Kamis, 21 September 2017

Proses..



Saya ingat salah satu omongan sahabat saya beberapa waktu lalu “Setiap orang akan menempuh jalan hidup yang berkelok – kelok, ngga ada yang lurus. Hanya saja setiap orang mempunyai kelokan yang berbeda.”
Iya, untuk saat ini kalimat itu persis menggambarkan kehidupan ‘koas’ kita yang berjalan sudah hampir 3 tahun. Tiga tahun! Sekolah pasca sarjana aja kebanyakan hanya butuh waktu dua tahun. Tahun – tahun genting dimana kita yang dianggap ‘angkatan tua’ sudah kehabisan stock pasien, ngga dapet jatah kursi, tiap ketemu dosen ditanyain “kamu kurang pasien apa?”, kalau orangtua nanya kapan selesai mulai keringat dingin, dan sensasi – sensasi lain yang hanya anak koas KG yang tahu.
Dulu awal koas, dalam satu bulan saya dan teman – teman bisa mengerjakan banyak sekali requirement pasien. Setiap hari produktif. Sehari ngga kerja pasien rasanya pusing keliling keliling cari pasien ganti, karena sayang jatah kursi yang kita punya. Mau diskusi kasus pun dijadwalin dan dirundingin banget sama kelompok biar ngga bingung pembagian waktunya. Jam koas pun teratur banget, termasuk waktu makan.
Sekarang, duh masyaallah semuanya kayak benang kusut. Berangkat koas semaunya aja, pulang pun gitu. Di rumah sakit pun kadang bingung dan bengong ngga tau mau ngerjain apa. Garap resus dan follow up, duh malesnya luar biasa. Nyari pasien keliling kampung ngga nemu juga. Kalau ini sih ya karena kita cuma nyari pasien sisa requirement atau ujian yang kita belum punya aja, makanya rada susah. Belum lagi banyak drama yang terjadi antara pasien dan koas yang mungkin kalau diangkat ke film, bikin mewek banyak penonton. Hahaha.
Ini ada salah satu dari sekelumit cerita anak koas KG (cerita temen saya). Jadi temen saya hanya kurang satu ujian lagi untuk bisa ikut ujian Kompre, dan ujian yang dibutuhkan tersebut adalah ujian scalling (OHI buruk). Tahu dong yaa, yang namanya pasien Scalling itu tumpah ruah banget. Dulu scalling pasien tiap hari sampe udah bosen, ketemu pasien baru scalling meneh scalling meneh. Tapi inii, teman saya nyari pasien scalling yang bisa diindikasi untuk ujian sampai berbulan – bulan. Berapa kali teman saya harus ganti pasien karena pasien yang dibawa tidak memenuhi syarat untuk dijadikan pasien ujian. Alasannya ya selalu keadaan rongga mulutnya kurang kotor, kalkulus (karang gigi)nya kurang banyak. Singkat cerita akhirnya teman saya menemukanlah pasien yang bisa diindikasikan buat ujian (setelah berbulan – bulan lamanya) yaitu pengasuh anak teman saya yang lain (sesama koas juga). Ujian berjalan lancar, laluuuu bukan ujian namanya kalau semuanya lancar – lancar aja. Selalu ada ‘ujian’ di dalam ujian. Pasien teman saya ini pulang kampung ke Tasikmalaya dan resign dari kerjaannya sebagai pengasuh anak teman saya, sebelum pasien ini kontrol ujian. Padahal yang namanya ujian harus dengan kontrol biar ujiannya dianggap sah. Kalang kabutlah teman saya, panik sampai nangis karena mikirnya udah ngulang cari pasien lagi dari awal. Akhirnya setelah telfon pasien dan bujuk – bujuk agar pasien mau balik ke Jogja sebentar, pasien oke balik ke Jogja dengan biaya transportasi dan akomodasi ditanggung teman saya. Tau berapa biaya yang dihabiskan teman saya untuk bisa datengin pasien kontrol Scalling? Satu juta. Demi kontrol ujian yang biaya administrasi di rumah sakitnya cuma delapan ribu rupiah. Demi biar bisa lulus koas cepet (walaupun sebenernya kita udah telat). Satu juta, kalau saya udah nangis darah mau nyari uang kemanaaa dalam waktu singkat demi pasien. Alhamdulillahnya dia akhirnya bisa selesai ujian, dengan perjuangan penuh airmata, uang, dan darah.
Kalau saya? Beda cerita lagi. Saya kurang satu ujian lagi juga untuk bisa ikut ujian Kompre, dan ujian yang dibutuhkan adalah ujian cabut. ‘Waaah gampang dong ujian cabut?’ ‘Enak tuh ujian cabut doang’ ‘Ah masa ujian cabut doang ga bisa?’ Kesannya sih gitu. Kenyataannya juga sama seperti teman saya tadi, saya berbulan – bulan juga mencari pasien yang bisa saya jadikan pasien ujian. Mungkin saya yang terlalu selektif dan hati – hati mencari pasien, karena sebenernya agak keder juga dapet dosen penguji yang saya anggap ‘killer’. Sebenarnya saya sudah maju ujian dengan beliau sekali, ngga berhasil karena time limitnya habis dan pasien akhirnya diambil alih dikerjakan oleh dosen penguji. Ini sih memang kesalahan saya. Tapi pas apes juga mungkin, mood dosen saya waktu itu sedang kurang baik, karena dosen ini memarahi saya di depan pasien (Well, dimarahin dosen tentang kasus pasien itu sudah seperti makanan kita sehari – hari). Tapi untuk pasien ya mungkin kaget juga sih ya karena pasien saya sampai gemetaran takut dan saya jadi ngga enak banget sama pasiennya. Setelah drama ujian pertama selesai, saya harus mengulang ujian, artinya cari pasien lagi. Berhubung waktu terpotong puasa (saat sedang puasa pasien tidak disarankan untuk melakukan pencabutan, setelah buka puasa pasien lebih banyak memilih tarawih aja daripada ke dokter gigi) dan libur lebaran, saya baru bisa cari pasien lagi setelah lebaran. Keliling sana sini, minta teman sana sini akhirnya dapetlah saya kontak si pasien. Setelah pasien saya datangkan dan saya rontgen, saya tinggal janjian jadwal ujian lagi dengan dosen penguji (tetap dosen yang sama dengan yang sebelumnya). Jadwal sudah oke, pas hari H pasien saya ngga ada kabar sama sekali. Dihubungi ngga bisa, dan akhirnya saya batal ujian. Beberapa hari setelahnya pasien saya berkabar dan mengatakan bahwa handphonenya rusak, ya tapi kalau sudah janji setidaknya pasien bisa datang kan? Positive thinking aja, mungkin ngga bisa datang karena lagi service handphone (?). Saya tanya lagi ke pasien bisa kapan untuk mengatur jadwal kembali, dengan berbagai alasan mulai dari sibuk panitia ospek, pulang kampung idul adha, sedang haid (ya memang kalau sedang haid juga tidak terlalu dianjurkan melakukan pencabutan), sampai pasien kembali tidak bisa dihubungi hampir dua minggu sehingga molorlah jadwal ujian saya sampai sudah hampir dua bulan berlalu. Masalahnya untuk kembali nyari pasien dari awal lagi itu nggak mudah, udah punya pasien pun kadang pasiennya ngga kooperatif seperti ini ya menghambat sekali.
Ya begitulah drama dibalik kehidupan koas kita. Ngga semuanya lancar seperti yang dilihat orang dari luar. Ngga semuanya gampang segampang orang – orang yang sering bertanya “KG kan cuma ngurusin gigi doang? Kok koasnya lama?” Hahaha, sering banget ditanya begini. People always judge the book by its cover. They don’t know you until they in exactly the same position with you. And you don’t have to make sure about how far they know you. Jadi yaudah, jalani aja prosesnya dengan ikhlas. Terkadang kita terlalu sibuk memperhatikan bagaimana jalan hidup orang lain terlihat begitu mudah, sehingga lupa bersyukur dan menyadari bahwa setiap apapun yang kita lewati itu selalu ada maksud dan tujuannya dari Yang di Atas. Seperti kata teman saya tadi, setiap orang mempunyai kelokan dan kerikil yang berbeda. And we are blessed in different ways. Barakallah.


Nb: Sampai tulisan ini dipost, saya belum jadi ujian cabut lagi. Kali ini karena jadwal dosennya yang tugas keluar kota. Hiks. Tapi tetap ya semangat karena perjuangan masih belum berakhir.

Senin, 15 Mei 2017

Be wise, please..


                Belakangan ini marak sekali berita baik di online maupun koran nasional menyoroti salah satu tokoh politik yang bermasalah dengan tuduhan penistaan agama. Ya, semua orang sudah tahu; Ahok. Gubernur Jakarta yang dikenal tegas dan blak – blakan (mungkin banyak yang beranggapan cenderung kasar). Beliau berasal dari daerah yang sama dengan saya, Bangka Belitung. Saya Bangka dan beliau Belitung. Bangka Belitung adalah sebuah provinsi dengan pulau yang berbeda. Pulau Bangka dan Belitung dipisahkan oleh selat Belitung, dari yang saya pelajari saat masih duduk di bangku SD. Sering sekali saya bertemu orang baru yang bertanya daerah asal saya, begitu saya jawab Bangka Belitung lantas mereka akan refleks mengatakan “Tetangga Pak Ahok ya?”. Seharusnya saya menjawab tidak, karena memang kita tinggal di pulau yang berbeda. Hanya pulaunya saja yang bertetangga, seperti pulau Bangka bertetangga juga dengan pulau Sumatra. Ya begitulah. Tetapi untuk mempersingkat obrolan biasanya saya hanya menjawab dengan sebuah senyuman.
                Saya tidak kenal Bapak Ahok, karena kami memang tidak bertetangga. Saya hanya tahu beliau dari televisi dan berita saja, bahkan saya juga belum pernah bertemu beliau jadi saya tidak tahu sosok seperti apa beliau. Karena itu saya bukan pendukung Bapak Ahok, bukan pula pembenci Bapak Ahok. Tulisan ini saya buat karena sebenarnya saya cukup gerah dengan banyaknya berita yang menuliskan tentang masalah beliau yang menurut saya terlalu dibesar – besarkan.
                Pertama, beliau dituduh menistakan agama Islam. Ya, saya tidak akan berkomentar banyak tentang hal ini. Karena saya tahu, ternyata mengenai agama merupakan hal yang sangat sensitif untuk dibahas. Terlebih saya bukan orang yang paham betul mengenai agama, rasanya memperdebatkan atau mengulas agama secara mendalam, hmmm ilmu saya masih sangat cetek. Salah bicara justru hanya akan menambah dosa.
                Terlepas dari benar atau tidaknya tuduhan tersebut, kenyataannya Bapak Ahok sekarang berakhir dengan mencicipi dinginnya tidur di balik jeruji besi penjara. Disinilah kegerahan saya mulai timbul. Melihat media yang tidak henti – hentinya membahas kejadian tersebut. Beberapa hari berturut – turut headline news dipenuhi dengan cerita Pak Ahok yang masuk penjara dan para pembenci Pak Ahok yang berpesta pora merayakannya. Tidak sedikit berita yang terkesan menyudutkan, atau sebenarnya tidak menyudutkan tetapi untuk beberapa orang berita tersebut justru menyakitkan. Disini, saya bukan memihak pendukung Pak Ahok yang mungkin kesal setengah mati dengan berita tersebut. Saya tahu, tentu ada kepentingan politik di balik itu semua.
                Media, atau mungkin banyak orang lupa, yang mengkonsumsi berita tersebut bukan hanya pendukung dan pembenci Pak Ahok saja. Pendukung Pak Ahok, tentu akan kesal, sama halnya seperti pembenci Pak Ahok, tentu sangat senang dengan pemberitaan seperti itu. Namun, ada segelintir orang yang kita tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh berita semacam itu dalam hidupnya; ya, keluarga. Terutama istri dan anak – anaknya.
                Laki – laki di dunia ini tak terhitung banyaknya, dan semua tidak ada yang sempurna. Termasuk Pak Ahok. Saat ini saya tidak melihat beliau sebagai sosok yang dituduh sebagai seorang penista agama atau pejabat tinggi provinsi, namun saya melihat beliau sebagai sosok kepala keluarga. Ya, kepala keluarga; seorang suami dan seorang ayah. Selama beliau tidak berusaha menciderai anak dan istrinya, seburuk apapun laki – laki, jika dia seorang kepala keluarga tetaplah menjadi sosok yang dihormati dan dicintai.
                Para penulis berita, atau yang menikmati berita semacam itu dengan penuh sukacita, bukankah mereka juga memiliki sosok ayah atau suami atau anak yang mereka cintai? Dan bukankah sosok ayah, suami atau anak yang mereka cintai itu juga pernah melakukan kesalahan? Fatal atau tidaknya kesalahan tersebut, saya rasa sebagai seorang anak atau istri dan juga orangtua pasti akan sangat terluka ketika melihat orang yang kita cintai dan hormati diperlakukan dengan buruk. Posisi itu, memang tidak semua orang bisa mengetahui bagaimana rasanya. Namun saya tahu. Saya tahu dengan jelas bagaimana rasanya melihat orang lain membahas kesalahan yang dilakukan anggota keluargamu berulang – ulang, saya tahu dengan jelas bagaimana sedihnya melihat ibu atau saudaramu menangis membaca berita – berita semacam itu di koran atau internet, saya juga tahu dengan jelas bagaimana rasanya saling menguatkan anggota keluargamu satu sama lain setelah membaca berita tersebut.
                Pendukung Pak Ahok pasti marah dan sedih, tapi mereka tidak akan lebih sedih dari anak, istri dan orangtua sosok yang didukungnya. Pendukung Pak Ahok pasti merasa tersakiti, tapi mereka tidak akan lebih tersakiti dari anak, istri dan orangtua sosok yang didukungnya. Saya rasa hati dan nurani media sudah lama mati untuk menyadari keberadaan sosok keluarga dibalik setiap sosok yang dibicarakannya. Bukan hanya Pak Ahok, tetapi siapa saja yang kesalahannya digambarkan secara gamblang dan nyata oleh media.
                Bisa jadi media tidak salah, toh memang tugas mereka memberikan informasi ke masyarakat yang dikemas semenarik mungkin untuk bisa dikomentari secara bebas oleh siapa saja. Tapi sebagai pemberi dan penerima informasi, bukankah kita juga harus menyisipkan sisi kemanusiaan untuk menyikapi setiap pemberitaan? Saya sering sekali membaca artikel atau tulisan yang setelahnya menimbulkan beragam komentar pedas atau buruk terhadap sosok yang dibicarakan dalam artikel. Salah satu contohnya ya Pak Ahok tadi. Sekali lagi saya tekankan, saya bukan pembela Pak Ahok. Masyarakat dengan gampang sekali mengucapkan kata kasar atau menghakimi seseorang hanya lewat segelintir berita yang tidak mutlak kebenarannya. Tidak sedikit juga yang akhirnya ikut membully keluarga sosok yang dibicarakannya. Hey, you’re so damn immature! Dalam hal ini saya kembalikan lagi, seharusnya mereka bisa lebih menahan opininya hanya untuk menghargai perasaan keluarga sosok yang akan dikomentarinya. Semua orang memang bebas berbicara atau mengungkapkan pendapat apapun, tetapi bukankah yang paling mengenal kita adalah orang yang selalu berada di sisi kita, yang menghabiskan waktu bersama kita, yang menemani saat suka dan duka?
                Saya sangat berharap masyarakat saat ini bisa jauh lebih bijak menyikapi berbagai pemberitaan, baik pembuat berita maupun yang mengkonsumsi berita. Jangan berkomentar sembarangan jika memang tidak tahu duduk persoalannya. Jangan menghakimi seseorang hanya melalui salah satu sikap yang ditunjukkannya. Terlebih lagi, jangan memukul rata sikap buruk seseorang ke keluarga atau sukunya. Everyone makes mistakes. Dan kita bukan Tuhan yang bebas menghakimi seseorang. Hukum yang berlaku di negara, biarkan saja berjalan seperti seharusnya. Tidak perlu ditentang, karena sejatinya kita tahu hukum paling adil adalah yang datangnya dari Allah SWT. Kita hanya perlu SALING menasihati jika melakukan kesalahan, dan MENDOAKAN agar kita dan orang tersebut tidak melakukan kesalahan yang sama di hari akan datang. Jadi sebelum berujar, gunakanlah pikiran dan hati. Karena kita semua ini hanya manusia biasa, tidak ada yang sempurna.

Rabu, 03 Mei 2017

....

Saya terbangun dan terjaga pada dini hari tadi. Sahur. Setelah sahur saya masih terjaga menunggu subuh tiba. Dan pikiran ini tiba - tiba datang bersama heningnya suasana di kamar.
"Besok, siapa laki - laki lain yang akan turun ke liang lahat untuk menguburkan jasad saya selain Bapak ya?"
Pertanyaan itu terus terngiang di kepala hingga saya selesai sholat subuh. Berbicara tentang kematian, terkadang saya merinding membayangkannya. Takut, mungkin iya. Tapi bukankah kita semua nanti akan mengalaminya? Ntah kapan. Ntah siapa yang duluan. Wallahualam. Rezeki, jodoh, dan maut, itu semua rahasia Allah SWT. Kita hanya menunggu giliran.

Selasa, 25 April 2017

Sepenggal surat untuk Ibu Bapak

Ibu. Bapak.
Jika kalian membaca ini, kalian harus percaya bahwa anak kalian yang satu ini baik - baik saja. Jangan menangis diam - diam di belakang. Hati saya teriris perih mengetahuinya. Dan itu akan membuat saya menjadi apa - apa. Jangan menangis karena terlalu khawatir, saya baik - baik saja. Dan saya tidak apa - apa.
Tidak ada yang lebih penting dari 'kita' sekarang.
Saat saya memutuskan untuk tinggal jauh terpisah dari keluarga (merantau), tentu saya tahu konsekuensi yang akan saya hadapi. Mengurus segalanya sendiri, kesepian, dan masih banyak lagi. Saya siap dengan itu semua. Saya sudah siap dengan perasaan rindu rumah, atau sedih ketika sakit tetap harus mengurus diri sendiri, atau bingung mencari makan meski badan sudah lelah pulang kuliah, atau takut saat ada isu bencana atau rawan di tempat yang saya tinggali sekarang, atau susah mengatur uang saat isi dompet mulai menipis. Saya tentu tahu semua itu pasti akan saya hadapi. Tapi tenanglah, saya tetap baik - baik saja.
Saya akan tetap terlihat kuat di hadapan kalian, dan sudah seharusnya saya kuat dimanapun berada. Tentu, hidup saya disini tidak mulus - mulus saja. Banyak permasalahan dan ujian yang saya hadapi. Tapi kalian harus tahu, saya menjadi kuat karena itu semua. Jangan bersedih karena kalian tidak berada di samping saya untuk melewati setiap permasalahan, karena kalian sudah mengingatkan saya (selalu) untuk tidak merasa sendiri. Allah bersama saya. Allah selalu membantu saya.
Ibu. Bapak.
Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Meski berlinang airmata, saya sekuat baja sekarang. Saya bisa tertawa dan saya masih merasa bahagia. 'La hawla wa laa quwata illa billah' kalimat yang menenangkan saya ketika saya merasa sedih dan menangis merindukan kalian. Lalu saya akan berkata dalam hati 'saya disini berjuang untuk kalian'. Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Bukankah merasa sedih itu wajar? Atau merasa kesepian itu manusiawi? Jika suatu hari kalian mengetahui saya menangis karena bersedih, jangan pula kalian ikut bersedih atau justru marah dengan keadaan. Jika suatu hari kalian mengetahui saya menangis karena bersedih, itu hanya karena saya juga manusia. Jika suatu hari kalian mengetahui saya menangis karena bersedih, anggap saja saya sedang berusaha mendekati Allah, meminta pertolonganNya.
Ibu. Bapak.
Yang kalian harus tahu, toh saya masih baik - baik saja. Hingga hari ini, inilah sosok paling kuat yang anak kalian sudah usahakan. Jangan bersedih. Dan jangan pula khawatir. Allah selalu bersama saya.

Senin, 24 April 2017

Hei, Waktu Kita Tak Banyak!



Haloooo. Sudah menuju penghujung April nih.
Ada yang spesial di bulan ini? Hmmmm, saya rasa tidak ada. Semua berjalan seperti rutinitas hari – hari biasa. Oh iya! Ada satu! Usia saya sekarang jadi 25 tahun. Dua puluh lima. Seperempat abad. Tidak bisa dibilang masih muda, tapi saya juga tidak terima kalau dibilang sudah tua. Hehehe.
Well, saya memaknai usia baru seperti apa ya. Yang pasti dan utama ya saya bersyukur masih bisa hidup hingga usia ini, dan dalam keadaan sehat walafiat. Saya juga masih dikelilingi orang – orang yang menyayangi saya. Oke, saya ceritakan sedikit. Ulang tahun saya kemarin dirayakan bersama Arin dan Arul (kecepetan satu hari memang), karena kebetulan saya sedang berada di Jakarta. Itu pun sebenarnya tidak disangka – sangka sih, karena niat awalnya hanya bertemu mereka untuk melepas rindu dan ngobrol biasa. Tapi ternyata begitu saya datang, sudah ada kue ulang tahun kecil lengkap dengan lilin dan kado di meja. Hanya perayaan sederhana, tapi alhamdulillah saya luar biasa bahagia.
Lainnya? Mungkin sedikit sedih karena jatah waktu saya untuk hidup berarti semakin berkurang hehe. Saya belum banyak berbuat baik, belum bisa membahagiakan orangtua, belum banyak berbagi dengan orang sekitar, jadi ketika saya sadar waktu saya semakin sempit saya cukup sedih.
Berbicara tentang waktu, mungkin kemarin – kemarin saya terlalu banyak membuang waktu secara percuma. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu dengan menyendiri berpikir tentang hal yang tidak pernah ada habisnya. Tidak ada yang saya lakukan selain berpikir sepanjang waktu, tapi tetap saja tidak ada yang berubah. (Ya iya, saya cuma berpikir tanpa pernah berbuat sesuatu) Dan waktu terus berjalan.
Suatu hari, setelah mengobrol panjang lebar tentang Koas dan rencana – rencana setelah lulus dengan Idha, dia mengatakan, “Gih, kita sudah ngga punya banyak waktu lagi. Jadi jangan buang waktu secara percuma.” Iya, waktu itu berjalan cepat banget. Dan saya sekarang benar – benar menyadari waktu saya tidak banyak. Usia saya terus bertambah, usia orang tua saya juga terus bertambah, tapi saya hanya begitu – begitu saja. Belum ada kemajuan, belum ada yang bisa dihasilkan. Rasanya seperti jalan di tempat. Dan itu cukup membebani ternyata.
Saat ini, siapa yang bisa menjamin bahwa hidup kita masih panjang? Siapa yang bisa menjamin bahwa jodoh kita besok bukanlah kematian? Siapa yang bisa menjamin kita memiliki hari tua? Tidak ada. Seberapa banyak sisa waktu yang kita punya, tidak ada yang bisa memprediksi. Maka yang bisa kita lakukan hanya memanfaatkan waktu saat ini dengan sebaik – baiknya.
Waktu kita tidak banyak. Saya tidak pernah tahu rencana saya untuk besok atau lusa dapat terlaksana atau tidak. Saya tidak pernah tahu apakah saya masih memiliki waktu dan berkesempatan untuk membahagiakan ibu dan bapak atau tidak. Saya tidak pernah tahu cita – cita saya untuk bisa memiliki klinik gigi sendiri tercapai atau tidak. Karena saya tidak tahu apakah sisa waktu yang saya miliki masih panjang atau tidak. Dan karena itu juga saya beranggapan jika besok tidak lagi ada, maka hal terbaik yang bisa dilakukan hari ini adalah berbahagia.

Jumat, 07 April 2017

O my bestfriends!



Beberapa waktu lalu saya pernah memposting sebuah kutipan ayat Alquran dari surat Ibrahim di sosial media Instagram yang artinya: Jika kamu bersyukur, maka akan Kutambahkan nikmatmu. Kenyataannya kita seringkali lupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki sekarang. Kita terlalu sibuk merenungi apa yang belum kita dapatkan hari ini daripada menikmati apa yang sudah kita dapatkan hari ini.
Kali ini, saya akan bercerita tentang bagaimana bersyukurnya saya memiliki sahabat – sahabat yang hebat. Saya bukan tipe orang yang aktif bersosial, yang memiliki banyak teman dimana – mana. Mungkin dalam hal ini saya termasuk orang yang cukup tertutup. Tapi saya juga bukan tipe orang yang social phobia, yang benar – benar tidak membuka diri untuk lingkungan baru. Tidak separah itu.
Teman dekat saya mungkin bisa dihitung oleh jari, dari SMP SMA hingga kuliah. Selama SMP dan SMA teman dekat saya hanya beberapa yang masih dekat dengan saya hingga saat ini. Arin, Riska, Vivin, Tungau, mungkin hanya mereka yang hingga saat ini selalu jadi teman terdekat yang tahu kabar terbaru tentang saya meskipun kita sangat jarang bertemu karena jarak membuat kita berjauhan semua. Selama kuliah, teman dekat saya hanya empat orang; Sisil, Damalia, Fika dan Idha. Hampir bertemu setiap hari, mereka tahu apa saja yang terjadi pada saya. Bersyukurnya saya karena mereka semua adalah teman – teman yang selalu jujur dan mengingatkan saya dalam kebaikan.
Saya pernah sedikit kesal ketika ada yang menjelekkan saya misalnya dengan mengatakan bagian tubuh saya jelek atau penampilan saya alay. Lalu saya tanya ke Vivin dan Arin, “Memang cantik siapa antara aku dan dia?” dan Vivin menjawab “Teh, hidung dia lebih kelihatan sih dari kamu. Dan kamu memang kadang alay” Arin menjawab “Aku ga bilang kamu lebih cantik yaa. Itu relatif. Kalau kamu lagi suka sama seseorang, pasti dia akan terlihat cantik. Tapi kalau kamu lagi ngga suka sama seseorang, mau secantik apapun pasti terlihat jelek.” Alhamdulillah mereka nggak ngomporin saya dengan bilang “Ya kamu lah yang cantik.” Mereka membuat saya berpikir dan introspeksi dengan kejujuran mereka yang mungkin orang lain berpikir ‘Temenan kok gitu? Ngga ngebelain’. Mereka ini mungkin hampir jarang bicara yang manis – manis ke saya.
Misalnya lagi saat mereka tahu banyak hal yang seolah menyudutkan saya entah lewat status atau apapun dan saya ingin sekali membalasnya, mereka dengan tegas menentang saya. Arin sempat bilang “Kamu jangan nangis ya, aku tonjok kamu kalau nangis karena hal kayak gitu.” dan Vivin bilang “Jangan ikut – ikutan bales hal kayak gitu ya apalagi lewat status, jangan kayak anak kecil. Sadar umur.” Mungkin terlihat kasar, tapi mereka sungguh tulus memikirkan kebaikan saya.


Riska, yang paling kalem dari semua teman dekat saya. Setiap ada masalah dia selalu mengingatkan saya untuk selalu berprasangka baik terhadap semuanya. “Teteh banyakin dzikir aja, Insyaallah selalu ada jalan keluar yang baik untuk kita.” Sifat keibuan dia dari dulu memang selalu menenangkan, dia bahkan tidak pernah berbicara dengan emosi yang meluap – luap.


Tungau, teman dekat cowok saya satu ini juga sama blak – blakannya. Dia sering bilang “Apa sih bagusnya kamu ini? Pendek, pesek, hitam, haduh.” Dia memang terkadang menyebalkan karena terlalu jujur, tapi juga terkadang bisa dewasa pada saat tertentu. Saya bisa menelpon dia hanya untuk menangis berjam – jam saja dan dia hanya diam. Setelah tangis saya cukup reda barulah di bicara. Dia selalu bilang “Jangan mati. Maafkan, karena kita semua manusia. Manusia selalu membuat kesalahan. Maafkan diri kamu sendiri dan maafkan orang lain.” Iya, memang kita semua manusia yang selalu berbuat salah. Jika Allah saja mampu memaafkan kita, mengapa kita tidak mampu memaafkan juga?


Teman – teman kuliah saya? Mereka memang jarang berkomentar banyak, tapi setiap kali mereka berbicara saya seringkali diam. Banyak yang saya renungkan dari perkataan mereka. Sisil, dia adalah orang yang mengamati terlebih dahulu baru berbicara. Fika, dia adalah wanita cuek yang blak – blakan, kalau kamu baru kenal mungkin cara bicaranya akan terdengar sedikit jutek. Damel, dia adalah penghibur yang polos dan ceria. Idha, dia terkadang keibuan terkadang juga bisa gila.
Contohnya, setelah putus kemarin ketika sedang makan berempat dengan Sisil, Fika dan Damel, mereka akan bertanya bagaimana keadaan saya saat itu. Damel yang membuka topik dengan bertanya, “Kamu masih sedih po Gih? Kamu masih kepikiran si itu?” maka saya akan bercerita panjang lebar dan mereka menanggapi dengan berbeda – beda. Fika akan bilang “Udahlah Gih, ngapain sih mikirin yang ngga penting? Fokus koas kamu aja, itu yang paling penting sekarang”. Sisil akan bilang “Gini ya Gih, kalau kamu memang cinta sama dia kamu cukup doain dia bahagia aja sekarang dengan siapapun orangnya. Ikhlasin. Mungkin ini memang yang paling baik untuk kalian.” Damel lalu menanggapi “Iya Gih bener tuh kata Fika sama Sisil. Nanti kita sekali – sekali main juga biar ngga pusing.”


Kalau Idha lain lagi. Kami seringkali memiliki masalah yang sama di waktu yang bersamaan juga. Sehingga yang kami lakukan seringkali saling menghibur satu sama lain, dan dijuluki ‘pasangan galau’. Terakhir kemarin, saya meminta Idha untuk menemani saya bertemu mantan saya dan pasangan barunya. Bukan apa – apa, saya butuh seseorang yang setidaknya berada di samping saya ketika saya rasa saya tidak kuat. Dan Idha selalu bilang, “Senyum gih senyum, jangan tunjukin kesedihan kamu. Kamu kuat,” Meski harus duduk sendiri di pojok ruangan dia ternyata benar – benar menemani sampai akhir. Beberapa kali saya pastikan ke Idha untuk jangan sampai dia menghampiri kami hanya untuk ikut campur dan dia selalu bilang juga “Itu urusan kalian, nggak ada hubungannya denganku. Jadi aku ngga bakal ikut campur. Aku disini buat nemenin biar kamu tahu kamu nggak sendiri. Jangan sedih,”


Sahabat saya, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan sesuai dengan porsi mereka. Sahabat saya, mereka tidak pernah mengajarkan saya untuk membenci atau mencari keburukan orang lain. Sahabat saya, mereka selalu mengingatkan saya untuk melakukan hal – hal baik dan tetap bertahan dalam keadaan apapun. Sahabat saya, mereka jujur meski kadang kejujuran mereka terasa menyebalkan.
Alhamdulillah, saya memiliki sahabat yang luar biasa meski tak banyak. How lucky I am to have you all. Wherever we live one day, we are never far apart because you all always have a special space in my heart. I wish we will be bestfriends till Jannah.
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog