Minggu, 22 Juli 2018

Ada yang datang tiba - tiba membawa tumpukan senyum. Katanya, kau terpilih untuk bahagia.
Lalu diberikanlah senyum itu padamu, hingga kau kesusahan menyimpannya. Katanya lagi, jangan disimpan. Senyum itu untuk digunakan sepanjang hari, setiap hari. Pun jika suatu saat tak diperlukan lagi, berikan pada orang lain yang pantas mendapatkan. Cari saja, dan kau akan menemukannya seperti aku menemukanmu..

Sejak saat itu kau sadari, bahagia adalah takdir yang datang dengan sendirinya. Bahagia akan mencari jalan untuk menemukanmu. Tunggu saja.

Senin, 16 Juli 2018

Nobar Piala Dunia 2018


Yang ngga direncanakan itu biasanya selalu jadi. Tapi yang direncanakan dari jauh – jauh hari biasanya malah ngga jadi. Seperti, Nobar Final Piala Dunia 2018 semalam.
                Euphoria Piala Dunia sepertinya masih kerasa ya dimana – mana. Ngga terkecuali di Jogja juga. Saya ini bukan orang yang menggemari sepakbola banget. Tapi ya ngga anti sepakbola juga. Kalau ada kejuaraan dunia semacam Worldcup atau Euro, saya biasanya jadi penggemar sepakbola musiman. Dari kecil. Karena dulu waktu masih kecil sering banget nonton sepakbola berdua sama Bapak, begadang juga dilakoni. Tapi kalau cuma liga – liga Grup saya mah biasa aja, ngga terlalu antusias. Jadi kalau ditanya pemain bola si A main di grup apa saya kurang begitu tahu, tapi kalau ditanya asal negaranya darimana saya tahu. Hahahaha.
                Nah Piala Dunia musim ini sebenarnya saya ngga terlalu ngikutin. Karena ngga bisa nonton TV. Mudik kemarin, di rumah sinyal channelnya diacak setiap mau nonton bola. Sampai di Jogja, TV di kamar juga ngga bisa dipake. Alhasil nonton TV ya cuma di klinik kalau pas lagi jaga. Kalau kebetulan pas jaga ngga ada pasien dan ada jadwal pertandingan sih alhamdulillah. Kalau ngga ya mentok – mentok paginya cuma nonton siaran ulang.
                Tapi, meskipun ngga terlalu ngikutin Pildun musim ini, saya juga ngga mau melewatkan pertandingan Finalnya. Meskipun negara yang saya jagoin ngga masuk Final, tapi yang namanya pertandingan Final ngga bisa dilewatkan. Muter otak lah tuh gimana caranya biar bisa nonton. Mau numpang streaming wifi dari kos Adek, kasian Adek lagi mau UAS. Alhasil sampe siang saya cuma gegulingan di kasur, bingung ngga tahu mau nonton dimana.
                Sorenya ngubungin salah satu temen, eh doi ngajak ketemuan. Katanya lagi suntuk mau ngerjain tugas dan minta ditemenin. Karena saya juga bete ngga bisa nonton bola, akhirnya saya iyakan ajakan temen sekalian cari inspirasi dan mood buat nulis lagi. Sehabis magrib kita berangkat, ke salah satu tempat nongkrong semacam coffeeshop di Loop Telkomsel dekat KM 0 Jogja, masing – masing bawa laptop karena yang satu niatnya mau nugas, yang satu niatnya pengen nulis. Kebetulan lagi, temennya temen saya ini ada yang jualan juga disana. Jadi ya kadang kita ikut bantu – bantu juga. Hahaha.
                Setiba di tempat memang ngga terlalu ramai sih, bisa wifian sambil upgrade tulisan. Tapi semakin malam pengunjung yang datang semakin ramai. Ternyata ada Nobar Final Piala Dunia disana.    Waaah seneng dong ya. Ngga direncanain malah jadi Nobar. Yang tadinya bete ngga bisa nonton akhirnya kesenengan bisa nonton juga. Dan jadinya lebih seru aja karena yang nonton rame banget dan heboh – heboh semua. Ya walaupun saya juga ngga kenal sih.
                FYI, ini kedua kalinya Nobar sepakbola di tempat kayak gini. Yang pertama dulu.. Ahh, bagi saya pengalaman kurang mengenakkan aja. Ngga perlu diceritain deh. Bahkan saya lupa dulu Nobar pertandingan siapa lawan siapa. Tapi Nobar kali ini, as fun as that sounds! Seseneng saya yang jagoan di Finalnya menang. Prancis – Kroasia, 4 – 2! Hahahaha.
                Bonus, pulangnya (karena udah lewat tenga malem) saya bisa menikmati kembali indahnya Jogja di malam hari. Romantis. Salah satu suasana yang akan saya rindukan saat besok sudah ngga tinggal di Jogja lagi. Walaupun berakhir menggigil kedinginan karena lupa pakai jaket ^_^

Senin, 09 Juli 2018

Sepenggal kisah..

Katanya, menyayangi orang lain itu mudah. Ya benar. Tapi jangan samakan sayang dengan cinta dengan mudah. Cinta tak sesederhana itu. Butuh waktu. Paling tidak begitu menurutku.
Orang lain bilang cintaku begitu bodoh, tapi kubalas senyuman. Tak apa, banyak yang mereka tidak rasa. Beruntunglah mereka dengan kisah mereka. Dan aku beruntung dengan kisahku sendiri. Tidak urusan dengan yang tidak peduli, apalagi yang hanya ingin memaki.

Hidup cuma sekali bukan? Singkat pula. Jadi apa yang harus disesali? Kau hanya perlu menikmati sebelum mati. Jika setiap pilihan hidupmu selalu dihadapkan dengan apa - apa yang baik pula untuk orang lain, setidaknya ada satu hal dalam hidup yang berjalan sesuai dengan apa maumu tanpa memikirkan orang lain. Satu hal saja.
Dan bagiku satu hal itu tentang hati, cinta. Kepada siapa hati akan memilih yang pantas untuk disematkan. Terserah akan kau berikan atau tidak. Atau mungkin akan kau berikan sebagiannya saja. Karena belum tentu pula yang kau beri akan menerima dengan senang hati. Bisa jadi ia terima, lalu bawa pergi dan ditinggalkan di tempat sampah atau barang rongsokan, lalu kau punya apa jika hatimu dibawa lari?

Tentang hati tadi atau anggaplah cinta, aku sudah memilih dengan siapa akan kutandai pemiliknya. Tentu tidak hanya kuproses dalam satu dua hari. Dia bisa memilih untuk memilikinya atau kalau tak mau biar aku saja yang menjaganya. Yang penting tak hilang. Dan jika rusak masih bisa diperbaiki. Sesederhana itu sebetulnya. Dan perlu diingat, aku hanya punya satu, dan tak bisa dibagi. Jadi jangan kau tanya apa masih ada yg lain? Atau apa masih ada ruang kosong? Tentu saja tidak.
Betapapun orang lain punya penilaian, tentu penilaianku lah yang paling berarti. Maka tak ada yg bisa mengubahnya begitu saja. Kecuali Tuhan tentunya. Tapi sudah lama kuminta izin pada Tuhan, untuk biarkan begini saja. Setelah aku mati, terserah padaNya. Ya paling tidak selama aku hidup di dunia, yang katanya tak seberapa. Yang katanya sementara. Yang katanya tak kekal.
Lalu Tuhan tersenyum, kataNya apa yang tidak bisa Kuberikan padamu? Jika kau hendak begitu dan sanggup, lakukan saja. Maka Tuhan begitu baik bukan?

Setelah hari itu, maka tak ada yang bisa mengubah keputusanku. Sekali seumur hidupku. Ntah sebentar atau lama usiaku, aku sudah memilih satu untuk hidupku yang tak perlu disesali. Yang lain, ntahlah. Biarkan saja angin yang mengarahkanku kemana harus melangkah. Selama aku selalu menggenggam satu satunya yang kuyakini tadi, cinta, aku akan merasa hidupku tetap saja mudah. Meski mungkin sewajarnya rasakan sakit bertubi - tubi. Meski mungkin seharusnya hidup lebih dari ini.

Selasa, 03 Juli 2018

Kepada awan mendung yang berarak arak menjauh
Kutitipkan rinduku yang tak pernah tuntas
Menggantung di sela sela harapan

Bawa saja ia pergi kemana arah angin menuju
Jangan tinggalkan disini
Penuh sesak dan berdebu
Bersaing dengan jaring laba laba di gudang berisi kepingan hati

Kalau boleh
Jangan kembali kesini
Karena nanti aku yang akan lari
Kemana saja asal tak mati

Senin, 25 Juni 2018

Tentang Hidup


Selalu ada fase dimana kamu harus berhadapan dengan pilihan yang akan menentukan bagaimana kehidupanmu nanti untuk rentang waktu yang panjang. Seperti saat ini. Saya pikir saya sudah cukup melewati itu kemarin, tapi ternyata belum selesai.
Setelah lulus, yang dilakukan hampir semua orang adalah mencari kerja. Tidak terkecuali saya. Beberapa bulan yang lalu, saya cukup kebingungan menentukan mau cari kerja dimana setelah lulus? Masih mau stay di Jogja, pulang ke kampung halaman atau justru mencari pengalaman baru pindah ke kota lainnya. Dari sebelum lulus, saya sudah mencari – cari info mengenai lowongan pekerjaan di banyak tempat. Tanya saudara, tanya teman yang sudah lulus juga, tanya kerabat teman, tanya di internet dan masih banyak lagi. Kenyataannya sampai waktunya tiba saya masih bingung juga.
Dua hari pasca ujian akhir UKMP2DG, saya dihubungi salah seorang teman untuk bisa menggantikan dia praktek di salah satu klinik gigi di Jogja. Kebetulan saat itu dia akan cuti melahirkan, jadi butuh dokter gigi pengganti di klinik. Tawaran teman saya langsung saya terima, tanpa memikirkan seberapa besar gaji yang akan saya dapatkan dan seberapa jauh lokasinya dari tempat tinggal saya. Saat itu saya berpikir, daripada menganggur menunggu pengumuman dan sumpah tidak ada salahnya saya terima tawaran ini untuk mengisi waktu dan mencari kenalan baru. Syukur – syukur bisa menambah penghasilan untuk uang jajan. Maka seminggu setelah ujian akhir saya langsung bekerja. Padahal dulu saya berkeinginan ketika lulus saya mau liburan dulu, istirahat sebentar sebelum mulai kerja keras cari uang. Tapi beban dan tanggungjawab ke orangtua mematahkan keinginan untuk bersantai – santai buang waktu. Saya merasa saya justru dikejar – kejar waktu. Bagaimana menunjukkan ke orangtua bahwa inilah hasil kerja keras kalian selama ini, saya sampai pada titik ini dan kini kalian tidak perlu khawatir dan bekerja lebih keras lagi. Sudah saatnya giliran saya yang bekerja keras untuk kalian, untuk masa – masa tua kalian.
Saya bekerja dengan penghasilan yang tidak bisa dibilang besar, pas pasan. Pas untuk isi bensin dan saat itu pas untuk mengurus administrasi pendaftaran Serkom, STR dan tetek bengek lainnya. Iya, saya masih membebankan orangtua untuk keperluan biaya hidup sehari – hari. Padahal saya bekerja.
Sejak itu saya berencana menyusun strategi baru. Mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Paling tidak pekerjaan yang membuat saya tidak perlu membebankan orangtua lagi dan syukur – syukur bisa menabung juga. Dengan banyak pertimbangan dan pemikiran pada saat itu, maka saya putuskan mencari lowongan pekerjaan lain dan menetap di Jogja untuk waktu yang belum bisa ditentukan seberapa lamanya. Setelah apply lamaran kesana kesini akhirnya saya menerima panggilan. Singkat cerita saya diterima di sebuah klinik gigi yang sudah cukup mempunyai nama di Jogja.
Namun seperti yang terjadi pada fresh graduate lainnya, tentu saya juga tidak bisa berharap atau mempunyai ekspektasi tinggi ketika bekerja di sebuah tempat. Bahwa kehidupan menjanjikan kemudahan dan keberlimpahan. Apalagi pengalaman kerja saya masih dibilang baru. Penghasilan saya di tempat kerja baru cukup untuk sendiri, memang lebih baik dari sebelumnya. Tapi beberapa masalah muncul, mungkin masalah yang tidak terpikirkan sebelumnya ketika saya memutuskan untuk tetap bekerja di Jogja. Sehingga beberapa tawaran pekerjaan di luar sana terlihat begitu mengundang.
Bukan, bukan semata – mata karena faktor ekonomi meskipun pada akhirnya pertimbangan ekonomi jadi salah satu yang tak bisa dihindari. Ada beberapa hal lain yang membuat saya akhirnya mau tidak mau harus mempertimbangkan tawaran lainnya untuk pindah. Meskipun harus diakui bahwa banyak dari tawaran tersebut tidak sejalan dengan keinginan dan harapan saya. Terkadang, yang kehidupan tawarkan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan bukan? Ya, kurang lebih seperti itulah.
Saya tidak bisa menjelaskan secara detail apa saja masalah yang akhirnya membuat saya berpikir ulang untuk keputusan berat seperti saat ini. Pada akhirnya saya kembali ke titik ini. Berada di persimpangan untuk memutuskan dengan sangat hati – hati sekali, merencanakan dengan sangat matang sekali, menyiapkan cadangan jika lagi – lagi kehidupan tidak berjalan sesuai yang diharapkan atau direncanakan. Hidup memberikan kita pilihan; jalani atau tinggalkan. Namun tidak memberikan kita pilihan; yang kita sukai dan tidak kita sukai.
Hingga pada satu waktu saya bertanya pada diri sendiri “Apa yang saya cari dalam hidup ini?”. Lalu saya jawab “Bahagia.” Jawaban klasik. Tapi bahagia dalam bentuk seperti apa saya tidak pernah tahu. Saya pernah berpikir bahwa bahagia hanya tentang diri saya sendiri. Jujur terhadap diri sendiri tentang apa yang saya inginkan, tidak perlu mempertimbangkan orang lain apalagi berusaha menjadi orang lain. Saya tidak perlu memikirkan berapa sisa uang di dompet hari ini, bukan karena hidup saya yang serba berkecukupan, tapi karena saya percaya hidup bukan hanya melulu tentang materi. Saya tidak perlu memikirkan bagaimana orang lain berpikir atau berpendapat tentang saya, karena saya yang paling tahu apa yang saya pikirkan dan rasakan sendiri. Saya tidak perlu memenuhi ekspektasi orang lain terhadap saya, karena saya punya ekspektasi sendiri mengenai hidup yang akan saya jalani. Meskipun semuanya harus dibayar dengan cap ‘egois’.
Nyatanya, kehidupan tak melulu seperti itu. Kamu harus memikirkan berapa sisa uang di dompet agar bisa makan dan tidak mati. Kamu harus memikirkan kehidupan orang lain juga yang mungkin berpengaruh atas kehadiran atau ketidakhadiranmu. Hidup mengharuskan kamu mempertimbangkan itu semua walau sebenarnya kamu berusaha untuk tidak peduli. Maka saya kembali berada pada titik ini, fase ini. Memikirkan dan mempertimbangkan banyak hal untuk mengambil keputusan dalam hidup saya yang mungkin saja berlaku untuk jangka panjang, seumur hidup mungkin. Realistis kata orang, tapi bagi saya mengenyampingkan hati kecil. Dan saya tidak tahu mana yang benar yang harus saya lakukan.
Kalau kamu? Pernahkah berada pada fase seperti ini? Apa yang kamu lakukan? Hidup realistis atau tetap mengikuti keinginan hati kecil?

Jumat, 08 Juni 2018

My Cats


Time spent with cats is never wasted (Sigmund Freud)


Perkenalkan, saya pecinta kucing.
Yang sudah lama kenal saya (dari kecil atau remaja) mungkin akan tertawa. Dulu saya phobia sekali dengan kucing. Kalau lihat kucing berjalan mendekati saya, saya sudah mulai pasang kuda – kuda akan berperang. Kalau kaki saya tersentuh bulu atau ekor kucing yang tidak sengaja lewat, maka saya akan berteriak sambil melompat – lompat seperti orang yang tidak sengaja menginjak ular cobra. Ketakutan.
Waktu kecil saya pernah diajak Ibu berkunjung ke rumah salah seorang temannya. Saya duduk di sofa dengan nyaman ketika seekor kucing lewat tidak jauh dari kaki saya. Secara spontan saya langsung teriak dan berdiri di atas sofa. Ibu sambil marah dan malu menyuruh saya turun dari sofa, tapi saya kekeuh sambil menangis tidak mau turun sampai kucing itu tidak terlihat lagi di hadapan saya. Akhirnya tidak lama dari itu Ibu langsung mengajak pulang. Hahahaha.
Pernah juga sewaktu SMP ada teman yang usil melempari saya dengan anak kucing di pangkuan saat sedang istirahat di kelas. Saya refleks menarik baju teman saya yang ada di sebelah hingga kusut sambil menangis dan membeku di tempat. Tidak berani bergerak dan anak kucingnya tiduran santai di pangkuan saya.
Itu sedikit kenangan buruk saya dengan kucing sewaktu masih phobia.
Sekarang? Wah jangan ditanya. Saya menangis bukan karena didekati kucing, tapi karena kucing saya mati. Bingung juga kenapa sekarang saya jadi cinta banget kucing. Yang saya tahu hanya saat itu di bulan Ramadhan, malam – malam sehabis tarawih ada seekor anak kucing yang mengeong – ngeong di depan pintu rumah. Sepertinya sedang kelaparan dan kedinginan. Oleh karena Ibu saya yang memang dari dulu suka kucing, beliau tidak tega dan akhirnya kasih makan si anak kucing. Keesokan harinya anak kucing itu datang lagi, minta makan mungkin. Masih dengan rasa kasihan Ibu kasih makan lagi, sembari saya hanya berani melihat dari jauh saja. Hampir setiap hari anak kucing itu datang ke rumah, sehingga perlahan saya pun mulai kasihan dan penasaran. Berawal dari mulai memberanikan diri untuk mendekat, mengelus – elus, hingga akhirnya saya berani menggendong walau masih sedikit takut. Anak kucing itu akhirnya kami pelihara dan diberi nama Mongji.
Karena Mongji lah saya akhirnya tidak phobia kucing lagi. Karena Mongji lah saya akhirnya menyukai kucing. Karena Mongji lah saya akhirnya berani memelihara kucing lainnya. Karena Mongji lah kucing pertama yang saya pelihara.

Ini adalah Mongji, si anak kucing yang bikin phobia kucing saya hilang.

Apa kabar Mongji? Saya tidak tahu. Terakhir kali yang saya tahu Mongji kabur saat Ibu titipkan dengan kenalannya karena di rumah tidak ada orang yang mengurus (orang rumah keluar kota semua). Sejak Ibu pulang Mongji tidak pernah lagi terlihat, hanya ada dua ekor anak Mongji yang masih kecil bernama Benben dan Dobi. Yang saat ini mereka berdua sudah bahagia di surga. Pertama, Dobi mati mendadak karena sakit diduga keracunan. Tidak lama setelah Dobi mati, Benben pun hilang. Saya rasa Benben juga sudah mati, karena stres ditinggal Dobi (?) saudara satu – satunya. Sebelum Dobi mati, Benben memang sudah sakit. Namun ternyata ajal lebih dulu menjemput Dobi.
Setelah kepergian Benben dan Dobi, Ibu merasa kesepian di rumah tanpa kucing. Sehingga akhirnya Ibu memutuskan untuk mencari kucing (lagi). Hahaha. Dan diadopsi lah Cilo, kucing hitam yang sampai sekarang jadi kesayangan Ibu dan Bapak di rumah. Proses pencarian nama Cilo cukup alot, seperti cari nama untuk anak.
Di Jogja, saya bersama Robi juga pernah memelihara anak kucing. Kucing kampung memang, yang diselamatkan di kantin kampus Robi saat itu. Kita beri nama Bejo, agar hidupnya selalu beruntung. Namun tidak begitu lama karena Bejo sering menghilang ketika Robi pindah kos dan dititipkan dengan salah satu temannya.

Si Tampan Bejo

Cukup lama kami tidak memelihara hewan (iya, sebelumnya kami pernah memelihara kura – kura dan tupai juga) hingga kurang lebih hampir setahun yang lalu dari salah satu IG story teman ada yang menawarkan untuk adopsi anak kucing persia. Saya dan Robi langsung tertarik hingga akhirnya kami putuskan untuk merawat anak kucing tersebut yang kami beri nama Giby.

Giby genit suka cium - cium >.<

Giby yang saat itu masih kecil dan lincah jadi kesayangan banyak orang. Kalau Giby tidak kelihatan batang hidungnya, saya dan Robi panik mencari ke sekelilinng rumah. Padahal dia hanya tidur di salah satu sudut kontrakan. Ketika Giby sakit dan tidak nafsu makan, saya dan Robi langsung panik dan bawa ke dokter hewan. Seperti dua hari yang lalu. Awalnya saya berniat untuk membawa Giby grooming karena Giby terlihat kotor sekali dan bulunya banyak rontok. Mungkin memang Giby stres karena baru pindah rumah dan kami sedang sibuk sehingga Giby kurang diperhatikan. Sesampai di petshop, pegawainya menemukan bekas luka bernanah di leher Giby. Sedikit cemas kami bawa Giby ke klinik hewan untuk diobati. Dokter bilang abses.
Stres tidak hanya sampai disitu saja. Karena saat ini kami bingung Giby akan dirawat dimana. Kos dan kantor Robi tidak membolehkan menampung Giby. Tadinya Robi berpikir untuk memberikan Giby ke salah satu temannya. Tapi saya tidak mengizinkan. Bukan, bukan karena teman Robi. Tapi karena saya tidak rela dan tidak tega berpisah dengan Giby yang sudah dirawat sejak kecil. Tapi tidak ada pilihan lain selain Giby dipelihara di kos saya yang cukup sempit. Sempat saya berpikir untuk pindah kos yang cukup luas agar Giby bisa lebih leluasa. Karena Giby terbiasa bebas sejak di kontrakan Robi sebelumnya yang sangat luas, ya dari dulu saya tidak pernah memelihara kucing di dalam kandang. Menurut saya kucing pun harus bebas dan tahu lingkungan tempat tinggalnya seperti apa. Masalah lain yang muncul adalah karena saya akan mudik, saya tetap butuh tempat penitipan untuk Giby. Setelah bertanya ke beberapa teman, akhirnya ada juga yang mau dititipkan. Mulai cari kandang, buka olx, grup pecinta kucing jogja dan tanya kemana – mana demiiii bikin Giby nyaman dan tidak stres lagi.
Masalah perkucingan ini bisa bikin senewen sekali ya.. Tapi tidak mengurangi rasa sayang saya terhadap kucing – kucing sedikit pun.
Kalau kalian ada yang seperti itu juga?

Selasa, 15 Mei 2018

Yang terluka.. Bom Surabaya 2018

Indonesia berduka. Teror bom melanda kota Surabaya beberapa hari terakhir. Seluruh televisi dan media berita online dipenuhi kabar duka akibat aksi teror bom bunuh diri ini. Dari sekian banyak berita mengenai terorisme yang terjadi di Surabaya beberapa hari terakhir, ada satu berita yang ntah mengapa menjadi yang paling memilukan bagi saya. Nanti akan saya bahas.
Tentu semua tahu berita mengenai teror bom yang meledak di tiga gereja yang ada di Surabaya. Berita ini viral dimana - mana. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara. Seluruh media membahas hal yang sama. Seluruh rakyat memasang tagar yang sama: #PrayforSurabaya #lawanterorisme #kamitidaktakut. Pelaku melibatkan seluruh anggota keluarganya, termasuk anak mereka yang masih kecil dan belum mengerti apa - apa.
Kemarin, berita mengenai salah satu korban bernama Bayu (seorang petugas keamanan gereja) yang menjadi korban martir di salah satu gereja lokasi pengeboman mencuat. Semua orang berduka. Semua orang menaruh hormat kepada sikap heroik Almarhum yang rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan banyak jemaat gereja. Lalu, profil almarhum diulas. Almarhum meninggalkan dua orang anak yang masih balita. Sedihnya luar biasa, mengenai bagaimana anak sekecil itu ditinggalkan ayahnya yang menjadi korban teror bom. Sedih membayangkan bagaimana anak sekecil itu harus tumbuh tanpa ayah, dan harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menjadi orang yang mengorbankan hidupnya untuk berjuang melindungi saudara - saudaranya yang lain. Sedih memikirkan bagaimana anak sekecil itu kelak tumbuh dewasa dengan latar belakang masa lalu yang pahit seperti ini. Meskipun semua orang mengatakan 'Nak, suatu saat kamu akan bangga mengatakan Ayahmu di Surga karena menjadi martir di gereja'.
Hari ini, pengeboman kembali terjadi. Kali ini bukan di gereja, namun di kantor polisi. Masih dengan skenario yang sama. Pelaku mengikutsertakan keluarga dalam melakukan aksi keji ini, termasuk anak anak mereka yang masih belum mengerti. Lalu, sebuah berita dan video mencuat lagi. Bukan, kali ini bukan tentang sosok pemberani yang mengorbankan hidup mereka. Tapi tentang bagaimana Allah SWT melindungi seorang gadis kecil anak pelaku teror bom itu sendiri. Video yang tersebar memperlihatkan seorang anak perempuan kecil yang selamat dari ledakan bom. Dengan sedikit kebingungan dan kesakitan anak tersebut berdiri di lokasi peledakan lalu segera diamankan pihak kepolisian untuk segera dirawat di rumah sakit.
Saya menangis pilu. Anak kecil tak berdosa itu menjadi korban paling menyedihkan. Dia terluka seperti korban lainnya. Dia juga kehilangan seluruh keluarganya, di depan mata. Seluruh keluarganya yang telah pergi dikecam habis habisan oleh seluruh orang. Dan kini dia harus bertahan sendirian. Pilu rasanya membayangkan dia akan tumbuh dewasa tanpa orangtua dan saudara, dan menerima kenyataan bahwa orangtuanya adalah pelaku bom bunuh diri itu sendiri. Pilu rasanya membayangkan bahwa dia akan tumbuh dewasa dengan kisah bahwa ia pernah terlibat dalam aksi keji itu karena tidak punya pilihan dan belum mengerti apa apa. Anak sekecil itu akan menanggung luka yang cukup dalam karena perbuatan orangtuanya.
Saya, bisa memahami kesedihan istri, orangtua atau saudara para korban yang ditinggalkan. Saya pun ikut bersedih dan berduka. Diluar itu, saya amat sangat bersedih melihat anak - anak yang ditinggalkan orangtua mereka. Terlebih anak pelaku teror bom tersebut. Mereka adalah korban paling tersakiti menurut saya. Anak anaklah korban paling tersakiti menurut saya, meskipun dia dilibatkan sebagai pelaku. Maka saya tidak habis pikir dengan berbagai komentar buruk dan kasar yang bahkan tega mengatakan "Seharusnya dia mati dan ikut ke neraka bersama orangtuanya!" Atau "Hati - hati dengan anak itu, dia bibit teroris di masa depan". What the f**k with your mind Sis!! Mereka -anak anak- itu patut dilindungi dan dibimbing. Dan itu tugas kita, bersama. Manusiawilah sebagai manusia. Memiliki hati nuranilah sebagai sesama manusia. Bagaimana bisa seorang dewasa menghakimi seorang anak kecil seperti itu. Mengapa selalu menyalahkan orang lain? Mengapa selalu mencari kambing hitam daripada berangkulan dan berbenah?
Saya sedih, amat sedih. Bahkan tidak bisa berkata - kata. "Adik adikku, lanjutkan hidupmu! Allah SWT tidak pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan umatNya. Kami selalu bersamamu." 😭😭
Ada anak kecil yang dilibatkan jadi pelaku. Anak kecil lainnya menjadi korban. Seharusnya mereka bertemu di taman bermain. Mandi bola atau bermain perosotan bersama. Lalu saling bertukar cerita tentang cita - cita mereka saat besar nanti. (Arie Kriting)

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog