Jumat, 22 Mei 2020
Di malam yang kian tak jelas ini, saya sadar saya seorang yang tak berani dalam banyak hal. Satu - satunya keberanian yang saya miliki adalah bertemu kematian.
Sabtu, 22 Juni 2019
Sekitar satu minggu yang lalu, salah seorang sahabat saya menikah. Di Jogja.
Kesedihan mendalam saya adalah saya tidak bisa hadir untuk ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan secara langsung. Meskipun tak mengurangi rasa haru saya menyaksikan dia bahagia hanya lewat foto yang dikirim teman - teman saya yang hadir.
Kesedihan mendalam yang disebabkan terbatasnya kemampuan saya, baik waktu maupun materi untuk bisa datang kembali ke kota yang hari demi hari membuat saya rindu akan kenangan yang diberikannya selama hampir sembilan tahun, Jogja. Kesedihan mendalam yang membuat saya sedikit marah saat itu, kenapa saya tidak lagi tinggal di Jogja? Kenapa saya harus bekerja keras dan pulang ke kampung halaman tapi belum bisa menikmati apa - apa? Bahkan untuk berkumpul dengan orang - orang yang saya cintai di Jogja pun saya tetap harus memikirkan dan menimbang berkali - kali. Mulai dari ongkos perjalanan, hingga perizinan ke tempat bekerja.
Kesedihan mendalam yang terjadi akibat besarnya keinginan saya untuk berangkat ke Jogja sejak lama, namun karena beberapa kendala saya harus mengurungkan niat tersebut sehingga untuk beberapa hari saya uring uringan. Perasaan sedih melanda tanpa tahu sebab. Yang saya tahu saya sedih sekali.
Sebenarnya, bukan karena satu hal itu saja yang membuat saya bersedih. Ada hal - hal lainnya yang berhubungan dengan rencana lama yang tidak kesampaian yang kebetulan lagi bertepatan dengan hari yang sama dengan hari pernikahan sahabat saya. Dan satu dua hal tersebut sukses membangkitkan kesedihan mendalam.
Malam ini, setelah seminggu berlalu, dan kesedihan tersebut telah sirna, muncul hal lain yang mungkin ketika saat itu saya tahu bersamaan akan membuat saya sedih berkali lipat. Ya, berkali lipat.
Satu hal yang mungkin harus saya syukuri, saya telat tahu. Dan satu hal juga yang mungkin harus saya sesali, kenapa saya harus tahu.
***
Hujan disini.
Ditemani hitam dan dingin.
Basah di ranjang sudah bercampur.
Mungkin sebentar lagi aku disumpah serapahi kasur.
***
Terguling, kau tahu kenapa? Ada getaran hebat yang datang tak disangka - sangka. Entah darimana. Kupikir gempa melanda, nyatanya ada yang runtuh tepat di tengah dada.
***
Hai ombak yang menggoyahkan perahuku, pergilah kau jauh!
Sudah perkasa kurakit perahu yang akan mengantarkanku ke tujuan. Sudah tenang air lautan.
Aku tak mau karam, dan tak akan karam.
Kesedihan mendalam saya adalah saya tidak bisa hadir untuk ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan secara langsung. Meskipun tak mengurangi rasa haru saya menyaksikan dia bahagia hanya lewat foto yang dikirim teman - teman saya yang hadir.
Kesedihan mendalam yang disebabkan terbatasnya kemampuan saya, baik waktu maupun materi untuk bisa datang kembali ke kota yang hari demi hari membuat saya rindu akan kenangan yang diberikannya selama hampir sembilan tahun, Jogja. Kesedihan mendalam yang membuat saya sedikit marah saat itu, kenapa saya tidak lagi tinggal di Jogja? Kenapa saya harus bekerja keras dan pulang ke kampung halaman tapi belum bisa menikmati apa - apa? Bahkan untuk berkumpul dengan orang - orang yang saya cintai di Jogja pun saya tetap harus memikirkan dan menimbang berkali - kali. Mulai dari ongkos perjalanan, hingga perizinan ke tempat bekerja.
Kesedihan mendalam yang terjadi akibat besarnya keinginan saya untuk berangkat ke Jogja sejak lama, namun karena beberapa kendala saya harus mengurungkan niat tersebut sehingga untuk beberapa hari saya uring uringan. Perasaan sedih melanda tanpa tahu sebab. Yang saya tahu saya sedih sekali.
Sebenarnya, bukan karena satu hal itu saja yang membuat saya bersedih. Ada hal - hal lainnya yang berhubungan dengan rencana lama yang tidak kesampaian yang kebetulan lagi bertepatan dengan hari yang sama dengan hari pernikahan sahabat saya. Dan satu dua hal tersebut sukses membangkitkan kesedihan mendalam.
Malam ini, setelah seminggu berlalu, dan kesedihan tersebut telah sirna, muncul hal lain yang mungkin ketika saat itu saya tahu bersamaan akan membuat saya sedih berkali lipat. Ya, berkali lipat.
Satu hal yang mungkin harus saya syukuri, saya telat tahu. Dan satu hal juga yang mungkin harus saya sesali, kenapa saya harus tahu.
***
Hujan disini.
Ditemani hitam dan dingin.
Basah di ranjang sudah bercampur.
Mungkin sebentar lagi aku disumpah serapahi kasur.
***
Terguling, kau tahu kenapa? Ada getaran hebat yang datang tak disangka - sangka. Entah darimana. Kupikir gempa melanda, nyatanya ada yang runtuh tepat di tengah dada.
***
Hai ombak yang menggoyahkan perahuku, pergilah kau jauh!
Sudah perkasa kurakit perahu yang akan mengantarkanku ke tujuan. Sudah tenang air lautan.
Aku tak mau karam, dan tak akan karam.
Rabu, 08 Mei 2019
Please, help..
Pernah merasa lelah?
Tentu saja pernah, bukan?
Lelah berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti
lesu, tidak bertenaga. Secara umum, hal tersebut pastinya selalu dikaitkan
dengan kemampuan fisik atau jasmani. Namun yang saya maksudkan kali ini bukan
lelah karena terlalu banyak berolahraga atau lelah yang disebabkan padatnya
aktifitas. Bukan. Lelah yang saya maksudkan tidak ada hubungannya dengan
seberapa kuat kamu bisa berlari di bawah terik matahari, atau seberapa kuat
kamu dapat mengangkut beban barang dengan berat berton – ton setiap harinya.
Lelah yang saya maksudkan adalah seberapa kuat kamu bertahan menghadapi
permasalahan dalam hidup yang tak kunjung berhenti.
Kali ini saya akan bercerita tentang seorang kawan. Tak
perlu disebut siapa namanya. Dia adalah seseorang dengan latar belakang
keluarga, pendidikan dan ekonomi yang mungkin bagi banyak orang dinilai baik.
Orang lain yang tidak mengenal dia akan berpikir bahwa kehidupannya mungkin
juga akan menjadi kehidupan yang begitu didambakan. Tapi hal tersebut justru
tidak berlaku untuk dirinya sendiri.
Dia adalah orang yang kesepian di tengah pekerjaannya
yang mengharuskan dia bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang setiap
harinya. Temannya hanya segelintir, itupun tak ada yang benar – benar mengenal dengan
baik.
Meskipun memiliki pekerjaan yang cukup mapan untuk
menghidupi dirinya sendiri, namun seperti sebuah kalimat yang sering kita
dengar: ‘kebutuhan selalu mengikuti pendapatan’, materi yang dihasilkan tak
pernah cukup. Dia tak pernah berpikir bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri,
namun bekerja sebagai dedikasi untuk orang – orang terdekatnya. Mandi keringat
di bawah terik matahari, tangan gemetar tak henti – henti hingga tak ada waktu
untuk mencari hiburan, dia lakukan demi mencukupi kebutuhan orang – orang
terdekatnya.
Dan dia masih menjadi orang yang tak pernah dianggap
keberadaannya. Hidupnya hanya sebatas omong kosong, sebuah beban, atau kotak
penyimpanan yang hanya perlu diletakkan di suatu tempat bagi orang – orang yang
begitu ingin dia perjuangkan. Satu waktu saya bertemu dengannya, dia adalah
orang yang bersemangat dan penuh harapan. Cita – citanya banyak. Namun di lain
waktu, saya bertemu dengannya yang hanya melamun dengan sorot mata kosong. Dan
satu kalimat yang keluar dari bibirnya “Aku harap aku bisa mati muda”. Tak ada
airmata mengalir ketika dia mengucapkan kalimat itu.
Di hari ulang tahunnya, dia menangis sejadinya tak henti.
Katanya, dia takut akan kematian namun begitu mengharapkannya. Segala sesuatu
yang ada di muka bumi ini, baik yang berwujud maupun tak berwujud memiliki
batasnya masing – masing, bukan? Karena itulah tak jarang dia berfikir mungkin
kemampuannya sudah mendekati batas untuk pada akhirnya menyerah. Lelah. Lelah
karena merasa berkali – kali menjadi orang gagal. Lelah karena merasa tidak
berguna dan berarti untuk orang lain. Lelah karena merasa sendiri dan kesepian.
Lelah karena merasa ternyata usianya bertambah untuk menerima dan menghadapi
kegagalan – kegagalan dan ketidakbergunaan berikutnya.
Pada beberapa fase kehidupan pribadinya, dia pernah
melewati banyak kejadian ‘ditinggalkan’ oleh beberapa orang hingga membuat dia
begitu terpuruk. Kalimat – kalimat berikutnya yang menyusul untuk didengarkan
adalah bahwa orang – orang yang begitu dia gantungkan harapannya pun mengatakan
bahwa mereka siap meninggalkan dia kapan saja. Lagi – lagi kehidupan hanya
sebatas ditinggalkan dan meninggalkan baginya.
Jika rasanya ditinggalkan sudah tidak asing baginya, kali
ini dia begitu berharap bisa meninggalkan. Dan seperti yang diduga,
‘meninggalkan’ versi dia bukanlah hal yang sederhana. Karena saya tahu betul
dia tidak pernah bisa melakukan hal yang menjadi barometer meninggalkan bagi
banyak orang pada umumnya, termasuk mereka yang membuat dia merasa
keberadaannya tidak berarti. Dia tidak bisa memutuskan hubungan, menutup pintu
silaturahmi dan komunikasi, atau bahkan membenci orang – orang yang begitu dia
sayangi.
Apakah dia kecewa pada semua orang? Tidak. Yang saya
lihat dia justru membenci dirinya sendiri yang tidak pernah dianggap ada. Oleh
banyak orang dia dianggap memiliki kedudukan yang baik, tapi oleh orang
terdekatnya dia tak lebih dari manusia yang hanya sekedar hidup. Karena itu
pula berkali – kali dia berharap bahwa bunuh diri merupakan jalan keluar satu –
satunya.
Mengerikan? Atau memalukan?
Saya pernah bertanya.
“Apa yang kamu pikirkan ketika kamu berharap mati?”
“Mereka berbahagia dengan ketidakhadiranku,”
“Kalau ternyata pikiranmu salah dan mereka tidak
berbahagia setelah kematianmu?”
Dia terdiam sebelum kemudian menjawab, “Mungkin aku akan
sekarat dan mati untuk kedua kalinya.”
Yang saya tahu, dia pernah menjadi sosok yang begitu
tangguh meski bercucuran airmata. Karena itu ada nyeri yang menjalar di hati
saya ketika mendengar dia begitu putus asa di tengah harapan – harapan yang
masih dia genggam erat. Saya tahu, pikirannya pasti berkecamuk. Menjadi
seseorang yang begitu penuh harapan tapi tak pernah diharapkan itu bukanlah hal
mudah. Dan hal tersebut menyerang pikirannya setiap hari.
Dia butuh pertolongan walau saya juga tidak tahu
bagaimana caranya. Saya takut, menolongnya karena rasa iba akan membuat dia
semakin tersungkur. Tapi dia sungguh butuh pertolongan. Dan satu – satunya yang
bisa saya lakukan hanya membuatnya tidak semakin merasa lelah akan
kehidupannya.
Let me know, siapapun juga yang sekiranya tahu apa yang
bisa kita lakukan kepada manusia – manusia seperti teman saya. Dia hanyalah salah
satu dari sekian banyak orang di dunia yang merasakan hal seperti itu. Dan
semoga apa pun yang bisa kita lakukan berdampak baik untuk dia dan orang di
sekelilingnya.
Selasa, 07 Mei 2019
Kemana manusia berlari?
Di depan, pintu terkunci rapat
Di belakang, dinding berlapis tombak menganga lebar
Di kiri, gulungan ombak raksasa menari
Di kanan, kobaran api tertawa
Kemana manusia berlari?
Pijakan siap runtuh.
Tak ada arti berjingkat
Apalagi berdiri angkuh.
Selasa, 26 Maret 2019
Pamit
Sosial media memang bisa jadi sumber penyakit. Terutama penyakit hati.
Saya berhenti aktif di sosial media. Semua akun sosmed saya deactive. Berbulan panjang saya berusaha tidak membuka facebook, instagram, twitter atau sosial media lainnya.
Saya tak perlu menghiraukan apa yang terjadi di sosial media. Karena tak selamanya yang terekam gambar lalu diabadikan di sosmed adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Dan demi satu dua foto atau berita yang tak jelas kejadian sebenarnya, kita harus merelakan hati dan pikiran kita bekerja tidak senormal seharusnya, saya tidak mau lagi terjebak dalam kondisi seperti itu.
Hidup realistis, yang terjadi di dunia maya bukan berarti kenyataan yang harus kita hadapi.
Satu orang bercerita di sosmed dengan tujuan pamer. Satu orang lagi bercerita di sosmed dengan tujuan menarik simpati. Satu orang lainnya bercerita di sosmed dengan tujuan membuat orang lain sakit hati. Satu orang lain lagi bercerita di sosmed dengan tujuan memberi informasi. Satu orang lagi bercerita di sosmed dengan tujuan membangun motivasi. Yang lain lagi bercerita di sosmed sebagai ajang promosi. Tapi tak ada yang benar benar tahu kebenarannya.
Saya pamit, dari sosial media. Saya tidak mau mengorbankan hati dan pikiran saya perlahan menggila. Silaturahmi jadi tak ada artinya ketika ketidakwarasan menghampiri.
Saya pamit. Saya tinggalkan hati hati kotor dan pikiran buruk yang berkubang di dalam dunia maya bersama akun akun yang sudah saya deactive-kan.
Mari memulai hidup yang sebenarnya. Yang merekam segala kejadian di kepala, yang tidak membawa keinginan pamer di setiap kejadian yang diabadikan, yang berharap pujian pada segala yang dikerjakan bahkan sesepele bernafas. Yang memprioritaskan hal pribadi menjadi hal yang perlu diketahui publik.
Saya pamit, keluar dari rutinitas tersebut.
Saya berhenti aktif di sosial media. Semua akun sosmed saya deactive. Berbulan panjang saya berusaha tidak membuka facebook, instagram, twitter atau sosial media lainnya.
Saya tak perlu menghiraukan apa yang terjadi di sosial media. Karena tak selamanya yang terekam gambar lalu diabadikan di sosmed adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Dan demi satu dua foto atau berita yang tak jelas kejadian sebenarnya, kita harus merelakan hati dan pikiran kita bekerja tidak senormal seharusnya, saya tidak mau lagi terjebak dalam kondisi seperti itu.
Hidup realistis, yang terjadi di dunia maya bukan berarti kenyataan yang harus kita hadapi.
Satu orang bercerita di sosmed dengan tujuan pamer. Satu orang lagi bercerita di sosmed dengan tujuan menarik simpati. Satu orang lainnya bercerita di sosmed dengan tujuan membuat orang lain sakit hati. Satu orang lain lagi bercerita di sosmed dengan tujuan memberi informasi. Satu orang lagi bercerita di sosmed dengan tujuan membangun motivasi. Yang lain lagi bercerita di sosmed sebagai ajang promosi. Tapi tak ada yang benar benar tahu kebenarannya.
Saya pamit, dari sosial media. Saya tidak mau mengorbankan hati dan pikiran saya perlahan menggila. Silaturahmi jadi tak ada artinya ketika ketidakwarasan menghampiri.
Saya pamit. Saya tinggalkan hati hati kotor dan pikiran buruk yang berkubang di dalam dunia maya bersama akun akun yang sudah saya deactive-kan.
Mari memulai hidup yang sebenarnya. Yang merekam segala kejadian di kepala, yang tidak membawa keinginan pamer di setiap kejadian yang diabadikan, yang berharap pujian pada segala yang dikerjakan bahkan sesepele bernafas. Yang memprioritaskan hal pribadi menjadi hal yang perlu diketahui publik.
Saya pamit, keluar dari rutinitas tersebut.
Kamis, 14 Maret 2019
Mari Bercerita..
Mari bercerita..
Tentang langit dan bumi
Yang jauh berbeda tapi saling melengkapi
Langit mengerahkan segala upaya untuk menjaga dan mengasihi
Bumi merelakan segala yang dimiliki untuk memberi
Lalu mereka saling menunggu untuk melebur bersama satu hari nanti
Mari bercerita..
Tentang hati dan pikiran
Yang berhubungan tapi sering tak sejalan
Hati selalu khawatir berlebihan
Dan pikiran selalu berhasil menenangkan
Lalu mereka tak pernah pergi dari setiap harapan
Mari bercerita..
Tentang Kau dan Aku
Yang saling mencintai tapi saling meragu
Kau berpikir aku meninggalkanmu
Dan Aku berpikir kau meninggalkanku
Lalu kita tak tahu kapan akan bersatu..
Mari bercerita..
Tentang apa saja
Yang berbeda namun tetap sejiwa
Yang bercinta di tengah suka duka
Yang menggenggam walau terluka
Yang selalu hadir di setiap airmata
Yang akan saling menjaga hingga tua
Lalu kita akan tahu, bahagia itu sederhana
Kau dan aku bersama.
Selasa, 12 Maret 2019
Belajar Menikmati Profesi
Saat yang lain sudah
beralih ke vlog, saya masih setia dengan blog. Hahaha. Pertama, saya nggak
punya kamera bagus seperti yang para vlogger itu punya atau pakai untuk
nge-vlog. Kedua, saya tidak terlalu percaya diri tampil di depan kamera di
tempat umum sambil bicara pula. Ketiga, saya tidak terlalu berambisi untuk
eksis dan jadi pusat perhatian banyak orang. Menulis di blog pun, bukan karena
berharap banyak orang bisa membaca tulisan saya lalu saya bisa menjadi blogger
terkenal. Menulis di blog, murni karena keinginan saya untuk menyalurkan emosi
saya tentang berbagai cerita, pikiran atau isi hati. Agar suatu hari ketika
saya membaca kembali tulisan – tulisan saya di blog, saya masih bisa mengingat
kejadian apa saja yang sudah saya lalui di hari – hari sebelumnya.
Seperti kali ini, saya ingin blog ini menjadi wahana
pengingat untuk masa yang akan datang bahwa saya pernah tidak sengaja terlibat
dalam kampanye politik dengan kedok Baksos. Hahaha. Tolong digarisbawahi, TIDAK
SENGAJA, agar nanti saya tidak malu pada diri sendiri.
Beberapa hari yang lalu, seorang teman sejawat (TS)
menghubungi saya dan menawarkan saya untuk turut serta dalam kegiatan baksos. Acaranya
memang pada akhir minggu, tapi masih dalam hari kerja saya di Puskesmas dan
diluar kota pula walaupun hanya kota sebelah – Sungailiat. Berhubung sudah tiga
bulan gaji saya bekerja di Puskesmas belum cair juga, dan isi dompet sudah
meraung – raung, saya putuskan untuk menerima tawaran TS tersebut. Demi
menambah penghasilan tambahan untuk sementara waktu, dan saya pikir saya
bekerja sesuai dengan profesi saya. Saya bekerja untuk melayani dan membantu
masyarakat berdasarkan ilmu yang saya miliki dan pelajari. Lalu tidak ada salahnya,
kan?
Namun ternyata pada
hari H begitu hampir tiba di lokasi acara, kami (saya dan dua TS dokter gigi
lainnya) baru tahu kalau baksos tersebut merupakan acara partai dalam rangka
kampanye salah satu caleg DPR RI. Dari dulu, saya anti dengan politik. Walaupun
Bapak saya pernah terseret arus politik, atau teman – teman saya juga
berkecimpung di dunia politik, tetapi saya enggan berurusan dengan hal semacam
itu. Meskipun porsi saya hanya sebatas anggota tim medis yang bertugas dan
membantu mendukung jalannya kegiatan saat acara kampanye, tetapi sebuah tiba –
tiba ketika wajah saya didokumentasikan oleh panitia tim sukses bersama si
Bapak Caleg ini membuat saya rasanya harus menutup muka.
Tapi baiklah, fokus kali ini bukan pada kampanye
politiknya. Tetapi pada acara baksosnya. Saya bekerja sebagai tim medis yang
melayani masyarakat, bukan tim sukses suatu partai politik.
Hari H tanggal 9 Maret 2019, acara dimulai pukul delapan
pagi, jadi pada pukul tujuh saya sudah berangkat dari rumah. Titik kumpul awal
berada pada Klinik Alfatih Pangkalpinang, setelah semua tim berkumpul kita berangkat
menggunakan mobil ke lokasi acara. Kebetulan khusus tim dokter gigi diangkut
menggunakan satu mobil, tentu dengan supir yang sudah disiapkan dari panitia.
Berasa spesial ya diperlakukan seperti itu, sebelum negara api menyerang dan
kita berakhir kelelahan >.<
Tiba di lokasi sudah
banyak orang yang datang, mulai dari panitia hingga peserta baksos. Kami
langsung menuju tempat bekerja kami di bagian pelayanan pemeriksaan gigi untuk
membantu mempersiapkan alat dan bahan. Disana sudah ada empat dokter gigi
lainnya yang ternyata didatangkan dari Jakarta. Saya tidak tahu pertimbangannya
apa mendatangkan dokter gigi dari daerah lain ketika sebenarnya di daerah
sendiri masih banyak dokter gigi yang dapat diajak bekerjasama untuk kegiatan
semacam ini.
Satu per satu pasien
datang. Kami terbagi menjadi dua tim; tiga orang dokter gigi melayani
penambalan, tiga orang dokter gigi melayani pencabutan dan satu orang dokter
gigi melakukan screening awal pasien. Saya dan dua TS dari Pangkalpinang
memilih tim tambal gigi. Saat itu kami berpikir akan banyak datang pasien yang
ingin mencabut giginya. Beberapa bulan bekerja di Puskesmas (kebetulan dua
orang TS saya yang lainnya juga bekerja di Puskesmas) sedikit banyak membuat
kami tahu kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat disini. Tapi ternyataaa,
kami salah! Pasien yang datang hari itu lebih banyak ingin menambal gigi
daripada mencabut giginya. Sehingga kami sebenarnya cukup kewalahan dan
kecapaian melayani pasien yang antri cukup banyak hingga pukul tiga sore.
Itupun, jika pendaftaran pasien tidak kami minta untuk dihentikan mungkin masih
akan banyak antri pasien. Bayangkan, dari pukul delapan pagi hingga tiga sore
kami hanya punya waktu istirahat ketika makan siang dan sholat. Itu pun
bergantian.
Jangan tanyakan bagaimana rasanya tubuh kami. Empat
pasien di puskesmas saja sudah lumayan menguras tenaga, apalagi baksos kali ini
yang total keseluruhan pasien gigi ada sekitar 70an dengan tujuh orang dokter
gigi. Mandi keringat di ruangan non ac yang cukup ramai orang dengan cuaca hari
itu yang cerah bersinar. Terlalu banyak duduk dan menunduk karena kursi pasien
yang terlalu rendah sedangkan kursi duduk kami agak tinggi dan keras serta
kondisi headlamp yang lebih banyak tidak berguna daripada membantu membuat kami
merasa pegal – pegal di lengan, pinggang hingga betis. Dan penambalan,
membutuhkan waktu hampir dua bahkan tiga kali lipat daripada cabut gigi.
Alhasil, keesokan harinya kondisi tubuh saya menurun dan jatuh sakit. Hahahaha,
saya memang payah.
Dari acara baksos pertama yang saya ikuti setelah pindah
bekerja di Bangka, saya dapat menganalisa satu hal. Karakter masyarakat disini
adalah masyarakat dengan ability to pay tinggi namun willingness to pay rendah.
Sebenarnya tidak bisa dikatakan tingkat pemahaman akan pentingnya menjaga
kesehatan gigi mereka rendah, karena buktinya pada acara baksos seperti ini
yang tidak dipungut biaya, mereka berbondong – bondong datang meminta gigi
mereka dirawat. Namun akan berbeda situasi jika mereka datang sendiri ke dokter
gigi atau puskesmas, mereka akan lebih memilih untuk mencabut gigi mereka hanya
karena satu alasan utama: tarif menambal gigi lebih tinggi daripada tarif
mencabut gigi.
Saya sedikit gemas dan kesal ketika merawat seorang
pasien di acara baksos kemarin. Pasien saya adalah gadis muda yang memiliki
wajah cukup mulus dan cantik. Dia datang ingin meminta dua giginya ditambal,
yang saya tahu kondisi giginya belum berlubang dan baru ada bayangan kehitaman.
Bukan, bukan karena dia cantik atau giginya yang tidak berlubang ingin ditambal
yang membuat saya kesal. Tapi karena kondisi rongga mulutnya yang sangat kotor.
Karang gigi dimana – mana dan sudah cukup tebal. Yang saya herankan adalah
pasien tersebut belum pernah ke dokter gigi sama sekali sebelumnya untuk
memeriksakan kondisi tersebut. Ketika saya menjelaskan mengenai kondisi giginya
yang tidak berlubang namun akan ditambal, pasien paham bahwa tindakan tersebut
adalah tindakan pencegahan sebelum giginya rusak lebih parah. Lalu ketika saya
menjelaskan bahwa kondisi terburuk dan tindakan utama yang seharusnya dilakukan
terkait rongga mulutnya adalah melakukan pembersihan karang gigi (yang
sayangnya tidak dilayani dalam baksos tersebut), respon pertama pasien saat itu
adalah pertanyaan “Mahal nggak, Dok?”. Disitulah kekesalan saya muncul.
Kenapa biaya atau harga selalu jadi hambatan utama? Bukan
karena sok kaya, atau karena saya berada pada posisi sebagai dokter. Tapi
bukankah ada istilah ‘Sehat itu mahal’? Jika mampu menyisihkan uang untuk
membeli alat make-up atau melakukan perawatan wajah, seharusnya juga mampu
menyisihkan uang untuk melakukan pengobatan atau memeriksakan kesehatan
giginya. Setidaknya melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi hanya butuh enam
bulan sekali jika dibandingkan perawatan wajah semacam facial atau perawatan
rambut seperti creambath yang biasanya dilakukan rutin sebulan sekali. Mengapa
kesehatan gigi dan mulut diabaikan atau dianggap bukan hal penting? Padahal
semua tahu, menjaga gigi dan mulut juga termasuk dalam menjaga kesehatan.
Menjadi PR besar bagi saya dan TS lainnya untuk
memperbaiki pola pikiran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi
dan mulut. Tubuh dari kepala sampai kaki adalah satu keseluruhan sistem. Maka
tak ada satu bagian atau organ tubuh yang jauh lebih penting daripada bagian
atau organ tubuh lainnya. Semua sama pentingnya untuk dijaga keutuhan dan
kesehatannya, tak terkecuali gigi dan mulut. Karena semua memiliki fungsi dan
cara kerja masing – masing.
Selalu ada kelegaan dalam hati saya setiap kali saya
selesai memberikan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Apalagi jika pasien atau
masyarakat mengangguk – anggukkan kepala setiap saya selesai bicara. Rasanya
ada hal kecil berguna yang dapat saya bagikan untuk banyak orang terutama
masyarakat. Setidaknya jika mereka belum paham, kini mereka tahu. Bukankah
sebelum memahami kita harus mengetahui terlebih dahulu? Kondisi masyarakat di
tempat tinggal saya dengan mayoritas latar belakang pendidikan dan ekonomi
rendah tentu berbeda dengan masyarakat yang berada di kota besar. Hal itu menjadi
tantangan untuk diri saya sendiri dalam mengedukasi dan meningkatkan pemahaman
mereka tentang kesehatan bagian tubuh lainnya khususnya gigi dan mulut. Harapan
saya dahulu bisa menjadi orang yang berguna untuk masyarakat kecil kembali
mengudara. Paling tidak jika saya belum mampu memberikan apa – apa, saya mulai
berusaha melakukan yang terbaik sebisa saya.
Jangan, jangan sembunyikan kemampuan dan pengetahuanmu
untuk mereka yang belum atau tidak tahu. Semakin banyak yang kita bagi, semakin
banyak pula yang kita dapatkan terutama tentang ilmu. Dan sesuai sumpah profesi
yang pernah saya ikrarkan, saya akan terus membaktikan hidup saya untuk
kepentingan kemanusiaan. Insyaallah.
Note:
Note:
![]() |
| Hanya ini satu satunya foto yang saya punya dari acara kemarin. Kursi yang saya gunakan untuk memeriksa dan merawat pasien. Serba apa adanya, tapi ternyata cukup menyiksa raga. 😌😌 |
Langganan:
Postingan (Atom)

