Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2017

DISAPIH - MIAN TIARA

Sebelumnya udah disinggung sedikit tentang film AADC2. Sekarang sih masih belum bisa move on jauh – jauh dari AADC2, masih seputaran itu juga. Saya kali ini akan posting salah satu lirik lagu yang muncul di film AADC 2, yaitu lagu “Disapih oleh Mian Tiara”. Mungkin kalau ada yang lupa lagu ini yang mana, sekedar diulas lagi lagu ini muncul di bagian awal film. Mian Tiara diceritakan menjadi tamu pada acara yang diadakan oleh Cinta di tempat kerjanya. Dan pada acara itu Mian Tiara membawakan lagu Disapih ini.
Kenapa lagu ini? Padahal banyak lagu AADC2 lainnya yang lebih terkenal. Karena saya suka liriknya. Sederhana tapi ngena. Udah itu aja. Ngga lebih, ngga kurang.
Disapih – Mian Tiara
Adalah dendam tak terucap
Rahasia yang tak terungkap
Inikah perih yang tertahan
Hingga ku tak sanggup melawan
Adanya aku pernah diminta
Sosok terindah yang dipuja
Kini lepas jauh terhempas
Karenamu kan terbang bebas
Cintaku dicela rasa dilupa
Olehmu.. Olehmu..
Dan aku disapih perlahan jadi buih
Olehmu.. Olehmu..


Kalau mau lihat link youtube nya juga boleh. Saya sempat browsing (niat banget) videonya dan ketemulah video Mian Tiara yang lagi perform di salah satu cafe di Bali membawakan lagu Disapih ini. Tetep kerenn. Silahkan menikmati.

Sabtu, 14 Januari 2017

Ada Apa Dengan CINTA (jodoh)??

Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya menonton film. Mmm.. saya hobi menonton film, tapi bukan di bioskop. Hahaha. Saya hanya hobi menonton film di laptop malam hari sebelum tidur. Bukan tanpa alasan. Yang pertama, di daerah saya dulu belum ada bioskop. Jadi kita memang dari masih remaja ngga pernah update film ke bioskop seperti umumnya remaja di kota besar. Yang kedua, karena dari awal saya memang sudah jarang menonton film ke bioskop, begitu merantau di kota besar pun saya ngga begitu tertarik menghabiskan uang untuk membeli tiket bioskop dan snack untuk teman nonton. Yang ketiga, kebetulan pasangan saya (saat itu) juga bukan orang yang suka menonton ke bioskop. Jadi kita ngga pernah punya agenda pacaran ke bioskop.
Oke, itu tadi hanya intermezzo. Kembali ke point awal bahwa saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya menonton film. Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2). Ah basi. Mungkin sebagian orang akan berpendapat seperti itu. Filmnya sudah lewat satu tahun tayang baru akan dibahas. It’s okay. Setiap orang punya kebebasan berpendapat. Saya juga.
Malam tadi saya menonton AADC2 untuk yang kesekian kalinya. Well, AADC merupakan salah satu film Indonesia favorit saya (mungkin juga favorit semua orang). Kisah Cinta dan Rangga yang membuat naik turun emosi dan persahabatan antara Cinta dan teman – temannya yang begitu dekat dengan kehidupan sehari – hari, saya rasa menjadi daya tarik tersendiri sehingga ketika film ini dibuat sekuel keduanya banyak yang menantikan kelanjutan kisah para tokoh utama. Tidak terkecuali saya. 
Harus saya akui, AADC2 sebenarnya tidak berakhir sesuai dengan ekspektasi saya. Berkaca dari film AADC1, saya kira di AADC2 ceritanya akan lebih menaik turunkan emosi. Tapi, saya berikan dua jempol untuk akting para pemainnya yang wahh, Saya pengagum anda Dian Sastro dan Nicholas Saputra!! Pada AADC2, Rangga dan Cinta dipertemukan lagi dengan membangkitkan emosi lama ketika masih bersama. Meski kondisinya saat itu Cinta sudah akan menikah. Dan film ini berakhir dengan pilihan Cinta yang kembali jatuh ke hati Rangga lalu meninggalkan calon suaminya. Tentu saja sebagai penggemar pasangan Cinta-Rangga saya ingin mereka bisa bersatu kembali. Dan usaha penulis cerita untuk menuruti harapan para penggemar Cinta-Rangga tetap harus dihargai. Namun dengan alur cerita tersebut saya rasa bersatunya Cinta-Rangga terkesan menjadi cerita yang agak dipaksakan. Tapi gapapa lah, semua bisa ditoleransikan selama Cinta dan Rangga bisa bersatu kembali, hehehe.
Oh iya, satu hal. Film ini tetap membuat saya baper (lebih baper dari AADC1 malah), karena lokasi syutingnya di Jogjaaaa. You know? Jogja means “rumah kedua” saya setelah Bangka. How baper I am. Setiap sudut Jogja di film ini membuat saya berkhayal sambil senyum – senyum sendiri; “ini saya dan teman – teman saya”, “aaah ini nih besok kita bisa pacaran ala Cinta-Rangga” atau “Iiiih Rangga tau aja tempat romantis, mau ikut – ikutan kita aja pacaran kesana” (fix, lebai!). Tapi ya gitu lah Gigih, kadang suka ngga sadar umur kalau nonton film romantis begini. Dannn, baper nonton kali ini sedikit beda dari baper sebelum – sebelumnya yang seperti cabe – cabean di atas.

Friendship goals terbaper
Berhubung suasana hati memang sedang galau dan patah hati, menonton AADC2 memberikan semangat tersendiri untuk saya bahwa jodoh itu sudah diatur Allah SWT. Manusia boleh saja berencana, tapi sebaik – baiknya rencana manusia tetap saja yang terbaik adalah rencana Allah SWT. Seperti Cinta dan Rangga yang sudah terpisah 9 tahun lamanya tanpa komunikasi sama sekali, tentu saja atas izin Allah SWT mereka dipertemukan dan dipersatukan lagi. Mungkin orang lain akan bilang, “Ah, namanya juga film. Apa saja bisa terjadi di film. Jangan terlalu diambil hati.” Iya, justru karena hanya sebuah film. Kalau pada sebuah film saja skenario seperti itu bisa dibuat menjadi mungkin, apalagi skenario yang dibuat oleh Allah SWT. Dan saya percaya skenario dari Allah SWT jauh lebih indah daripada skenario yang dibuat manusia di film – film romantis.
Jodoh itu rahasia Allah SWT ternyata
Dunia ini kecil, Indonesia apalagi. Yang besar hanya Allah SWT. Jika jarak Jakarta – NewYork saja terlihat begitu dekat dalam sebuah film, apalagi jarak yang hanya beberapa kilometer saja di mata Allah SWT? Semua serba mungkin jika Allah SWT sudah turun tangan. Maka jangan takut Allah SWT tidak mempertemukan dengan jodohmu di dunia yang begitu kecil ini.
Ahhh, nikmatnya menonton film dapet hikmah seperti ini. Biasanya setelah nonton film romantis langsung galau tiada henti. Semoga seterusnya dalam hal apapun saya selalu bisa melihat sisi positif lebih banyak daripada sisi negatifnya. Semoga.

Minggu, 13 April 2014

Miracle In Cell No 7 - wujud cinta seorang ayah

Tadi malam saya baru saja menonton sebuah film drama Korea yang berjudul "Miracle In Cell No 7" pinjaman teman kampus saya. Dan saya harus jujur mengatakan bahwa film ini adalah salah satu film dengan skenario terbaik yang pernah saya tonton selama ini. Film yang benar - benar menguras emosi penonton. Yaa seperti tipe saya yang mellow dan kadang sedikit lebai melibatkan emosi, saya memang lebih menyukai film dengan genre drama romantis ketimbang menonton film action thriller yang penuh dengan kesadisan.

Film ini menceritakan tentang kisah ayah dan anak. Sang anak yang sudah tidak memiliki ibu lagi hanya hidup berdua dengan sang ayah yang memiliki gangguan kecerdasan mental. Suatu hari sang ayah dituduh melakukan penculikan dan pembunuhan anak dibawah umur dan terancam mendapat hukuman mati. Kehidupan pun berubah. Sang ayah yang lugu dan tidak tahu apa - apa hidup dibalik dinding penjara, dan sang anak diluar sana terus menunggu dan berupaya menemui ayahnya. Penantian ayah dan anak untuk berkumpul kembali tersebut ternyata tidak semanis cerita di film film lainnya. Karena dibawah tekanan dan ancaman banyak pihak terhadap sang anak, sang ayah dipaksa untuk mengakui pembunuhan tersebut dan menerima hukuman mati. Pengakuan palsu sang ayah membawa mereka ke perpisahan yang sebenarnya. Sang ayah dihukum mati, demi menyelamatkan jiwa sang anak.

Bisa membayangkan adegan ini terjadi di kehidupan nyata anda?
Dari film itu saya bisa merasakan bagaimana tulusnya kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Saya bisa merasakan bagaimana cinta tanpa melihat kekurangan. Saya bisa melihat bagaimana cinta bisa membuat orang jahat menjadi baik, dan orang baik menjadi jahat. Saya bisa merasakan bagaimana mereka satu sama lain berusaha untuk selalu saling menguatkan. Saya bisa merasakan cinta abadi, cinta seorang anak terhadap orangtua dan sebaliknya.

Bukan hanya sisi manis dari cinta, saya melihat dan juga merasakan bagaimana kejamnya dunia terhadap cinta. Bagaimana ternyata ketidakadilan bisa memporak porandakan cinta. Bagaimana kebencian ternyata mampu menyerang cinta.

Saya merasakan emosi yang mendalam terhadap film itu, karena saya juga pernah merasakan. Tidak sama persis, karena saya masih jauh lebih beruntung dari anak tersebut. Ya, mungkin sangat jauh lebih beruntung. Dan sudah seharusnya bersyukur, yang sering dilupakan karena terlalu sering mengeluh. Merasa paling menyedihkan, merasa paling tersakiti, dan lupa bahwa diluar sana masih banyak yang tidak seberuntung saya, masih banyak yang mengalami hal yang lebih buruk dari yang saya alami.

Miracle In Cell No 7, mengajarkan bahwa selalu ada keajaiban mengiringi cinta yang tulus. Dan saya percaya hal itu ♥♥ 


Deliver me to my father :'(


^note: Recommended banget untuk ditonton bersama keluarga
 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog