Selasa, 12 Maret 2019

Belajar Menikmati Profesi

Saat yang lain sudah beralih ke vlog, saya masih setia dengan blog. Hahaha. Pertama, saya nggak punya kamera bagus seperti yang para vlogger itu punya atau pakai untuk nge-vlog. Kedua, saya tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera di tempat umum sambil bicara pula. Ketiga, saya tidak terlalu berambisi untuk eksis dan jadi pusat perhatian banyak orang. Menulis di blog pun, bukan karena berharap banyak orang bisa membaca tulisan saya lalu saya bisa menjadi blogger terkenal. Menulis di blog, murni karena keinginan saya untuk menyalurkan emosi saya tentang berbagai cerita, pikiran atau isi hati. Agar suatu hari ketika saya membaca kembali tulisan – tulisan saya di blog, saya masih bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah saya lalui di hari – hari sebelumnya.
            Seperti kali ini, saya ingin blog ini menjadi wahana pengingat untuk masa yang akan datang bahwa saya pernah tidak sengaja terlibat dalam kampanye politik dengan kedok Baksos. Hahaha. Tolong digarisbawahi, TIDAK SENGAJA, agar nanti saya tidak malu pada diri sendiri.
            Beberapa hari yang lalu, seorang teman sejawat (TS) menghubungi saya dan menawarkan saya untuk turut serta dalam kegiatan baksos. Acaranya memang pada akhir minggu, tapi masih dalam hari kerja saya di Puskesmas dan diluar kota pula walaupun hanya kota sebelah – Sungailiat. Berhubung sudah tiga bulan gaji saya bekerja di Puskesmas belum cair juga, dan isi dompet sudah meraung – raung, saya putuskan untuk menerima tawaran TS tersebut. Demi menambah penghasilan tambahan untuk sementara waktu, dan saya pikir saya bekerja sesuai dengan profesi saya. Saya bekerja untuk melayani dan membantu masyarakat berdasarkan ilmu yang saya miliki dan pelajari. Lalu tidak ada salahnya, kan?
Namun ternyata pada hari H begitu hampir tiba di lokasi acara, kami (saya dan dua TS dokter gigi lainnya) baru tahu kalau baksos tersebut merupakan acara partai dalam rangka kampanye salah satu caleg DPR RI. Dari dulu, saya anti dengan politik. Walaupun Bapak saya pernah terseret arus politik, atau teman – teman saya juga berkecimpung di dunia politik, tetapi saya enggan berurusan dengan hal semacam itu. Meskipun porsi saya hanya sebatas anggota tim medis yang bertugas dan membantu mendukung jalannya kegiatan saat acara kampanye, tetapi sebuah tiba – tiba ketika wajah saya didokumentasikan oleh panitia tim sukses bersama si Bapak Caleg ini membuat saya rasanya harus menutup muka.
            Tapi baiklah, fokus kali ini bukan pada kampanye politiknya. Tetapi pada acara baksosnya. Saya bekerja sebagai tim medis yang melayani masyarakat, bukan tim sukses suatu partai politik.
            Hari H tanggal 9 Maret 2019, acara dimulai pukul delapan pagi, jadi pada pukul tujuh saya sudah berangkat dari rumah. Titik kumpul awal berada pada Klinik Alfatih Pangkalpinang, setelah semua tim berkumpul kita berangkat menggunakan mobil ke lokasi acara. Kebetulan khusus tim dokter gigi diangkut menggunakan satu mobil, tentu dengan supir yang sudah disiapkan dari panitia. Berasa spesial ya diperlakukan seperti itu, sebelum negara api menyerang dan kita berakhir kelelahan >.<
Tiba di lokasi sudah banyak orang yang datang, mulai dari panitia hingga peserta baksos. Kami langsung menuju tempat bekerja kami di bagian pelayanan pemeriksaan gigi untuk membantu mempersiapkan alat dan bahan. Disana sudah ada empat dokter gigi lainnya yang ternyata didatangkan dari Jakarta. Saya tidak tahu pertimbangannya apa mendatangkan dokter gigi dari daerah lain ketika sebenarnya di daerah sendiri masih banyak dokter gigi yang dapat diajak bekerjasama untuk kegiatan semacam ini.
Satu per satu pasien datang. Kami terbagi menjadi dua tim; tiga orang dokter gigi melayani penambalan, tiga orang dokter gigi melayani pencabutan dan satu orang dokter gigi melakukan screening awal pasien. Saya dan dua TS dari Pangkalpinang memilih tim tambal gigi. Saat itu kami berpikir akan banyak datang pasien yang ingin mencabut giginya. Beberapa bulan bekerja di Puskesmas (kebetulan dua orang TS saya yang lainnya juga bekerja di Puskesmas) sedikit banyak membuat kami tahu kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat disini. Tapi ternyataaa, kami salah! Pasien yang datang hari itu lebih banyak ingin menambal gigi daripada mencabut giginya. Sehingga kami sebenarnya cukup kewalahan dan kecapaian melayani pasien yang antri cukup banyak hingga pukul tiga sore. Itupun, jika pendaftaran pasien tidak kami minta untuk dihentikan mungkin masih akan banyak antri pasien. Bayangkan, dari pukul delapan pagi hingga tiga sore kami hanya punya waktu istirahat ketika makan siang dan sholat. Itu pun bergantian.
            Jangan tanyakan bagaimana rasanya tubuh kami. Empat pasien di puskesmas saja sudah lumayan menguras tenaga, apalagi baksos kali ini yang total keseluruhan pasien gigi ada sekitar 70an dengan tujuh orang dokter gigi. Mandi keringat di ruangan non ac yang cukup ramai orang dengan cuaca hari itu yang cerah bersinar. Terlalu banyak duduk dan menunduk karena kursi pasien yang terlalu rendah sedangkan kursi duduk kami agak tinggi dan keras serta kondisi headlamp yang lebih banyak tidak berguna daripada membantu membuat kami merasa pegal – pegal di lengan, pinggang hingga betis. Dan penambalan, membutuhkan waktu hampir dua bahkan tiga kali lipat daripada cabut gigi. Alhasil, keesokan harinya kondisi tubuh saya menurun dan jatuh sakit. Hahahaha, saya memang payah.
            Dari acara baksos pertama yang saya ikuti setelah pindah bekerja di Bangka, saya dapat menganalisa satu hal. Karakter masyarakat disini adalah masyarakat dengan ability to pay tinggi namun willingness to pay rendah. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tingkat pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan gigi mereka rendah, karena buktinya pada acara baksos seperti ini yang tidak dipungut biaya, mereka berbondong – bondong datang meminta gigi mereka dirawat. Namun akan berbeda situasi jika mereka datang sendiri ke dokter gigi atau puskesmas, mereka akan lebih memilih untuk mencabut gigi mereka hanya karena satu alasan utama: tarif menambal gigi lebih tinggi daripada tarif mencabut gigi.
            Saya sedikit gemas dan kesal ketika merawat seorang pasien di acara baksos kemarin. Pasien saya adalah gadis muda yang memiliki wajah cukup mulus dan cantik. Dia datang ingin meminta dua giginya ditambal, yang saya tahu kondisi giginya belum berlubang dan baru ada bayangan kehitaman. Bukan, bukan karena dia cantik atau giginya yang tidak berlubang ingin ditambal yang membuat saya kesal. Tapi karena kondisi rongga mulutnya yang sangat kotor. Karang gigi dimana – mana dan sudah cukup tebal. Yang saya herankan adalah pasien tersebut belum pernah ke dokter gigi sama sekali sebelumnya untuk memeriksakan kondisi tersebut. Ketika saya menjelaskan mengenai kondisi giginya yang tidak berlubang namun akan ditambal, pasien paham bahwa tindakan tersebut adalah tindakan pencegahan sebelum giginya rusak lebih parah. Lalu ketika saya menjelaskan bahwa kondisi terburuk dan tindakan utama yang seharusnya dilakukan terkait rongga mulutnya adalah melakukan pembersihan karang gigi (yang sayangnya tidak dilayani dalam baksos tersebut), respon pertama pasien saat itu adalah pertanyaan “Mahal nggak, Dok?”. Disitulah kekesalan saya muncul.
            Kenapa biaya atau harga selalu jadi hambatan utama? Bukan karena sok kaya, atau karena saya berada pada posisi sebagai dokter. Tapi bukankah ada istilah ‘Sehat itu mahal’? Jika mampu menyisihkan uang untuk membeli alat make-up atau melakukan perawatan wajah, seharusnya juga mampu menyisihkan uang untuk melakukan pengobatan atau memeriksakan kesehatan giginya. Setidaknya melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi hanya butuh enam bulan sekali jika dibandingkan perawatan wajah semacam facial atau perawatan rambut seperti creambath yang biasanya dilakukan rutin sebulan sekali. Mengapa kesehatan gigi dan mulut diabaikan atau dianggap bukan hal penting? Padahal semua tahu, menjaga gigi dan mulut juga termasuk dalam menjaga kesehatan.
            Menjadi PR besar bagi saya dan TS lainnya untuk memperbaiki pola pikiran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Tubuh dari kepala sampai kaki adalah satu keseluruhan sistem. Maka tak ada satu bagian atau organ tubuh yang jauh lebih penting daripada bagian atau organ tubuh lainnya. Semua sama pentingnya untuk dijaga keutuhan dan kesehatannya, tak terkecuali gigi dan mulut. Karena semua memiliki fungsi dan cara kerja masing – masing.
            Selalu ada kelegaan dalam hati saya setiap kali saya selesai memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Apalagi jika pasien atau masyarakat mengangguk – anggukkan kepala setiap saya selesai bicara. Rasanya ada hal kecil berguna yang dapat saya bagikan untuk banyak orang terutama masyarakat. Setidaknya jika mereka belum paham, kini mereka tahu. Bukankah sebelum memahami kita harus mengetahui terlebih dahulu? Kondisi masyarakat di tempat tinggal saya dengan mayoritas latar belakang pendidikan dan ekonomi rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di kota besar. Hal itu menjadi tantangan untuk diri saya sendiri dalam mengedukasi dan meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan bagian tubuh lainnya khususnya gigi dan mulut. Harapan saya dahulu bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat kecil kembali mengudara. Paling tidak jika saya belum mampu memberikan apa – apa, saya mulai berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya.
            Jangan, jangan sembunyikan kemampuan dan pengetahuanmu untuk mereka yang belum atau tidak tahu. Semakin banyak yang kita bagi, semakin banyak pula yang kita dapatkan terutama tentang ilmu. Dan sesuai sumpah profesi yang pernah saya ikrarkan, saya akan terus membaktikan hidup saya untuk kepentingan kemanusiaan. Insyaallah.

Note:
Hanya ini satu satunya foto yang saya punya dari acara kemarin. Kursi yang saya gunakan untuk memeriksa dan merawat pasien. Serba apa adanya, tapi ternyata cukup menyiksa raga. 😌😌

Sabtu, 02 Maret 2019

Sebelum Habis Waktu


Hai, aku mampir sebentar untuk membersihkan blogku yang semenjak beberapa bulan lalu kutinggal. Mulai menumpuk debu dengan banyak tulisan yang (mungkin) akan mulai usang.
Aku sibuk, katakanlah singkatnya begitu. Lama tak kuhampiri blogku, lama tak kuperhatikan. Padahal beberapa kali ide mengenai tulisan tak seberapa menguap di kepala hingga akhirnya hilang terbawa angin sebelum sempat kusalin ke benda padat berbentuk persegi panjang bernama laptop. Hingga malam ini, di tengah rintik hujan yang tiada berhenti turun sejak pagi aku menguatkan mata dan pikiran untuk menulis dan bercuap – cuap receh melalui tulisan yang lagi – lagi tak seberapa.
Baiklah, cuap akan dimulai sekarang.
Sekitar dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Bukan seperti mudik lebaran yang biasanya sering kulakukan. Kali ini aku benar – benar ‘pulang’, tidak lagi merantau di kota orang. Pertimbangan untuk pulang ini bukan perkara mudah dan main – main. Membutuhkan waktu dan kesiapan. Ya, harus kukatakan begitu. Hampir sembilan tahun hidup jauh dari orangtua di kota asing dengan segala tantangan yang datang di dalamnya membuatku berpikir berkali – kali untuk pulang ke rumah orangtua awalnya. Bukan karena tidak sayang orangtua, karena tentu semua anak menyayangi orangtuanya. Tetapi karena kota yang pada awalnya tidak membuatku betah sama sekali ini seperti punya magic yang mampu menahanku untuk tetap bertahan di sana.
Banyak kenangan dan kejadian yang begitu membekas dalam ingatan terutama selama masa peralihanku dari remaja menuju dewasa. Meski seseorang mengatakan tidak banyak (atau bahkan tidak ada) pelajaran yang kuambil ketika merantau, tapi aku sadar tanpa proses merantau aku mungkin takkan bisa menjadi seperti sekarang ini. Lalu pertanyaannya, seperti apa aku sekarang?
Susah bagiku menjawabnya. Maka akan kugambarkan sedikit kehidupanku sekarang.
Aku wanita pekerja. Setelah lulus profesi, aku menjadi pekerja klinik swasta yang berusaha mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sehari – hari kemana saja. Dari klinik ke klinik, dari pagi sampai malam. Dan ya, saat itu posisiku masih berada di tanah rantau, Jogjakarta.
Setelah dua bulan lalu memutuskan untuk pulang, aku bekerja sebagai dokter gigi yang mengabdi untuk pemerintah. Benar, pekerja pemerintah. Di kota asalku. Tapi tolong dicatat, aku bukan PNS. Profesi yang katanya memiliki jutaan peminat – maaf, aku tidak termasuk. Aku hanya dokter gigi PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang dikontrak satu tahun. Tempat bekerjaku di Puskesmas, tidak jauh dari rumah. Hanya butuh waktu sekitar 10 – 15 menit dengan sepeda motor.
Bekerja dengan pemerintah dan bekerja dengan swasta tentu saja berbeda. Mulai dari iklim kerja hingga penghitungan gaji. Dan hingga detik ini, aku masih tetap berpegangan pada pendapat bahwa bekerja dengan pemerintah is not my passion. Banyak yang bertentangan dengan apa yang kupercayai dan kuyakini dalam hati. Bukan menjelek – jelekkan, tetapi aku hanya merasa tidak sejalan saja.
Lalu kenapa masih bekerja di pemerintah? Realistis, karena butuh mencari uang. Dan sejauh ini yang memberikanku tawaran pekerjaan ya dari pemerintah, menjadi dokter gigi di Puskesmas. Mungkin orang bilang munafik, lebih baik tidak makan daripada menerima uang dengan bekerja tidak dari hati. Tapi aku punya alasan tersendiri, yang sangat aku yakin tidak semua orang mampu menerimanya. Itu biasa. Semua orang memiliki isi kepala yang berbeda.
Setelah pulang ke kampung halaman, satu waktu aku pernah menatap wajah kedua orangtuaku dalam ketika mereka tertidur. Guratan – guratan di wajahnya tampak begitu jelas, kulit yang mulai mengendur, rambut putih yang semakin banyak mendominasi dan kantung mata yang begitu besar menandakan mereka kini sudah tua. Beberapa tahun yang lalu ketika aku memutuskan pergi dari rumah untuk merantau, mereka terlihat masih kuat dan gagah. Kini, banyak yang berubah. Ibu bahkan sering menjatuhkan piring yang berisi makanan penuh karena tangannya tidak sekuat dulu lagi. Bapak yang duduk menyupir dua jam nonstop lalu langsung sakit pinggang tidak segagah dulu lagi.
Kurasa, sudah waktuku. Membiarkan mereka menarik nafas lebih ringan tanpa memikirkan beban untuk terus bekerja mencari uang untuk anak – anak mereka. Memang belum bisa sepenuhnya aku membuat mereka beristirahat dari rutinitas bekerja yang sudah mereka lakukan puluhan tahun. Tapi ketahuilah, besar keinginanku melihat mereka menikmati hari tua dengan saling bercengkerama sembari menikmati secangkir teh hangat dikelilingi pemandangan daun – daun dan pepohonan rindang di halaman rumah. Besar keinginanku untuk tidak lagi melihat mereka bermandikan keringat menembus panasnya matahari atau kebasahan dihantam titik hujan dari satu tempat ke tempat lainnya demi sehelai uang.
Biar aku saja.
Biar aku saja, yang berkendara di atas motor pindah – pindah tempat bekerja meski dengan jarak tempuh 30km setiap hari tidak peduli hujan atau panas. Biar aku saja, yang rela pulang hingga malam hari demi melaksanakan perintah atasan mengikuti kegiatan lapangan. Biar aku saja, yang tetap berangkat kerja meski kadang nyawa tak lagi berada di tempatnya. Karena kini aku tahu, dulu mereka tak memerlukan satu pun alasan yang mampu membuat mereka berhenti bekerja. Sekalipun apa yang mereka kerjakan tak jarang bertentangan dengan apa yang mereka sukai. Semua mereka lakukan demi anak – anak yang mereka cintai.
Dan ya, mengenai cinta orangtua, ada kejadian yang membuatku sedikit terenyuh. Teman bekerjaku di Puskesmas adalah seorang dokter gigi senior di kota. Usianya hampir enam puluh tahun dan sudah akan pensiun. Beliau memiliki dua orang anak, yang pertama perempuan seusia denganku. Dan yang kedua laki – laki usia dua puluh empat tahun. Sekitar tiga bulan yang lalu, beliau mendapat musibah. Anak laki – lakinya mengalami kecelakaan mobil tunggal dan meninggal di tempat. Sejak musibah itu, Beliau berubah menjadi sosok yang murung dan sensitif.
Saat hari pertama masuk kerja, seharian aku hanya mendengarkan kisah Beliau tentang kejadian yang menimpa anaknya. Dan seharian itu pula aku melihat Beliau berlinang airmata. Kalimat yang tak henti Beliau ulang adalah, “Saya menyesal tidak bisa memegang dan mencium wajah anak saya untuk yang terakhir kali,”. Pada hari itu, Beliau pingsan dan tidak sanggup berbuat apa – apa. Terlebih ketika jenazah almarhum anaknya tiba dari Rumah Sakit dalam keadaan sudah dikafani dan tidak disarankan untuk dibuka lagi.
Sejak kejadian itu pula, kondisi kesehatan suaminya semakin memburuk. Anak pertama Beliau sedang menyelesaikan kuliah pasca sarjana di Jogjakarta, sehingga setelah itu Beliau hanya tinggal berdua dengan suaminya di rumah.
Setiap hari Kamis siang, Beliau sibuk memetik bunga yang tumbuh di sekitar halaman Puskesmas. Ketika kutanyakan untuk apa, Beliau menjawab, “Untuk ziarah ke kuburan anak saya besok pagi.”. Rutinitas baru pasangan suami istri yang sudah renta itu setiap Jumat pagi.
Dari obrolan, bahkan cerita teman – teman kerja yang juga mengenal Beliau, aku tahu bahwa Beliau adalah sosok yang begitu mencintai dan memanjakan keluarganya. Puluhan tahun bekerja menjadi dokter gigi dari pagi hingga malam hari, orang tidak akan pernah menyangka bahwa Beliau tak punya harta apa – apa. Terlebih saat ini, yang tersisa hanya rumah yang ditempati dan motor bebek yang digunakan sehari – hari oleh suaminya yang sakit untuk mengantar Beliau bekerja. Satu – satunya mobil yang dia punya sudah hancur bersamaan dengan kecelakaan yang menimpa anaknya.
Aku tahu dan entahlah, mungkin ini perasaan sedih dari seorang anak yang muncul ketika aku sadar bahwa apapun yang Beliau dapatkan dari bekerja selalu dipersembahkan untuk anak – anaknya. Apapun yang Beliau lakukan hanya untuk anak – anaknya, setiap saat. Tak terhitung airmata yang Beliau tumpahkan ketika mengingat anaknya di tempat kerja. Tak terhitung ucapan “Saya rindu anak saya, Gih” yang terlontar dari bibirnya ketika beliau duduk melamun. Tak jarang pula Beliau berkata, “Kalau saya tidak kuat, mungkin saya sekarang sudah gila.”
Apakah menjadi orangtua memang harus sekuat itu? Aku memang belum menjadi orangtua. Tak tahu bagaimana rasanya mengkhawatirkan anak. Tak tahu rasanya berjuang mempertaruhkan hidup dan mati demi anak. Tak tahu rasanya rela tidak tidur dan makan demi anak. Lalu aku bertanya – tanya, seberapa sering Ibu dan Bapak menyembunyikan atau mengungkapkan kesedihannya saat bekerja ketika memikirkanku yang berada jauh dari mereka? Atau seberapa pilu hati Ibu dan Bapak ketika mereka merindukanku sementara aku tertawa – tawa menikmati hasil jerih payah mereka? Dan mereka tetap bekerja tak kenal lelah. Dan mereka tetap mendoakan keselamatan dan kebahagiaanku setiap malam. Dan mereka tetap menerimaku dalam keadaan seburuk apapun dengan tangan terbuka.
Sementara aku, jangankan berbagi apa yang kupunya, berbagi cerita saja kadang enggan. Meskipun aku tahu, mereka tak mengharapkan imbalan apa – apa dariku atas apa yang telah mereka lakukan untukku bahkan sejak sebelum aku dilahirkan. Meskipun aku tahu, mereka hanya ingin aku paham keberadaan mereka sebagai orang yang mencintai dan mengasihiku. Yang aku tidak tahu, masih seberapa lama waktuku. Maka pulang, dan mengubah posisiku sebagai orang yang akan melakukan apa saja demi kemudahan hidup mereka adalah kewajiban yang harus kulakukan sebelum habis waktuku. Karena jika hanya membuat mereka bahagia sesungguhnya dapat dilakukan dengan begitu sederhana, hanya dengan memeluk lalu mengatakan “Aku cinta kalian” dengan sepenuh hati. Tak ada hal lain yang mereka harapkan selain kebahagiaan anak – anaknya. Dan itu berlaku untuk seluruh orangtua yang ada di dunia, tanpa terkecuali.
Maka merugilah aku dan anak – anak yang lain yang tidak tahu cara memanfaatkan waktu untuk membahagiakan mereka yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk memikirkan cara membahagiakan kami. Bahkan hingga anak – anak mereka tiada, tak ada hal lain yang dapat menyita pikiran mereka dari sosok anak – anaknya. Semoga, aku dan banyak anak – anak lain tak kehabisan waktu.

Selasa, 27 November 2018

A sweet escape to Mt. Prau 2565 mdpl

Holaa..
Saya datang dengan cerita baru lagi. Hahahaha. Suka duka naik gunung untuk pertama kali! 😂😂 Oke, langsung aja deh ga usah basa basi ya. Udah ga sabar pengen cerita.

Saya dan Vivin salah seorang sahabat saya yang sampai saat ini masih bertahan di Jogja sebenarnya sudah lama punya rencana ingin naik gunung. Kalau Vivin sih sebenarnya udah biasa ya naik turun gunung dan backpackeran. Kalau saya sih boro - boro backpackeran, liburan aja susah. Ga ada waktu + ga ada uang + ga ada yg mau nemenin = ga ada kesempatan. Padahal pengen banget sebenarnya.

Rencana awal mau naik gunung sejak habis lebaran Idul Fitri kemarin, berhubung si Vivin sibuk dengan thesis maka rencana kita undur sampai Vivin selesai ujian thesis. Ujian tak kunjung datang, kita juga tak kunjung berangkat. Hinggaaa, ya sedikit spoiler, saya memutuskan untuk pindah alias pulang kampung dalam waktu dekat. Setelah ngobrol2 mengenai kepindahan saya dengan Vivin, kita jadi sepakat untuk merealisasikan rencana naik gunung secepat mungkin. Karena kalau masih nungguin Vivin selesai ujian thesis akan lama, keburu saya pindah. Dan deal akhirnya keputusan berangkat naik gunung diambil tiga hari sebelum hari H.
Oh ya, awalnya rencana saya ngga dapet izin dari Ibu dan Bapak karena terlalu khawatir mengingat cuaca yang kurang bersahabat alias sering hujan. Tapi setelah dirayu rayu akhirnya boleh juga hehehe.

Untuk naik gunung pertama kali saya ini, Vivin memilih gunung Prau di Dieng Wonosobo sebagai destinasi. Dengan membawa tiga orang temannya yang lain. Satu cewek, Mei, saya sih memang sudah kenal sejak jaman koas karena Mei pasien saya juga hahaha. Dua cowok, Hasan dan Guntur, yang sudah malang melintang di dunia pendakian gunung Indonesia wkwkwk.

Hari H! Sabtu, 24 November 2018.
Pagi harinya saya masih kerja, sampai jam 5 sore. Sehingga waktu untuk belanja kebutuhan logistik naik gunung cuma dicuri sebentar di sela sela praktek.
Pulang praktek saya langsung berkemas dan siap - siap. Eng ing eng, saat mandi saya baru tahu kalau saya datang bulan! Datang bulan sist, hari pertama!
Agak sedikit panik awalnya, karena baca dan dengar sana sini katanya kalau lagi datang bulan sebaiknya ngga usah naik gunung dulu. Tapi gimana ya, udah terlanjur janjian dan udah se-prepare itu juga, nggak cuma saya tapi teman - teman yang lain. Setelah diskusi sebentar dengan Vivin akhirnya tetap diputuskan untuk berangkat, tapi tetep sih cari tahu tips2 atau apa aja yang harus disiapkan untuk cewek yang sedang datang bulan saat mendaki gunung. Termasuk obat - obatan yang nomor satu, mengingat baru aja dua minggu yang lalu fisik drop banget sampe pingsan. Kan waswas juga ya.

Sehabis magrib kita berangkat, setelah persiapan amunisi dengan makan dulu dan sedikit ngobrol, berangkat agak molor jadi jam setengah 8 dari Jogja. Sepanjang perjalanan masih aman - aman aja, hanya sekali nyasar, lampu motor Guntur yang nyala redup banget dan sesekali motor saya dan Vivin yang agak kurang kuat naik tanjakan didorong sama Guntur dari belakang 😂😂.

Hinggaaa, sekitar pukul 11 malam saat udah sedikit lagi sampe Prau, ban motor Vivin tiba-tiba bocor kena paku. Ya, ini kesialan pertama. Di tengah jalan yang sepi dan gelap banget bahkan ga ada lampu jalan. Kita mutusin untuk cari tambal ban dulu sembari Guntur ditinggal dorong motor.

Ketemu sih tambal ban, tapi sudah tutup. Ya iyalah sudah jam 11 malem. Di sebelah tambal ban ada bapak yang jualan semacam syal, topi dan sarung tangan buat mendaki. Jadi, kita cewek bertiga didrop dulu di basecamp yang memang sudah dekat, sementara Guntur dan Hasan ngurusin motor.
Ngga lama setelah itu mereka menyusul ke basecamp dengan kondisi motor Vivin yang dititipin di bengkel sama Bapak yang jualan syal tadi untuk diambil besok pas pulang aja.

Setelah istirahat sebentar dan packing ulang, kita mulai mendaki jam setengah dua malam. Bismillah. Awal pendakian saya masih semangat sekali, terlalu excited malah. Dan seketika saat mau mencapai pos 1, saya seperti kehabisan tenaga. Jadi istirahat sebentar di pinggir. Bukannya baikan, perut saya tiba - tiba mules banget. Kontraksi hari pertama, dan bener - bener bikin sampe keringat dingin dan pucat. Untung temen - temen baik semua, saya disuruh istirahat bahkan sampe tiduran berbantalkan tas keril di tanah saking mulesnya. Setiap pendaki yang lewat selalu nanyain kenapa dan rasanya sedikit malu sih. Hasan udah hampir bongkar peralatan masak buat masak air untuk kompres perut, Guntur udah bukain coklatnya buat dimakan biar ga lemes, Vivin udah bantuin mijet, tapi perut masih belum baikan. Mereka sempet bilang "Yaudah ga usah dilanjutin aja, kita turun ke basecamp istirahat. Pagi nanti jalan - jalan ke Dieng aja ya," tapi kok rasanya nggak tega. Masa iya udah sejauh ini trus ngga jadi naik hanya karena saya nyeri haid. And I still say NO. Kan Gigih keras kepala binti menyebalkan ya hehehe. Mereka sih nurutin aja, untungnya setelah setengah jam perut saya perlahan mulai baikan. Hingga bisa dipake buat jalan. Horeee!!
Pendakian dilanjutkan dengan syarat kalau ngga kuat jangan dipaksa, istirahat aja. Dan nggak lupa dzikir selama perjalanan. And you know what, ini mengingatkan saya dengan jurit malam sepuluh tahun yang lalu. Gelap gelapan tengah malem dengan cahaya dari satu sumber doang (yg sekarang pake senter sih), sama orang yang baru dikenal juga, lumayan takut sama suasana hutannya, beda di medannya aja sih yang sekarang kan agak ekstrim karna agak manjat manjat di tengah hutan. Berhubung semangat juang saya membara, dan rasa sakitnya yang ngga mau dirasain lagi, sampai juga ke puncak dengan penuh perjuangan. Setengah lima pagi, sunrise!! Begitu lihat pemandangan yang subhanallah, rasa sakit sepanjang perjalanan hilang seketika. Terbayar semuanya napas ngos ngosan, perut cekit - cekit dengan suasana puncak gunung pagi hari yang.. ah indah sekali ciptaan Tuhan.
Sampe puncak, cowok - cowok langsung nyiapin tenda, mungkin karena udah sering kesana kali ya jadi udah ngga excited pengen liat sunrise kayak kita lagi. Dan yang cewek sibuk liat sunrise sama foto-foto. Biasaaa.

Puas liat sunrise kita balik ke tenda yang udah siap. Bantuin Hasan dan Guntur yang lagi nyiapin sarapan. Tau masak apa? Masak nasi dengan lauk tempe goreng, telur ceplok dan sosis! Hahaha. Oh ya, ngga lupa Boncabe. Makannya bareng-bareng langsung dari satu tempat. Kita sebut ini 'sederhana tapi istimewa'.

Selesai sarapan kita berusaha untuk tidur, karena semaleman belum istirahat. Ditambah suhu di puncak yang dingin pake banget, tidur dempet dempetan berlima di dalem tenda dengan saling berbagi sleeping bag yang jadi selimut lumayan bikin hangat.
Setelah cukup istirahat sebentar, kita keluar lagi menikmati pemandangan dan suasana puncak. Foto-foto, ngobrol-ngobrol, menggalau (ups) karena ada dua orang yang naik gunung dengan misi dan keadaan yang hampir sama persis. Saya dan Guntur. Jadi ngobrol apa aja kita sukanya curcol, disambung sambungin trus sama masalah kita. Hahaha. Setelah itu masuk tenda lagi dan masak lagi. Kali ini menunya adalah menu sejuta umat; indomie.
Waktu itu sekitar pukul 11 lewat saat hujan diluar yang awalnya rintik - rintik lalu semakin deras. Berteduh di tenda sambil menikmati indomie rame-rame saat hujan deras diluar adalah sebuah konspirasi alam yang sempurna. Halah, lebay.

Hujan belum juga reda, perut mulai kenyang, mata mulai mengantuk. Saatnya tidur lagi sembari menunggu hujan reda dan kita bersiap turun gunung. Rencana awal sih sehabis makan siang mau langsung turun dan jalan ke Dieng. Apalah daya hujan lumayan deras, jadi lebih baik tidur saja walau tenda mulai sedikit netes air hujan karena ada yang bocor dan suhu semakin dingin. It's okay, itu urusan Hasan dan Guntur. Karena saya, Vivin dan Mei akan melanjutkan tidur. Hahaha. Berasa tuan putri banget ya.
Jam 3 hujan reda, dan kita bersiap untuk turun. Mungkin sekitar setengah 4 kita mulai turun dengan keadaan masih gerimis dan kabut tebal banget. Harus segera turun sih mumpung hujan reda. Tapi kesialan datang lagi. Baru aja turun, hujannya kembali deras. Bahkan lebih deras dari sebelumnya, dibarengi petir kilat pula. Padahal kita belum masuk hutan, masih di daerah yang lumayan terbuka dan banyak bebatuan. Saya dan Mei lumayan panik, karena baru pertama kali kan ketemu keadaan kayak gini. Untungnya ada pendaki profesional, mereka tetap bisa nenangin kita dan sigap banget nolongin saat mau turun. Tahulah ya gimana licinnya jalur turun ditambah aliran air dari atas yang deras banget. Berasa jalannya ngga kelihatan. Udah pake jas hujan pun masih kebasahan karena kita turunnya setengah merangkak. Kepleset berkali kali sampe warna celana udah kayak warna lumpur, tangan hampir kebal karena dingin dan yang pasti deg degannya itu. Hahaha.

Hasan, (me), Vivin, Guntur, Mei

Hujan derasnya ngga bertahan lama sih, sekitar setengah jam selesai, tapi becek sisa hujan masih menyulitkan sampai sepatu saya jebol hingga akhirnya pinjem sendal gunung Hasan dan Hasan cekeran. Ngga enak bangettt, tapi apalah daya. Untung dia strong, ter-strong dengan barang bawaan yang seabrek dan kaki ceker ayam nurunin gunung 💪

Tiba di basecamp sudah jam setengah 6 sore. Setelah mandi kita masih nyempetin masak mie, ngabisin stok biar ngga banyak lagi yang dibawa pulang. Jam setengah 8 kita mulai jalan pulang dari basecamp. Masih ingat kan kalau satu motor kita yang kemarin bannya bocor ditinggalin di bengkel? Yes. Untuk ngambil motor itu ke bengkel, Hasan, Mei dan Guntur bonceng tiga! Gokil. Dengan dua keril besar yang mereka bawa juga, ditambah Hasan yang boncengin pake sarung karena celana trainingnya dipake Mei yang ngga bawa celana luar ganti. Saya dan Vivin ngikutin di belakang dengan membawa sisa barang yang ngga bisa keangkut mereka dengan senter sebagai pengganti lampu motor Guntur yang sudah ngga nyala sama sekali.
Sampai di bengkel kita dapet kejutan kesialan yang bertubi-tubi, motornya terparkir dengan cantik di pinggir jalan dengan kondisi ban yang masih bocor alias belum ditambal. Bengkel tutup, begitu juga toko syal punya Bapak yang kita titipin kemarin. Untung banget masih ada motornya, karena ngga dikunci stang 😭
Alhasil, seperti malam sebelumnya kita nyari bengkel lagi dengan ninggalin Guntur yang dorong motor sendirian. Sumpah, ini udah ngerasa ngga enak dan kasian banget sih. Ya kali turun gunung capek-capek eh masih dorong motor. 😭😭

Setelah tanya sana sini kita sampai pada sebuah rumah dengan warung kecil pinggir jalan yang masih buka. Ngga jauh dari warung itu memang ada tambal ban tapi sudah tutup. Setelah tanya Bapak yang punya rumah, Bapaknya baik banget mau bantu ngubungin yang punya bengkel. Lalu kita yang cewek-cewek disuruh istirahat dulu sembari Hasan nyusul jemput Guntur yang masih dorong motor.
Karena udah capek banget dan belum cukup tidur, sebenernya saya sudah ngga begitu paham kondisi malam itu. Yang jelas kita disuruh tidur di dalam rumah Bapaknya di ruang keluarga, karena tidur diluar itu dingin banget. Seperti ngga tahu malu karena udah capek banget, saya Mei dan Vivin langsung tidur sambil rebutan selimut di depan tv. Tidurnya pules banget. Yang saya ingat saya bangun jam 12 malem saat Hasan dan Guntur akhirnya gabung sama kita ikut tidur juga di ruang keluarga. Dan mereka cuma bilang, "Udah tidur aja dulu, motor kita urus besok pagi." Tanpa babibu, kita tidur lagi kayak orang dihipnotis. Ngga urusan sama barang, ngga urusan sama hape (ya nggak ada sinyal juga sih), yang penting tidur aja.
Bangun pagi kita udah disiapin teh hangat dengan beberapa cemilan sama si empunya rumah. Ya allah, Bapaknya super duper baik (tapi aku lupa siapa namanya).
Setelah urusan perbaikan motor selesai, kita akhirnya pulang sekitar pukul 7 pagi. Sempat mampir sarapan soto di Wonosobo sebentar dan ada mencar sedikit karena Hasan dan Mei salah jalan, kita sampe Jogja dengan selamat sekitar pukul setengah 1 siang. Huft! Alhamdulillah.

Ini dokumentasi bersama Bapak yang baik banget udah ngasih kita tumpangan nginep semalem. 

Jadiiii, perjalanan yang awalnya cuma kita rencanakan singkat aja, jadi panjaaaang banget. Tapi kita bahagia sih walaupun capek nggak ketulungan. Karena begitu nyampe Jogja kita udah langsung sibuk dengan agenda masing-masing. Saya bahkan langsung berangkat kerja sampai malam hari.
Cuma ya seperti kata mereka, "Biar jadi cerita untuk anak cucu nanti."
Rasanya kalau nggak ada mereka, saya nggak tahu akan jadi apa saya kemarin. Butiran debu banget. Untung temen satu tim kompak dan baik banget, walaupun karakter mereka berbeda-beda.
Vivin, si bu Ketua yang strong dan cuek tapi kadang rese hahaha. Ngga usah diceritain lah ya, dia mah cewek setengah cowok. Tomboy banget. Klo resenya itu, temenan dari lama bikin level menyebalkan dia lebih kelihatan, tapi ku tetap sayang karena dibalik itu semua dia baik banget.
Mei, si amatiran sama kayak saya tapi jauh lebih kuat secara dia atlet dan paling berisik. Tukang foto dan rekam video kita juga, karena kamera hp nya baguss hahaha. Tukang nyemangatin selama naik gunung. "Ce, semangat! Teteh semangat!" Kalimatnya ngga pernah berhenti setiap beberapa langkah sekali.
Guntur, si pak Ketua galauers tapi care dan tanggap banget. Dibalik lambenya yang suka mentel, orangnya perhatian banget. Selalu mastiin kita semua baik-baik aja. Dan tipikal yang ngejaga banget, mau pipis kita dianterin, tiap ngelangkah turun gunung selalu yang diperhatiin sambil bilang "Awas, hati-hati. Pelan-pelan aja. Pegangan sini kalau takut,".
Hasan, si juru masak yang strong sekali dan ngga pernah marah walau kita rusuh ini itu. Beneran dia mah ngga banyak omong, manuuut aja, senyuum aja. Bapak peri gitulah yang stok sabar dan rajinnya penuh kayaknya. Badannya kurus tapi tenaganya jangan disepelein. Minta apa aja sama dia ngga pernah ditolak. Hahaha.

Ahhh, baru kenal mereka tapi kayak udah kenal lama. Bener sih yang beberapa orang bilang, di gunung kamu bisa tahu sifat asli seseorang. Dan sifat mereka yang beraneka ragam itu bikin saya bahagia dengan liburan yang melelahkan kali ini. Next, kita akan rencanakan liburan tak terlupakan lainnya. Tunggu ya!

Bonus foto:

Ini di perjalanan dari Jogja-Dieng saat istirhat sebentar di SPBU.
Pemandangan sunrise dari puncak Mt. Prau 2565 mdpl 😍😍



Hasan, Vivin, (me), Mei, Guntur





Bonus video:





Senin, 29 Oktober 2018

Dibalik Musibah Ada Hikmah

Jadi, pagi tadi semua pemberitaan membahas tentang jatuhnya pesawat Lion Air JT610 dari Jakarta - Pangkalpinang. FYI, Pangkalpinang itu kota kelahiran saya, kampung halaman saya. Sehingga musibah ini cukup menggemparkan warga karena sebagian besar penumpang pesawat adalah warga dan berdomisili di Pangkalpinang.
Saya ngga akan bahas kronologisnya, karena saya ngga tahu dan ngga mau salah bicara. Saya ngga akan mengkritik maskapainya. Disini saya cuma mau bersyukur sebesar - besarnya dan berbagi sedikit cerita yang mudah mudahan bisa diambil hal positifnya.
Sudah sejak kurang lebih dua minggu yang lalu saya berkeinginan pulang. Kuat sekali. Bisa dikatakan homesick, ditambah beberapa faktor yang membuat saya setiap hari kepikiran ingin pulang. Saat pengumuman kelulusan cpns disiarkan dan saya tahu saya lulus tahap administrasi, keinginan saya untuk pulang semakin menggebu - gebu. Sambil menunggu tanggal tes yang belum diumumkan, setiap hari saya selalu memantau harga tiket pesawat ke Pangkalpinang. Dan memang beberapa hari terakhir harga tiket cukup tinggi. Rute Jogja - Pangkalpinang bisa satu jutaan, padahal harga normal sekitar 700 ribuan.
Setiap telfon Ibu atau curhat sama temen selalu bilang mau pulang kadang sampai nangis. Berhubung akhir bulan, sudah dipastikan dompet saya sudah menipis. Jadi rencananya saya pulang naik kereta api malam hari dari Jogja - Jakarta, dan naik pesawat dari Jakarta - Pangkalpinang dengan jam terbang paling pagi. Ibu ngga terlalu menyetujui karena beliau bilang terlalu capek. Cuma ya saya awalnya tetep ngotot mengingat uang sudah menipis dan gajian masih beberapa hari lagi.
Ibu bilang lagi, tunggu pengumuman tanggal tes. Setelah itu terserah saya mau pulang kapan dan ya siapa tahu harga tiket turun. Tapi dasar anaknya kadang keras kepala, diam - diam saya nekat tetep mau booking pesawat seperti rencana awal, Lion Air senin pagi itu. Tunggu gaji masuk, transfer, lalu pulang. Bahkan barang di koper sudah siap, surat izin untuk klinik sudah siap. Tinggal beli tiket dan berangkat. Kali ini, sudah ngga bilang Ibu lagi karena pasti dilarang lagi. 
Syukurnya Allah SWT masih melindungi saya. Gajian telat masuk, baru masuk hari Minggu pagi sementara tiket keretanya habis dan rencana pulang senin pagi gagal. Trus inget omongan Ibu tunggu dulu sampai pengumuman dan harga tiket turun. Setelah itu saya ngga ngecek harga tiket pesawat lagi, pikiran saya: yaudah lah tunggu aja klo gitu.
Keesokan harinya, atau senin pagi, alias tadi pagi, saat bangun tidur saya baca chat group WA yang ramai membicarakan pesawat jatuh. Awalnya masih belum ngeh klo itu pesawat menuju Pangkalpinang, dan saya tidur lagi. Tapi saya mimpi semua orang sibuk ngomongin salah seorang kenalan yang jadi korban pesawat jatuh (pas bangun lupa sih siapa orang yang dimaksud di mimpi), oke sebenarnya ini bener - bener alam bawah sadar saya yang pas bangun tadi sekilas nangkep pembicaraan di grup. Bangun tidur saya baca lagi chat di grup dengan seksama, dan setelah ngeh itu penerbangan yang hampir saya ikuti, merindinglah saya. Jantung langsung deg degan.
Setelah ngubungin Ibu dan bilang untung belum jadi pulang, Ibu cuma jawab semua sudah diatur yang Diatas. Disitu rasanya kayak, ya ampun feeling guilty sekali sempet ngebantah Ibu. Sampe nangis dan... Allah masih melindungi saya. Ngga kebayang kalau saya tetep ngotot berangkat diem - diem, tanpa ngasih tahu orangtua terutama Ibu, mungkin nama saya bisa jadi salah satu korban dan ya ampun gimana perasaan kedua orangtua saya??
Chat sama Ibu yang bikin mewek 😢
Bener sih yang namanya musibah, maut, itu bisa terjadi dimana aja dan kapan aja. Bahkan disaat kita sedang duduk duduk santai di rumah. Pada dasarnya semua akan kembali ke pangkuanNya kan. Kita cuma bisa berdoa lalu pasrah.
Mewek lagi 😢
😢😢
Tapi satu hikmahnya dari musibah ini, untuk saya pribadi jadi mikir bahwa omongan orangtua itu jangan dianggap enteng. Ridho Allah ya ridho dari orangtua kita. Dan saya harus banyak banyak bersyukur Allah masih melindungi saya. You should do that, too.
Terakhir, saya juga berdoa untuk seluruh korban agar Allah SWT menempatkan tempat terbaik di sisiNya, diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, dan kembali ke pangkuan Allah SWT dalam keadaan khusnul khotimah.
Untuk keluarga korban, saya ngga bisa banyak berkata - kata karena tentu saya ngga bisa benar - benar merasakan bagaimana perasaan mereka, bahkan saya sulit membayangkan bagaimana jika saya adalah mereka. Semoga Allah SWT melimpahkan kesabaran, kekuatan dan keikhlasan yang tiada terbatas untuk mereka. Kita tahu, kita semua akan kembali kepadaNya bagaimanapun caranya. Kita tahu, kita semua hanya sedang menunggu giliran, menunggu saatnya kita beristirahat selamanya, seperti mereka yang sudah mendahului kita.
Alfatihah.

Jumat, 12 Oktober 2018

Bukankah orang akan berlomba - lomba meninggalkanmu ketika kau berada di bawah? Dan mereka akan datang berlari padamu ketika kau berada di atas.

Mereka adalah orang yang sadar bahwa hidup ini sementara. Maka perlu memanfaatkan waktu sebaik mungkin selagi bisa. Mendulang sebanyak mungkin keuntungan, berlari sejauh mungkin dari kerugian.

Tidak ada yang salah. Tidak ada teori yang mewajibkan seseorang untuk selalu berada sedekat mungkin dengan orang yang sedang tertimpa kemalangan. Semua hanya masalah manusiawi atau tidak. Padahal kita tahu, semakin lama manusia hidup semakin hilang sifat manusiawinya.

Dunia tidak adil? Benar. Tidak ada keadilan. Dunia ini isinya segala sesuatu yang kacau balau. Segala ujian ada di dalamnya. Tapi kita terlalu betah tinggal di dalamnya.

Lalu dimana kedamaian? Dimana ketenangan? Ada. Di surga. Mungkin kita lupa, bahwa seharusnya kita berakhir di surga.

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog