Selasa, 17 Januari 2017
Minggu, 15 Januari 2017
DISAPIH - MIAN TIARA
Sebelumnya udah disinggung sedikit
tentang film AADC2. Sekarang sih masih belum bisa move on jauh – jauh dari
AADC2, masih seputaran itu juga. Saya kali ini akan posting salah satu lirik
lagu yang muncul di film AADC 2, yaitu lagu “Disapih oleh Mian Tiara”. Mungkin
kalau ada yang lupa lagu ini yang mana, sekedar diulas lagi lagu ini muncul di
bagian awal film. Mian Tiara diceritakan menjadi tamu pada acara yang diadakan
oleh Cinta di tempat kerjanya. Dan pada acara itu Mian Tiara membawakan lagu
Disapih ini.
Kenapa lagu ini? Padahal banyak
lagu AADC2 lainnya yang lebih terkenal. Karena saya suka liriknya. Sederhana
tapi ngena. Udah itu aja. Ngga lebih, ngga kurang.
Disapih – Mian Tiara
Adalah dendam tak terucapRahasia yang tak terungkapInikah perih yang tertahanHingga ku tak sanggup melawanAdanya aku pernah dimintaSosok terindah yang dipujaKini lepas jauh terhempasKarenamu kan terbang bebasCintaku dicela rasa dilupaOlehmu.. Olehmu..Dan aku disapih perlahan jadi buihOlehmu.. Olehmu..
Kalau mau lihat link youtube nya
juga boleh. Saya sempat browsing (niat banget) videonya dan ketemulah video
Mian Tiara yang lagi perform di salah satu cafe di Bali membawakan lagu Disapih
ini. Tetep kerenn. Silahkan menikmati.
Sabtu, 14 Januari 2017
Ada Apa Dengan CINTA (jodoh)??
Kali ini saya ingin bercerita
sedikit tentang pengalaman saya menonton film. Mmm.. saya hobi menonton film,
tapi bukan di bioskop. Hahaha. Saya hanya hobi menonton film di laptop malam
hari sebelum tidur. Bukan tanpa alasan. Yang pertama, di daerah saya dulu belum
ada bioskop. Jadi kita memang dari masih remaja ngga pernah update film ke
bioskop seperti umumnya remaja di kota besar. Yang kedua, karena dari awal saya
memang sudah jarang menonton film ke bioskop, begitu merantau di kota besar pun
saya ngga begitu tertarik menghabiskan uang untuk membeli tiket bioskop dan
snack untuk teman nonton. Yang ketiga, kebetulan pasangan saya (saat itu) juga
bukan orang yang suka menonton ke bioskop. Jadi kita ngga pernah punya agenda
pacaran ke bioskop.
Oke, itu tadi hanya intermezzo.
Kembali ke point awal bahwa saya ingin menceritakan tentang pengalaman saya
menonton film. Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC2). Ah basi. Mungkin sebagian orang
akan berpendapat seperti itu. Filmnya sudah lewat satu tahun tayang baru akan
dibahas. It’s okay. Setiap orang punya kebebasan berpendapat. Saya juga.
Malam tadi saya menonton AADC2
untuk yang kesekian kalinya. Well, AADC merupakan salah satu film Indonesia
favorit saya (mungkin juga favorit semua orang). Kisah Cinta dan Rangga yang
membuat naik turun emosi dan persahabatan antara Cinta dan teman – temannya yang
begitu dekat dengan kehidupan sehari – hari, saya rasa menjadi daya tarik
tersendiri sehingga ketika film ini dibuat sekuel keduanya banyak yang
menantikan kelanjutan kisah para tokoh utama. Tidak terkecuali saya.
Harus saya akui, AADC2 sebenarnya
tidak berakhir sesuai dengan ekspektasi saya. Berkaca dari film AADC1, saya
kira di AADC2 ceritanya akan lebih menaik turunkan emosi. Tapi, saya berikan
dua jempol untuk akting para pemainnya yang wahh, Saya pengagum anda Dian
Sastro dan Nicholas Saputra!! Pada AADC2, Rangga dan Cinta dipertemukan lagi
dengan membangkitkan emosi lama ketika masih bersama. Meski kondisinya saat itu
Cinta sudah akan menikah. Dan film ini berakhir dengan pilihan Cinta yang kembali
jatuh ke hati Rangga lalu meninggalkan calon suaminya. Tentu saja sebagai
penggemar pasangan Cinta-Rangga saya ingin mereka bisa bersatu kembali. Dan
usaha penulis cerita untuk menuruti harapan para penggemar Cinta-Rangga tetap
harus dihargai. Namun dengan alur cerita tersebut saya rasa bersatunya
Cinta-Rangga terkesan menjadi cerita yang agak dipaksakan. Tapi gapapa lah, semua bisa ditoleransikan selama Cinta dan Rangga bisa bersatu kembali, hehehe.
Oh iya, satu hal. Film ini tetap
membuat saya baper (lebih baper dari AADC1 malah), karena lokasi syutingnya di
Jogjaaaa. You know? Jogja means “rumah kedua” saya setelah Bangka. How baper I am. Setiap sudut Jogja di film
ini membuat saya berkhayal sambil senyum – senyum sendiri; “ini saya dan teman –
teman saya”, “aaah ini nih besok kita bisa pacaran ala Cinta-Rangga” atau “Iiiih
Rangga tau aja tempat romantis, mau ikut – ikutan kita aja pacaran kesana” (fix,
lebai!). Tapi ya gitu lah Gigih, kadang suka ngga sadar umur kalau nonton film
romantis begini. Dannn, baper nonton kali ini sedikit beda dari baper sebelum –
sebelumnya yang seperti cabe – cabean di atas.
| Friendship goals terbaper |
Berhubung suasana hati memang
sedang galau dan patah hati, menonton AADC2 memberikan semangat tersendiri
untuk saya bahwa jodoh itu sudah diatur Allah SWT. Manusia boleh saja
berencana, tapi sebaik – baiknya rencana manusia tetap saja yang terbaik adalah
rencana Allah SWT. Seperti Cinta dan Rangga yang sudah terpisah 9 tahun lamanya
tanpa komunikasi sama sekali, tentu saja atas izin Allah SWT mereka dipertemukan
dan dipersatukan lagi. Mungkin orang lain akan bilang, “Ah, namanya juga film.
Apa saja bisa terjadi di film. Jangan terlalu diambil hati.” Iya, justru karena
hanya sebuah film. Kalau pada sebuah film saja skenario seperti itu bisa dibuat
menjadi mungkin, apalagi skenario yang dibuat oleh Allah SWT. Dan saya percaya
skenario dari Allah SWT jauh lebih indah daripada skenario yang dibuat manusia
di film – film romantis.
![]() |
| Jodoh itu rahasia Allah SWT ternyata |
Dunia ini kecil, Indonesia
apalagi. Yang besar hanya Allah SWT. Jika jarak Jakarta – NewYork saja terlihat
begitu dekat dalam sebuah film, apalagi jarak yang hanya beberapa kilometer
saja di mata Allah SWT? Semua serba mungkin jika Allah SWT sudah turun tangan. Maka
jangan takut Allah SWT tidak mempertemukan dengan jodohmu di dunia yang begitu
kecil ini.
Ahhh, nikmatnya menonton film
dapet hikmah seperti ini. Biasanya setelah nonton film romantis langsung galau
tiada henti. Semoga seterusnya dalam hal apapun saya selalu bisa melihat sisi
positif lebih banyak daripada sisi negatifnya. Semoga.
Kamis, 12 Januari 2017
Moment...
Saya bukan sosok wanita yang
agamis. Sholat saya tak selalu tepat waktu. Hapalan alquran saya masih surat
yang pendek – pendek. Kerudung yang saya gunakan bukan kerudung syar’i yang
menjuntai lebar dan panjang. Saya lebih sering mendengarkan lagu – lagu Barat
ketimbang mendengarkan tilawatil quran. Saya lebih sering menonton drama Korea
daripada menghadari acara dakwah. Saya juga masih sering mengenakan jeans untuk
pergi jalan – jalan. Saya masih bersolek mengenakan make up ketika keluar
rumah. Saya masih sering membicarakan orang lain jika berkumpul dengan teman –
teman. Saya masih berpacaran dan sering pergi hanya berdua saja. Dan prilaku –
prilaku lainnya yang mungkin tidak menggambarkan bagaimana sosok seorang wanita
sholeha seharusnya.
Meski demikian, Saya seperti
wanita pada umumnya yang mempunyai harapan suatu hari saya bisa menjadi istri
sholeha dan memiliki suami yang sholeh pula. Ini manusiawi, menurut saya.
Walaupun mungkin juga terdengar lucu, menurut yang lainnya. Saya sungguh
menyadari kekurangan saya, seperti sebagian yang sudah saya sebutkan di atas. Walaupun
sungguh tentu masih banyak kekurangan lainnya. Saya sungguh menyadari betapa
memalukannya saya dan betapa buruknya saya.
Saya tidak bisa mengatakan
keluarga saya merupakan keluarga yang agamis pula. Namun saya merasa keluarga
saya setidaknya lebih baik dari saya. Karena setiap malam Bapak menelpon dan
selalu bertanya “Sudah sholat belum?”. Ibu juga mengingatkan jangan lupa sholat.
Dan adik saya yang risih jika pergi hanya mengenakan kaos ketat dan jilbab tak
menutup dada. Saya rasa mungkin saya yang paling buruk di keluarga soal
keimanan.
Saya pernah mengalami gangguan
tidur malam berhari – hari. Karena terlalu lelah aktivitas siang hari, biasanya
saya tertidur sebentar setelah magrib. Hati saya gelisah dan tidak tenang,
mulai tengah malam hingga subuh hanya bermain hp di atas kasur. Kepala saya
seperti akan meledak karena banyak pikiran. Tiba – tiba saja, ya, tiba – tiba suatu
malam saya bangkit dari kasur untuk berwudhu dan sholat tahajud. (Sedikit malu
saya katakan, bahwa sebelumnya saya mungkin sudah lupa kapan terakhir kali
bertahajud) Tak banyak yang saya minta malam itu, saya ingin Allah SWT menuntun
laki – laki (pacar saya) ini agar bisa selalu menenangkan hati saya dalam
keadaan apapun. Dan meminta didekatkan lagi jika memang kami baik untuk
bersama. Hanya itu saja.
Ternyata, tak butuh lama Allah
SWT menjawab doa saya. Hanya beberapa minggu setelahnya lelaki ini dengan penuh
airmata setelah mencium sejadahnya menggenggam tangan saya dan mengatakan “Kita
mulai semua dari awal, memperbaiki hidup, memantaskan diri, dan memasrahkan
semua kepada Yang Di Atas. Insyaallah, jika memang kita ditakdirkan berjodoh
Allah SWT akan menyatukan kita kembali.” Lalu kami berpisah.
Allah SWT menjawab doa saya
dengan cara yang berbeda. Tak pernah saya merasakan bahagia dan sedih datang di
saat yang sama. Sungguh bahagia mendengar kalimat tersebut, meskipun juga
terasa mengiris hati untuk mengahadapi perpisahan. Saya merasa melihat sosok
lelaki sholeh yang saya dambakan selama ini. Allah SWT menunjukkannya ke
hadapan saya, hanya menunjukkannya. Seketika hati saya merasa tenang. Bahkan dengan
cara yang berbeda Allah SWT membuat dia menjadi sosok yang menenangkan hati
saya meskipun ternyata keadaan yang Allah SWT maksud adalah kami harus berpisah. Allah SWT menunjukkan kepada saya apa yang saya minta, namun tak langsung
memberikannya. Allah SWT meminta saya berusaha terlebih dahulu untuk
mendapatkannya.
Sesaat terlintas dipikiran saya “Apakah saya memang seburuk itu ya Allah SWT? Apakah saya tidak sepantas itu menerima lelaki baik?” Lalu saya sadar, Saya yang begitu kecil, berharap yang begitu besar. Saya yang sering lupa, berharap tak dilupakan. Saya yang tak peduli berharap dipedulikan. Saya yang tak tahu diri meminta tanpa berusaha. Begitu malunya saya hingga menangis sejadi jadinya.
Sekarang, dengan sisa kekuatan
menutup malu di hadapanNya, saya ingin berusaha. Memperbaiki diri, memantaskan
diri. Ya, memantaskan diri untuk doa berikutnya yang saya minta kepada Allah
SWT. Memantaskan diri untuk keluarga saya yang selalu mengingatkan dan mendoakan saya. Memantaskan diri untuk bisa mengimbangi sosok yang pernah ditunjukkan
Allah SWT ke hadapan saya. “Lelaki baik hanya untuk wanita yang baik”. Saya
bersyukur Allah SWT mengingatkan saya hal itu dan masih memberikan kesempatan
untuk menjadi wanita yang lebih baik. Ya, saya ingin menjadi wanita yang baik
untuk lelaki baik itu. Saya ingin menjadi wanita yang pantas. Bismillah.
Rabu, 11 Januari 2017
Kesepian, Tangisan dan Tulisan
Ia pulang bersama kesepian.
Menyeruput kopi dan mulai berangan.
Saat yang lain merajut mimpi di pembaringan,
Ia bergulat dengan tangisan.
Menjamah tak melalui tangan.
Mencium lantai beraroma tanah bekas hujan.
Demi menyampaikan beribu harapan.
Kini, kokok ayam memecah kesunyian.
Pagi datang masih bersama kesepian.
Lagi, ia menyeruput kopi dan tak lupa berangan.
Kali ini melalui tulisan.
Melukiskan kata yang ada di pikiran.
Mengalirkannya seiring deras rintik hujan.
Demi memperjuangkan beribu harapan.
Menggenggam Pasir..
Pelajaran hari ini:
"Semakin erat kau menggenggam pasir, semakin banyak pasir yang akan gugur berjatuhan. Sampai akhirnya kau akan menyadari, yang kau genggam hanya debu dan angin."
Langganan:
Postingan (Atom)






