan karena dia begitu percaya diri bahwa suatu hari nanti Albert, seseorang yang selalu ditunggunya, akan datang. Tapi karena dia percaya semesta tetap memihaknya sekalipun yang ditunggu tak kunjung datang.
Hari ini, (sebenarnya) adalah hari yang begitu dinanti sejak beberapa tahun lamanya. Masih tentang Albert. Hari penentuan untuk kehidupan Albert kedepannya. Masih berhubungan dengan janji ketika mereka masih bersama. “Aku hanya ingin kau seorang yang menemaniku,” ujar Albert ketika itu. Tapi janji hanyalah kata – kata. Dan rencana hanyalah angan – angan. Kata dan angan adalah sesuatu yang mudah menguap disapu angin, begitu saja. Malaikat akan meniupnya dalam satu kali hembusan. Dan tak ada yang tersisa. Itulah yang terjadi pada hari ini.
Setelah tahun – tahun kemarin janji itu selalu diucapkan, selalu dijaga, hari ini dia sang pengucap janji tidak akan ingat apa – apa. Hanya Kania, seperti biasa si pengingat handal yang masih juga terngiang – ngiang. Bagaimanapun ingatan yang coba dia lupakan itu terus saja mengganggu harinya. Dia hanya berhasil melenyapkan ingatan itu selama dua jam saat harus berhadapan dengan klien kerjanya. Setelah berusaha memperlama waktu pembicaraan, dua jam ternyata masih terasa seperti lima menit saja.
Klien pulang, dan Kania segera bersembunyi di musala kantor. Sebelumnya dia sudah mengatakan terlebih dahulu kepada karyawan kantor yang lain bahwa dia ingin istirahat dan tidak ingin diganggu. Maka di musala inilah Kania mencoba lagi melakukan hal yang sama seperti saat itu dia ingin hari Ulang Tahun Albert cepat berlalu. Dia memilih untuk tidur.
Bukan tidur yang didapat, Kania justru merasa sakit kepala hebat. Kalian tahu bukan bahwa semakin keras memaksakan sesuatu untuk pergi dari dalam kepala, maka semakin keras pula dia akan muncul di kepalamu. Mungkin terjadi benturan – benturan antara usaha melupakan dan segala sesuatu yang tidak beranjak dari tempatnya. Dan itu pada akhirnya dinamakan kegagalan.
Kania memilih pulang, dan tetap berusaha untuk bisa tidur. Otaknya harus beristirahat dari kegagalan melupakan pada usaha pertama. Namun masih ada kesempatan di usaha kedua. Dan dia tidak akan menyia – nyiakan kesempatan itu. Setelah bergulat di atas kasur seperti potongan risol di penggorengan, dia tertidur selama dua jam. Namun seperti bayangan di bawah terik matahari, pikiran itu tetap saja mengikutinya hingga ke alam mimpi. Tak mau pergi. Tentang hari ini. Hari yang dulu mereka nanti – nanti.
Bangun dari tidur, Kania masih merasa membutuhkan apa saja kegiatan yang sekiranya bisa membuatnya lupa tentang hari ini. Dia menyalakan telepon genggamnya untuk menghubungi salah satu temannya untuk bertemu, tapi seperti melihat oasis di tengah gurun pasir, sebuah pesan terpampang di depan layar teleponnya. Dari Albert.
Tak ada yang tahu bahwa meski sudah berlalu lama, setiap melihat pesan apapun atau mendengar nama Albert disebutkan, Kania masih kerap kali gemetar. Dadanya masih kerap terasa sesak, dia harus mengatur nafasnya agar tetap seimbang dengan aliran darahnya. Lima menit lamanya dia hanya menatap layar, berharap semua hanya dalam imajinasinya. Atau paling tidak Albert menghubungi untuk mengatakan bahwa dia salah kirim. Itu lebih baik untuk saat ini. Tapi tak ada yang berubah.
Maka dibiarkannya pesan itu begitu saja. Meski jauh di lubuk hatinya dia sudah menjawab segala pertanyaan yang bahkan tak pernah diucapkan. Dia sudah mendoakan untuk hari ini bahkan tanpa diminta. Karena itulah pikiran – pikiran itu tak mau pergi.

Menjelang malam, Kania memutuskan untuk pergi menemui temannya. Di sebuah cafe dia menghabiskan sisa hari dengan laptop usang, meski mereka saling berdiaman. Sibuk dengan urusan masing – masing. Apa saja dilakukannya asal tidak duduk melamun. Itu semua masih lebih baik daripada dia tetap berusaha tidur hingga hari ini lewat begitu saja seperti yang dilakukan sebelumnya pada ulang tahun Albert.
Setelah berhasil lewat tengah malam, Kania baru merasa sedikit lega. Dia berhasil melewati hari ini akhirnya. Dan barulah dia ucapkan dalam hati "Selamat Albert. Akhirnya kau berhasil melewatinya. Dari jauh aku ikut berbahagia." Setidaknya dia pernah berusaha mengantar Albert hingga tiba pada titik ini, meski akhirnya dia tidak bisa ikut menikmati. Bahkan sudah ada yang lain yang mendampingi.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog